Selasa, 19 Mei 2026

Universita Nusa Nipa

Transformasi Karyawan Melalui OJT: Kompetensi, Integritas, dan Kepemimpinan

Materi OJT KSP. Kopdit Obor Mas disusun dalam jadwal pada dasarnya dirancang secara bertahap dan sistematis untuk membangun kapasitas karyawan baru

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Transformasi Karyawan Melalui OJT: Kompetensi, Integritas, dan Kepemimpinan
TRIBUNFLORES. COM/ARNOLDUS WELIANTO
Konstantinus Pati Sanga, SE., M.S.A., Ak, Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Nipa 

 

Ringkasan Berita:Materi OJT KSP. Kopdit Obor Mas disusun dalam jadwal pada dasarnya dirancang secara bertahap dan sistematis untuk membangun kapasitas karyawan baru, mulai dari pemahaman dasar hingga keterampilan teknis

 

Oleh: Konstantinus Pati Sanga, SE., M.S.A., Ak, Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Nipa

OJT sebagai Strategi Pengembangan Kapasitas Karyawan

Kegiatan On The Job Training (OJT) Angkatan XXIX Gelombang 1 dan 2 KSP Kopdit Obor Mas yang dilaksanakan pada Tanggal 23 Februari – 7 Maret 2026 dan 16-31 Maret 2026di ikuti oleh 143 orang karyawan baru merupakan langkah strategis dalam membangun generasi muda koperasi yang berintegritas dan siap menjadi pemimpin, sejalan dengan tema “Youth Today, Leader Tomorrow”. OJT bukan hanya kegiatan pelatihan, tetapi juga cara untuk membentuk tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan organisasi di masa depan.

Materi OJT KSP. Kopdit Obor Mas disusun dalam jadwal pada dasarnya dirancang secara bertahap dan sistematis untuk membangun kapasitas karyawan baru, mulai dari pemahaman dasar hingga keterampilan teknis yang lebih kompleks.Pada tahap awal, peserta OJT diperkenalkan dengan aspek dasar kelembagaan, seperti pengenalan organisasi, budaya kerja, serta tugas dan fungsi setiap bagian. Ini penting untuk membentuk pemahaman awal tentang lingkungan kerja dan menumbuhkan sikap profesional serta loyalitas terhadap lembaga.

Selanjutnya, materi berkembang ke aspek operasional, seperti pelayanan anggota, administrasi, serta pengelolaan produk simpanan dan pinjaman. Pada tahap ini, karyawan baru dilatih untuk memahami alur kerja, prosedur pelayanan, serta keterampilan komunikasi yang efektif dalam melayani anggota.

Tahap berikutnya menekankan pada penguatan kompetensi teknis, seperti analisis kredit, pencatatan transaksi, akuntansi, dan penggunaan sistem/aplikasi kerja. Materi ini bertujuan agar karyawan memiliki ketelitian, kemampuan analitis, serta pemahaman yang baik terhadap pengelolaan keuangan lembaga.Di bagian akhir, materi OJT mengarah pada integrasi pengetahuan dan praktik, termasuk evaluasi kerja, pendampingan lapangan, serta penguatan tanggung jawab kerja. Hal ini membantu karyawan baru untuk lebih mandiri, percaya diri, dan siap menjalankan tugas secara optimal.

 

Baca juga: Jonas K.G.D. Gobang: Dari Flores, Membangun UNIPA Menjadi Kampus Berdampak untuk Dunia

 

 

Pencegahan Fraud melalui Integritas dan Pengendalian Internal

Selain kemampuan teknis, OJT juga memfokuskan pada pentingnya integritas dan pengendalian internal dalam setiap aktivitas kerja. Karyawan baru dibekali cara bekerja sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan dan memahami berbagai bentuk fraud sepertimanipulasi data, penyalahgunaan wewenang, maupun kelalaian dalam pencatatan. Karyawan yang benar-benar hebat adalah mereka yang memilih untuk bekerja secara bersih, jujur, dan dapat dipercaya. Kejujuran bukan hanya pilihan moral, tetapi juga menjadi fondasi keamanan dalam kehidupan dan karir.

Dalam konteks lembaga keuangan, koperasi menghadapi tantangan serius berupa potensi fraud yang dapat terjadi di berbagai level organisasi. Menurut Donald R. Cressey (1953), tindakan fraud terjadi karena adanya tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi(triangle of fraud).Shover dan Bryant (1993) menjelaskan bahwa variasi dalam fraud dihasilkan oleh variasi dalam peluang dan motivasi; juga keserakahan dan pola pikir yang salah.

Ini menunjukkan bahwa tindakan fraud tidak hanya terjadi karena sistem yang tidak baik, tetapi juga karena cara orang berperilaku.Oleh karena itu, pencegahan tindak fraud harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui sistem pengawasan, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan sikap karyawan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved