Universitas Nusa Nipa
Mahasiswa Unika Ruteng Kritik Pendekatan Infrastruktur dalam Digitalisasi Pendidikan
Dalam banyak kasus, digitalisasi pendidikan masih terjebak pada pendekatan yang terlalu berfokus pada penyediaan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Paulus-Unika-Ruteng-Alberta-Nila-Ganggut.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mahasiswi Unika Ruteng menilai digitalisasi pendidikan tidak cukup hanya dengan penyediaan perangkat teknologi, tetapi harus diimbangi peningkatan kapasitas guru dan kualitas pembelajaran.
- Kesenjangan akses listrik, internet, serta kemampuan memanfaatkan teknologi masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah terpencil.
- Teknologi dan AI seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, sementara peran guru tetap penting dalam membentuk karakter, nalar kritis, dan kreativitas peserta didik.
Oleh: Mahasiswi Santu Paulus Unika Ruteng, Alberta Nila Ganggut
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Transformasi digital dalam dunia pendidikan Indonesia terus berlangsung dengan cepat. Memasuki tahun ajaran 2025/2026, berbagai sekolah mulai dilengkapi dengan perangkat teknologi seperti papan tulis interaktif (smartboard), laptop, hingga akses internet yang menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk di Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pemerintah bahkan mulai mendorong pengenalan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sejak jenjang pendidikan dasar sebagai bagian dari persiapan menghadapi perkembangan global.
Langkah ini menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional agar mampu bersaing di tingkat internasional. Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kehadiran teknologi secara otomatis mampu meningkatkan mutu pembelajaran?
Dalam banyak kasus, digitalisasi pendidikan masih terjebak pada pendekatan yang terlalu berfokus pada penyediaan perangkat. Seolah-olah kehadiran teknologi menjadi solusi utama atas berbagai persoalan pendidikan. Padahal, teknologi hanyalah alat. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh kemampuan manusia yang menggunakannya.
Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng : Pentingkah Ada Pelajaran Bahasa Daerah di Sekolah
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit perangkat bantuan pendidikan yang akhirnya jarang digunakan, bahkan tersimpan di ruang sekolah tanpa dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini umumnya terjadi karena keterbatasan kemampuan pengguna, terutama tenaga pendidik, dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar mengajar.
Meski berbagai pelatihan telah dilakukan, jumlah guru yang memperoleh pendampingan masih belum sebanding dengan kebutuhan di lapangan. Selain itu, pelatihan yang bersifat sesaat sering kali hanya berfokus pada aspek teknis penggunaan perangkat, bukan pada pengembangan kemampuan pedagogis digital.
Akibatnya, teknologi belum mampu dimanfaatkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, kreatif, dan berbasis pemecahan masalah.
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah kesenjangan digital yang masih terjadi di berbagai daerah. Persoalannya bukan hanya soal ketersediaan perangkat, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi secara efektif. Di banyak wilayah nonperkotaan, keterbatasan pasokan listrik, lemahnya jaringan internet, serta minimnya anggaran pemeliharaan menjadi hambatan nyata dalam penerapan digitalisasi pendidikan.
Jika kondisi ini tidak ditangani secara serius, digitalisasi justru berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antara sekolah-sekolah di wilayah perkotaan dan sekolah di daerah terpencil. Teknologi yang seharusnya menjadi alat pemerataan pendidikan bisa berubah menjadi faktor yang memperkuat ketimpangan.
Selain persoalan infrastruktur dan sumber daya manusia, terdapat tantangan lain yang lebih mendasar, yakni perubahan cara belajar peserta didik. Kemajuan teknologi, termasuk AI generatif, memungkinkan siswa memperoleh jawaban secara instan atas berbagai tugas akademik.
Namun, kemudahan tersebut tidak selalu sejalan dengan perkembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, maupun pemahaman yang mendalam terhadap suatu materi.
| Mahasiswa Unika Ruteng : Pentingkah Ada Pelajaran Bahasa Daerah di Sekolah |
|
|---|
| Mahasiswa Unika Ruteng: Judi Online Bisa Menghancurkan Masa Depan Mahasiswa |
|
|---|
| Mahasiswa Unika Ruteng : Bahasa Asap Rokok Bagi Masa Depan Anak |
|
|---|
| Rektor Unika Ruteng: Kampus Tak Cukup Mengajar, Harus Hadirkan Solusi bagi Masyarakat |
|
|---|
| Unika Ruteng Perkuat Tri Dharma, Dosen Didorong Hadirkan Penelitian dan Pengabdian ke Ruang Kelas |
|
|---|