Rabu, 22 April 2026

Simposium Internasional

Simposium Internasional di IFTK Ledalero: Singgung AI, Algoritma hingga Laudato Si

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama dengan Asian Research Center for Religion and Social Communication

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Simposium Internasional di IFTK Ledalero: Singgung AI, Algoritma hingga Laudato Si
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/HO-IFTK LEDALERO
Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero (IFTK Ledalero) resmi membuka International Symposium on Religion, Media, and Culture in Southeast Asia pada 19 Februari 2026. Simposium internasional ini berlangsung hingga 21 Februari 2026 di Auditorium Maximum Kampus 2 IFTK Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. 

Anthony Le Duc dari Asian Research Center for Religion and Social Communication menekankan bahwa agama, budaya, dan media saling terkait.

Agama selalu hadir dalam bahasa, simbol, ritus, dan praktik hidup sehari-hari, namun kini ekspresinya semakin banyak berlangsung melalui media sosial dan platform daring.

“Media tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga membentuk cara agama direpresentasikan, ditafsirkan, dan dinilai di ruang publik,” jelasnya.

Di Asia Tenggara yang majemuk, media digital berperan besar dalam membentuk persepsi publik—apakah agama dipandang sebagai sumber makna dan solidaritas atau sebagai sesuatu yang kontroversial. Oleh karena itu, dialog akademik lintas negara sangat penting untuk merespons tantangan zaman secara bijaksana.

Menghadirkan yang Sakral di Era Digital

Pada hari pertama, simposium menghadirkan pidato kunci dari Benjamina Paula G. Flor (Filipina) bertajuk “Embodying the Sacred in the Digital Age: A Communication Approach.”

Ia menjelaskan bahwa komunikasi digital telah mengubah praktik kehidupan, termasuk pengalaman beribadah. Praktik keagamaan daring bukan sekadar pengganti pertemuan fisik, tetapi bentuk rekonfigurasi kehidupan sakral.

“Yang sakral tidak hilang di ruang digital. Ia terus dihadirkan melalui praktik komunikasi, tubuh, dan teknologi,” ujarnya. Dimensi kehadiran sakral secara daring antara lain devosi pribadi, integritas, ketekunan, rasa syukur, keterlibatan aktif, dan partisipasi tulus.

Diskusi juga mengangkat perbedaan konsep “yang sakral” dan “sakramen” dalam teologi Katolik. Para peserta sepakat bahwa sakramen tetap menuntut kehadiran fisik sesuai ajaran Gereja, tetapi media digital memiliki peran penting dalam katekese, evangelisasi dan pendampingan rohani, terutama bagi umat yang terkendala jarak atau kondisi kesehatan.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved