Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Opini: Memaknai Sabotase Diri Dalam Budaya Literasi

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan untuk memproses informasi dan mengambil keputusan y

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Opini: Memaknai Sabotase Diri Dalam Budaya Literasi
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/HO- Piet Kpalet Lebao
Piet Kpalet Lebao, Guru SMKN 3 Maumere 

Ringkasan Berita:
  • Bentuk penghalang dalam literasi bisa halus, misalnya menyebarkan informasi tanpa membaca, menolak sudut pandang lain, atau mengutamakan informasi dangkal.
  • Biasanya muncul dari rasa takut gagal, zona nyaman, dan tekanan arus informasi cepat yang membuat orang lebih mudah menerima hoaks atau informasi dangkal.
 

Oleh Piet Kpalet Lebao, Guru SMKN 3 Maumere

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Sebagai rekan diskusi di bidang literasi, saya melihat kata "sabotase" sebagai pemantik yang sangat menarik untuk dibahas.

Biasanya kita mengaitkan sabotase dengan aksi fisik atau spionase, namun dalam konteks literasi dan pengembangan diri, bentuknya sering kali lebih halus dan berbahaya.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan untuk memproses informasi dan mengambil keputusan yang tepat. Sering kali, penghambat terbesar literasi bukan kurangnya sumber daya, kurangnya referensi, melainkan Sabotase Diri.

Budaya Literasi merupakan sebuah upaya menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat. Hal ini melibatkan:

 

Baca juga: Imigrasi Maumere Perkenalkan Poltekpin, Dorong Pelajar SMKN 3 Maumere Tempuh Pendidikan Kedinasan

 

 

  • Literasi Dasar: kemampuan membaca, menulis, menghitung, dan berbicara.
  • Literasi Digital: kemampuan menggunakan teknologi informasi secara bijak.
  • Literasi Kritis: kemampuan menganalisis informasi agar tidak terjebak dalam "sabotase" hoaks atau manipulasi data.

Jadi, berkaitan dengan budaya literasi sebagai upaya pembiasaan agar aktivitas intelektual menjadi jantung kegiatan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Memaknai kata Sabotase merupakan tindakan merusak atau mengganggu suatu rencana, sistem, atau kegiatan dengan sengaja agar tidak berjalan dengan baik. Tindakan ini biasanya dilakukan secara diam-diam dan sering kali sulit diketahui pelakunya. Sabotase dapat terjadi di berbagai bidang, seperti dalam pekerjaan, organisasi, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang dengan sengaja merusak alat kerja agar pekerjaan orang lain menjadi terhambat.

Perilaku sabotase dapat menimbulkan kerugian bagi banyak pihak karena dapat merusak kepercayaan, menghambat kemajuan, dan menimbulkan konflik.

Oleh karena itu, penting bagi setiap orang agar menjunjung tinggi kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab sehingga lingkungan kerja maupun lingkungan sosial tetap berjalan dengan kondusif.

Dalam konteks literasi, sabotase adalah tindakan sadar atau tidak sadar yang menghalangi seseorang untuk menyerap ilmu atau berpikir kritis. Sebagai misal: membaca judul berita lalu langsung menyebarkannya tanpa membaca isinya. Ini merupakan salah satu bentuk sabotase terhadap nalar kritis diri sendiri.

Mari kita cermati perbandingan perilaku literasi yang sehat dengan perilaku sabotase:

Aspek Literasi Sehat - Sabotase Literasi:

  • Fokus -  Membaca mendalam
  • Sumber  - Memverifikasi berbagai sudut pandang
  • Sikap - Terbuka pada kritik dan argumen baru
  • Output - Menghasilkan karya atau pemahaman baru
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved