Kamis, 21 Mei 2026

Kesehatan Mental

Perkuat Kesehatan Mental, Berdaya bagi Diri Sendiri dan Sekitar Kita

Apakah kamu baik-baik saja? Aku peduli padamu." Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi jangkar yang mencegah seseorang hanyut lebih jauh.

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Perkuat Kesehatan Mental, Berdaya bagi Diri Sendiri dan Sekitar Kita
TRIBUNFLORES.COM/HO- AGNESTA
SOSOK - Agnesta Silviana B Radja, mahasiswa magister Psikologi Unika Soegijapranata. 

Oleh: Agnesta Silviana B. Radja, Mahasiswa Magister Psikologi Unika Soegijapranata

TRIBUNFLORES.COM - Setiap angka dalam data akhiri hidup merepresentasikan kehilangan nyata satu penerus bangsa, mimpi yang terhenti, dan meninggalkan wajah pilu keluarga yang menanggung duka berkepanjangan. 

Keprihatinan beranjak dari fakta yang dilansir dari laman website Layanan Pemerintah Kabupaten Sikka, dalam tiga tahun terakhir tercatat 25 kasus tindakan mengakhiri hidup dan percobaan mengakhiri hidup (Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, 13 Mei 2026). Mengawali tahun 2026 Kabupaten Sikka sudah digemparkan dengan kasus akhiri hidup yang bukan hanya sekali dua kali terjadi.

Fenomena yang tertuang dalam laporan WHO (2023) bahwa setiap 40 detik satu orang meninggal akibat tindakan akhiri hidup di dunia. Tindakan akhiri hidup dipengaruhi oleh interaksi kompleks faktor biologis, psikologis, dan sosial (Turecki et al., 2019, Lancet Psychiatry).

Mengkhawatirkan lagi, data menunjukkan tren peningkatan jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang konsisten: dari 1.179 orang pada tahun 2023, meningkat menjadi 1.220 pada tahun 2024, dan mencapai 1.241 pada tahun 2025, dengan 1.236 orang tercatat pada Triwulan I tahun 2026 (Dinkes Kabupaten Sikka, 2026). Trajektori yang adalah peringatan dan tidak boleh kita abaikan.

Baca juga: Analisis Psikolog FKM Undana Kupang atas Meningkatnya Kasus Bunuh Diri di NTT

Data ini menjadi cermin kondisi kesehatan mental kolektif yang membutuhkan perhatian mendesak dari seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga masyarakat telah beberapa kali melakukan upaya preventif pencegahan dan sosialisasi terkait pencegahan tindakan akhiri hidup. Oleh karena itu, strategi pencegahan harus bersifat multidimensional dan sistematis pada setiap lapisan masyarakat. Tujuan penulisan ini bukan untuk mendiskreditkan siapa pun, melainkan mengajak kita semua, tanpa terkecuali, memiliki peran dalam upaya pencegahan.

Pentingnya memahami tindakan mengakhiri hidup merupakan sebuah proses, bukan peristiwa tunggal. Salah satu kesalahpahaman paling berbahaya di masyarakat adalah menganggap tindakan mengakhiri hidup sebagai keputusan impulsif yang datang tiba-tiba. Temuan ilmiah menunjukkan sebaliknya. Tindakan mengakhiri hidup bukan merupakan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan titik akhir dari suatu proses yang disebut suicidal process, sebuah kontinum yang berkembang dari pikiran ke tindakan (Van Heeringen, 2000, dalam Park et al., 2020).

Dalam proses ini, keputusasaan muncul pertama kali sebagai respons terhadap tekanan lingkungan. Ia kemudian melahirkan ide sesaat tentang mengakhiri hidup, yang perlahan berkembang menjadi rencana yang lebih terstruktur, dan akhirnya upaya nyata yang semakin berulang dengan intensitas yang meningkat (Park et al., 2020). Memahami proses ini adalah kunci bahwa setiap tahapan adalah jendela intervensi yang masih terbuka bagi kita semua. 

