Breaking News
Rabu, 20 Mei 2026

Ramadhan 2026

Jejak Hidup Ketua MUI Sikka: Agama, Pendidikan dan Kepedulian Sosial

Ketua MUI Sikka yang aktif menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama. Ia Dosen Agama Multikultural di Muhammadiyah Maumere

Tayang:
Penulis: Cristin Adal | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Jejak Hidup Ketua MUI Sikka: Agama, Pendidikan dan Kepedulian Sosial
TRIBUNFLORES. COM/ARNOLDUS WELIANTO
CERITA SOAL TOLERANSI - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Haji Muhammad Ikhsan Wahab, menceritakan pengalaman tentang toleransi di Masjid Darussalam Waioti, Maumere, Rabu (18/2/2026). Ia memastikan bahwa toleransi di Sikka sangat baik dan menerima keberagaman sebagai sumber hidup sosial yang harmonis. 

Ringkasan Berita:
  • Ketua MUI Sikka yang aktif menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama.
  • Dosen Agama Multikultural di Universitas Muhammadiyah Maumere, mengedukasi generasi tentang keberagaman.
  • Ketua panti asuhan anak yatim korban tsunami, melanjutkan warisan sosial ayahnya.

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Lahir di tanah Geliting dan besar dalam keberagaman di Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur, Haji Muhammad Ikhsan Wahab kini memikul amanah besar. 

Tak hanya melanjutkan estafet kepemimpinan sang ayah di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sikka, ia juga merawat asa anak-anak yatim piatu korban tsunami yang kini telah dewasa.

H. Muhammad Ikhsan Wahab, lahir di Geliting pada tahun 1968, perjalanan hidup Ikhsan adalah potret inklusivitas yang nyata. Ia menghabiskan masa kecilnya di bangku SDN Katolik Contoh Maumere. 

Di sekolah itu, ia belajar tentang perbedaan jauh sebelum ia mendalami teologi Islam secara formal. Persinggungan awal dengan pendidikan Katolik inilah yang tampaknya menjadi fondasi kuat bagi pandangan dunianya yang moderat.

Baca juga: Kisah Haji Muhammad Ikhsan Wahab Membaca "Teks Kehidupan" di Balik Toleransi di Sikka NTT

Merantau ke Jawa Timur

Langkah kakinya kemudian membawanya merantau ke Jawa Timur. Selama enam tahun (1982–1988), ia menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ponorogo. 

Ikhsan ditempa dalam disiplin ketat yang mengintegrasikan ilmu agama dan umum, sebuah sistem pendidikan yang kemudian ia bawa pulang ke tanah kelahirannya.

Setamat dari Gontor, ia melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Darussalam (kini UNIDA). Selama masa kuliah, ia sempat mengabdikan diri sebagai pengajar pada tahun 1988-1989. 

Namun, panggilan bakti kepada orang tua dan tanah kelahiran akhirnya membawanya pulang ke Maumere pada tahun 2000 atas permintaan sang ayah.

Melanjutkan Estafet

Kepulangan Ikhsan menjadi titik balik pengabdiannya. Ia mengikuti jejak sang ayah mengabdi di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sikka. 

Kini, ia tengah menjalani periode keduanya sebagai Ketua MUI Sikka yang dijadwalkan berakhir pada 2026 mendatang.

Di bawah kepemimpinannya, MUI Sikka tidak tampil sebagai lembaga yang eksklusif. Keterlibatannya yang aktif dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sikka membuktikan komitmennya menjaga kondusivitas wilayah. 

Sejak tahun 2014, ia juga mendedikasikan ilmunya sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Maumere, mengampu mata kuliah "Agama Multikultural" sebuah subjek yang seolah merangkum seluruh perjalanan hidupnya.

Warisan Tsunami

Namun, dari sekian banyak peran publiknya, ada satu sisi kemanusiaan yang paling melekat di hati masyarakat yaitu panti asuhan. 

Panti ini didirikan oleh ayahnya pasca-tsunami dahsyat yang meluluhlantakkan Maumere pada 1992, sebagai tempat bernaung bagi anak-anak yang kehilangan orang tua dalam bencana tersebut.

Sejak tahun 2023, Ikhsan resmi mengambil alih tanggung jawab sebagai ketua panti. Baginya, mengurus panti bukan sekadar tugas administratif, melainkan merawat monumen kemanusiaan.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved