Unika Santu Paulus Ruteng
Mahasiswa Unika Ruteng : Takut Tertinggal Gaya Hidup Generasi Muda
Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat kabar teman, tetapi justru berakhir merasa hidup kita kurang menarik ? Ketika melihat teman
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Odilia-Yuta-Maya-MahasiswaPendidikan-Bahasa-Ingris-Unika-Santu-Paulus-Ruteng-Manggarai.jpg)
Odilia Yuta Maya, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Ingris Unika Santu Paulus Ruteng
TRIBUNFLORES.COM,RUTENG-Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat kabar teman, tetapi justru berakhir merasa hidup kita kurang menarik? Ketika melihat teman sedang berlibur, mengikuti konser artis favorit, memiliki barang terbaru, atau membagikan pencapaian akademik dan karier, muncul perasaan bahwa kita sedang tertinggal. Fenomena inilah yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO).
Menurut saya, FOMO telah menjadi salah satu masalah yang semakin nyata di kalangan generasi muda. Di era TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya, seseorang dapat mengetahui aktivitas orang lain hanya dalam hitungan detik. Informasi yang terus mengalir tanpa henti membuat banyak orang merasa harus selalu terhubung agar tidak ketinggalan tren yang sedang viral.
Fenomena ini semakin terlihat melalui berbagai tren yang populer saat ini. Banyak anak muda merasa perlu mengikuti tren fesyen, membeli produk yang sedang ramai dibicarakan, menghadiri konser yang viral, atau mengunjungi tempat wisata yang sedang populer di media sosial.
Tidak sedikit pula mahasiswa yang merasa tertinggal ketika melihat teman-temannya mendapatkan beasiswa, mengikuti program pertukaran pelajar, memenangkan kompetisi, atau memperoleh pekerjaan lebih cepat.
Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng : Menjaga Keberagaman dan Toleransi Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Akibatnya, media sosial yang awalnya menjadi sarana hiburan berubah menjadi sumber tekanan sosial.
Menurut saya, masalah utama dari FOMO bukanlah keinginan untuk berkembang, melainkan kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan.
Kita sering membandingkan kehidupan nyata yang penuh tantangan dengan kehidupan orang lain yang telah melalui proses penyaringan sebelum diunggah ke media sosial. Yang terlihat hanyalah keberhasilan, kebahagiaan, dan pencapaian, sementara kegagalan dan perjuangan jarang diperlihatkan. Karena itu, banyak orang merasa hidupnya kurang berarti dibandingkan orang lain.
Selain itu, muncul pula fenomena doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus menggulir media sosial dalam waktu lama. Banyak pengguna menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengikuti informasi terbaru karena takut melewatkan sesuatu yang penting. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan meningkatnya kecanduan media sosial dan dapat memengaruhi kesehatan mental remaja dan dewasa muda.
Dampak FOMO tidak boleh dianggap remeh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa FOMO berkaitan dengan kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, gangguan tidur, hingga menurunnya kepuasan terhadap kehidupan. Pada era 2025–2026, sejumlah kajian mengenai Generasi Z di Indonesia juga menemukan bahwa perbandingan sosial dan FOMO menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan mental pengguna media sosial.
Menariknya, masalahnya bukan hanya soal berapa lama seseorang menggunakan media sosial. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualitas pengalaman di media sosial jauh lebih berpengaruh daripada sekadar durasi penggunaan.
Tekanan sosial, kecanduan terhadap validasi, dan perasaan harus selalu mengikuti perkembangan menjadi faktor yang lebih penting dalam memengaruhi kesehatan mental generasi muda.
Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa generasi muda perlu membangun kesadaran digital (digital awareness) dalam menggunakan media sosial. Tidak semua tren harus diikuti, tidak semua pencapaian orang lain harus dijadikan standar hidup, dan tidak semua hal yang viral memiliki nilai yang penting bagi kehidupan kita. Media sosial seharusnya menjadi alat untuk memperoleh informasi dan membangun relasi, bukan tempat untuk mengukur harga diri.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Kesuksesan bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling cepat, melainkan proses untuk mencapai tujuan sesuai kemampuan dan usaha masing-masing. Jika kita terus sibuk melihat kehidupan orang lain, kita bisa kehilangan kesempatan untuk menikmati dan menghargai perjalanan hidup kita sendiri. Karena itu, menurut saya, cara terbaik menghadapi FOMO adalah dengan lebih fokus pada perkembangan diri daripada terus membandingkan diri dengan orang lain.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Mahasiswa Unika Ruteng : Menjaga Keberagaman dan Toleransi Dalam Kehidupan Bermasyarakat |
|
|---|
| Pandangan Mahasiswa Unika Ruteng Terkait kekerasan Kalangan Remaja Belum Resmi Suami Istri |
|
|---|
| Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng Literasi Digital kebutuhan Tapi Harus Hindari Hoaks |
|
|---|
| Mahasiswa Unika Ruteng : Berpendidikan Tetapi Mengapa Tak Punya Rasa Peduli |
|
|---|