Ramadhan 2026
Ramadan di Maumere: Pelajaran Toleransi, Demokrasi, dan Kehidupan
Jalanan dipenuhi oleh suara penjual takjil, bunyi sepeda motor, tawa anak-anak yang berlarian sambil membawa kantong plastik kolak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/SOSOK-Harun-Al-Rasyid-Anggota-KPU-Kabupaten-Sikka.jpg)
Oleh: Harun Al Rasyid (Anggota KPU Kabupaten Sikka)
TRIBUNFLORES.COM- Sore di Maumere selalu memiliki aroma yang berbeda ketika bulan Ramadan tiba. Matahari merunduk rendah di ufuk barat, sementara langit di atas Kampung Beru memerah hangat, seakan menandai waktu berbuka.
Jalanan dipenuhi oleh suara riuh penjual takjil, bunyi sepeda motor, serta tawa anak-anak yang berlarian sambil membawa kantong plastik berisi kolak atau gorengan. Pasar takjil bukan sekadar tempat membeli makanan; ia menjadi ruang publik yang mengajarkan nilai-nilai sosial, toleransi, dan demokrasi setiap hari.
Mayoritas penduduk Kampung Beru beragama Islam, tetapi menarik bahwa banyak warga non-Muslim turut hadir membeli takjil. Seorang pria Kristen tampak menawar kue cucur dari seorang ibu berjilbab.
Senyum mereka beradu, suara mereka saling menyapa, dan interaksi sederhana ini menunjukkan bahwa demokrasi dan toleransi bukan sekadar teori atau slogan, melainkan praktik hidup yang lahir dari kesadaran moral dan empati.
Baca juga: Jejak Hidup Ketua MUI Sikka: Agama, Pendidikan dan Kepedulian Sosial
Nurcholish Madjid menegaskan bahwa toleransi muncul bukan dari formalitas hukum, melainkan dari interaksi sosial nyata ketika manusia menghargai perbedaan dengan hormat. Kampung Beru menjadi cerminan prinsip tersebut yang tecermin dalam tawa, tawar-menawar, dan kebersamaan para pembeli serta penjual.
Puasa Ramadan, selain disiplin fisik menahan lapar dan dahaga, mengajarkan kesadaran kolektif. Ali Syari’ati menekankan bahwa ibadah sejati membangun kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap sesama manusia. Nilai ini muncul ketika seorang penjual kecil menawarkan kolak dengan harga lebih murah kepada keluarga kurang mampu yang datang.
Kesadaran moral ini lahir dari nilai puasa, tanpa paksaan atau pengumuman resmi. Anak-anak belajar menunggu giliran, menghargai antrean, dan memahami bahwa kepentingan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi sebuah pelajaran demokrasi mikro yang sederhana namun mendasar.
Universitas Muhammadiyah Maumere menawarkan dimensi lain dari demokrasi. Mahasiswa dan dosen dari berbagai agama duduk berdampingan, berdiskusi, serta bertukar gagasan tanpa rasa takut. Topik diskusi bisa beralih dari ekonomi syariah, etika lingkungan, hingga filsafat politik, sementara semua suara dihargai.
Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa demokrasi yang sehat lahir ketika masyarakat menghormati perbedaan dan menegakkan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip tersebut diwujudkan di sini: keberagaman bukan hambatan, melainkan kekayaan yang memperkaya proses belajar dan menumbuhkan rasa saling menghormati.
Baca juga: Semarak Ramadhan di Kota Maumere, Jalan El Tari Jadi Destinasi Baru Berburu Takjil