Minggu, 26 April 2026

Berita Ngada

Pergaulan Bebas Remaja di Ngada, Guru Jadi Orang Tua Kedua di Sekolah

Ancaman pergaulan bebas di kalangan remaja sekolah kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ngada, Provinsi NTT biar dicegah bersama.

Tayang:
Penulis: Charles Abar | Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Pergaulan Bebas Remaja di Ngada,  Guru Jadi Orang Tua Kedua di Sekolah
TRIBUNFLORES.COM/CHARLES ABAR
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada, El Watungadha, saat memberikan keterangan di Bajawa, Kamis (26/03/2026). 

Ringkasan Berita:Ancaman pergaulan bebas di kalangan remaja sekolah kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ngada.

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Ancaman pergaulan bebas di kalangan remaja sekolah kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ngada, NTT. Upaya pencegahan dini pun mulai diperkuat dengan melibatkan guru sebagai figur kunci dalam pembinaan karakter siswa.


Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada, El Watungadha, menegaskan bahwa peran guru tidak lagi sebatas pengajar di kelas, tetapi juga sebagai pendamping utama bagi kehidupan sosial dan psikologis peserta didik.

“Kita mendorong bahkan mewajibkan guru tidak hanya menjadi wali kelas, tetapi juga menjadi ‘wali murid’ bagi setiap siswa. Guru harus mengenal pribadi anak, karakter, pergaulan hingga perkembangan akademiknya,” ujar El di Bajawa, Kamis (26/03/2026).


Menurutnya, pendekatan ini menjadi langkah strategis untuk mencegah pergaulan bebas sejak dini. Dengan kedekatan emosional antara guru dan siswa, berbagai persoalan yang dihadapi anak diharapkan dapat terdeteksi lebih awal.

 

Baca juga: Cerita Nensi, Gendong Bayi saat Ikut Ujian di PKBM Pelihara Nagekeo NTT

 

Ke depan, Dinas Pendidikan juga akan memperkuat kapasitas guru melalui edukasi khusus agar mampu menjadi tempat curhat yang aman dan nyaman bagi siswa.

“Harapannya, anak-anak bisa lebih terbuka terhadap masalah yang mereka hadapi, sehingga guru dapat membantu mencarikan solusi,” jelasnya.

Tak hanya di jenjang SMP, perhatian terhadap kondisi psikologis siswa juga diperluas hingga tingkat sekolah dasar (SD). Pemerintah bahkan mendorong keberadaan guru pendamping atau BPPK di semua jenjang pendidikan.

El menilai, persoalan psikis tidak lagi mengenal usia. Anak-anak SD pun kini mulai menghadapi tekanan emosional yang membutuhkan pendampingan serius, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga tidak utuh (broken home).

“Anak SD juga mengalami masalah psikis. Mereka perlu didampingi, dibantu mengenali karakter dan mengembangkan potensi dirinya,” tambahnya.

Ia berharap, sekolah dapat menjadi “rumah cerita” bagi siswa—tempat aman untuk berbagi dan mendapatkan solusi atas persoalan yang dihadapi.

“Kita harus hadir mendampingi, karena kehidupan anak di rumah dan di sekolah seringkali berbeda. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting,” tegas El.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved