Unika Santu Paulus Ruteng
Hadapi Derasnya Banjir Informasi, Diskominfo Manggarai Dorong Penguatan Literasi Media
Di era digital, media massa dituntut untuk tetap teguh menjalankan fungsi jurnalistik yang berpegang pada objektivitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/KOMINFO-MANGGARAI-informasi.jpg)
Ringkasan Berita:
- Di tengah situasi ini, media massa dituntut untuk tetap teguh menjalankan fungsi jurnalistik yang berpegang pada objektivitas serta tanggung jawab publik.
- Pentingnya penguatan literasi media bagi masyarakat. Literasi media merupakan kemampuan dasar yang krusial agar publik mampu menilai kebenaran informasi, memilah antara fakta dan opini, serta membentengi diri dari berita palsu.
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Perkembangan teknologi digital dinilai telah mengubah lanskap konsumsi informasi masyarakat secara drastis.
Kendati berita kini dapat diakses dalam hitungan detik, derasnya arus informasi tersebut justru memicu tantangan baru berupa krisis kepercayaan publik akibat maraknya hoaks dan disinformasi.
Praktisi media kampus Unika St. Paulus Ruteng, Elvis Hadun, menyatakan bahwa di tengah situasi ini, media massa dituntut untuk tetap teguh menjalankan fungsi jurnalistik yang berpegang pada objektivitas serta tanggung jawab publik.
"Satu berita dapat dikatakan objektif apabila melalui proses verifikasi fakta, konfirmasi kepada berbagai pihak, serta tetap berpedoman pada kode etik jurnalistik," ujar Elvis saat memberikan penilaian terkait dinamika media saat ini.
Menurut Elvis, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk pers sangat bergantung pada kredibilitas sumber serta kualitas kerja jurnalisme itu sendiri. Oleh karena itu, penyajian informasi yang akurat, berimbang, transparan, dan berbasis fakta menjadi hal yang tidak dapat ditawar.
Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng Lestarikan Budaya Manggarai Melalui Tari Tiba Meka
Urgensi Literasi Media
Menanggapi melimpahnya informasi di ruang digital, Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Manggarai, Valens Onggot, menegaskan pentingnya penguatan literasi media bagi masyarakat.
Valens menilai, literasi media merupakan kemampuan dasar yang krusial agar publik mampu menilai kebenaran informasi, memilah antara fakta dan opini, serta membentengi diri dari berita palsu.
"Melalui literasi media, masyarakat dapat mengenali apakah suatu informasi benar atau tidak, sekaligus menghindari penyebaran berita bohong," kata Valens.
Lebih lanjut, Valens menyayangkan adanya kecenderungan di mana kebebasan berekspresi di ruang digital kerap disalahartikan sebagai kebebasan menyebar informasi tanpa verifikasi. Keinginan pengguna media sosial untuk menjadi yang pertama membagikan informasi sering kali menjadi pemicu meluasnya konten yang belum teruji kebenarannya.
"Karena itu, masyarakat perlu menerapkan prinsip saring sebelum sharing agar tidak menjadi bagian dari penyebaran hoaks," ucapnya menambahkan.
Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng : Takut Tertinggal Gaya Hidup Generasi Muda
Fenomena Information Fatigue
Pada kesempatan terpisah, jurnalis Jimin Efranto mengungkapkan bahwa kepercayaan publik terhadap produk berita saat ini berada dalam kondisi yang sangat dinamis. Salah satu tantangan terbesar yang muncul adalah fenomena information fatigue atau kelelahan informasi.
Kondisi tersebut membuat masyarakat dibanjiri oleh beragam konten setiap hari, sehingga batas antara produk jurnalistik profesional, opini pribadi, promosi terselubung, dan konten viral menjadi kabur.
"Akibatnya, masyarakat terkadang lebih mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi dibandingkan informasi faktual yang objektif," tutur Jimin.
Jimin menambahkan, tantangan nyata bagi jurnalis saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan (speed) dan akurasi. Tekanan algoritma media sosial yang mendorong persaingan meraih atensi publik lewat judul sensasional (clickbait), serta masifnya arus disinformasi, menuntut media bekerja lebih cermat.