Baca juga: BEM Unipa Maumere Gelar Seminar Kesehatan Mental, Edukasi Kalangan Muda, Cegah Bunuh Diri

Untuk diketahui bahwa hingga saat ini, belum ada biomarker, tes laboratorium, maupun pencitraan medis yang tersedia secara klinis untuk mengidentifikasi individu yang berada dalam risiko (Ryan & Oquendo, 2020). Artinya deteksi dini sangat bergantung pada kepekaan manusia di sekitar individu, yakni keluarga, tetangga, guru, teman, atau siapa pun relasi sosialnya, bukan semata pada sebuah alat diagnostik. Jangan biarkan tanda-tanda peringatan yang tampak yang kerap terlewatkan.

Literatur ilmiah mengidentifikasi sejumlah tanda peringatan yang dapat muncul sebelum tindakan mengakhiri hidup terjadi. Rudd et al. (2006) mengusulkan tanda-tanda peringatan yang perlu diwaspadai, antara lain keputusasaan yang mendalam, amarah yang tak tersalurkan, perasaan terjebak tanpa jalan keluar, penarikan diri secara sosial secara tiba-tiba, agitasi, serta kecemasan yang intens. 

Menggambarkan bahwa pada hari-hari sebelum kejadian, sering kali muncul kecemasan dan agitasi yang meningkat (Busch et al., 2003), ide yang semakin eksplisit tentang mengakhiri hidup (Ribeiro et al., 2019), gejala psikotik (Britton et al., 2012), serta suasana hati yang sangat tertekan (Fredriksen et al., 2022).

Dalam konteks keseharian, tanda-tanda tersebut dapat tampak sebagai ucapan bernada perpisahan seperti "tidak ada gunanya lagi" atau "semua akan lebih baik tanpa aku", penarikan diri mendadak dan berkepanjangan dari lingkaran sosial, perubahan mood ekstrem dari kesedihan mendalam menjadi ketenangan tiba-tiba yang tidak wajar, memberikan barang-barang berharga kepada orang lain tanpa alasan yang jelas, kehilangan minat secara persisten terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai, ekspresi keyakinan kuat bahwa "tidak ada jalan keluar" dari situasi yang dihadapi.

Jika Anda mengenali tanda-tanda ini pada seseorang di sekitar Anda, jangan ragu untuk menyapa dan bertanya langsung dengan penuh empati: "Apakah kamu baik-baik saja? Aku peduli padamu." Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi jangkar yang mencegah seseorang hanyut lebih jauh.

Secara eksplisit menekankan bahwa respons terhadap krisis kesehatan mental ini tidak dapat bertumpu hanya pada sektor kesehatan saja. Pencegahan adalah tanggung jawab kita bersama mulai dari keterlibatan aktif pada sistem makro (kebijakan pemerintah dan institusi), meso (komunitas, sekolah, tempat ibadah), hingga mikro, titik yang paling melekat keseharian pada setiap individu seperti keluarga, teman, sahabat, dan orang-orang terdekat. 

Windfuhr (2008) menegaskan bahwa strategi pencegahan yang efektif harus beroperasi pada tiga tingkatan: universal (mencakup seluruh populasi), selektif (menargetkan kelompok berisiko tinggi), dan indikatif (berfokus pada individu yang menunjukkan tanda-tanda). Ketiganya harus berjalan secara sinergis, bukan terpisah-pisah.

Intervensi dukungan sosial telah terbukti secara empiris sebagai salah satu strategi pencegahan yang paling direkomendasikan bagi individu berisiko tinggi (Hou et al., 2021). Dukungan sosial bukan berarti selalu harus berupa konseling profesional; sering kali, kehadiran fisik yang tulus, pendengaran yang aktif, dan perhatian yang konsisten dari orang-orang terdekat jauh lebih bermakna.

Hambatan terbesar yang harus kita lawan bersama di balik peristiwa ini yang jarang dibicarakan secara terbuka ialah stigma. Di lingkungan relasi sosial kita, gangguan kesehatan mental masih sering dipandang sebagai aib, kelemahan moral, atau bahkan tanda kerasukan. 

Persepsi keliru ini membawa konsekuensi serius, individu yang menderita memilih diam, menyembunyikan rasa sakitnya, dan tidak berani mencari bantuan. Perlu dipahami secara kolektif gangguan kesehatan mental adalah kondisi psikis, bukan pilihan, bukan kelemahan karakter, dan bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan diam.

Setiap individu memiliki kapasitas untuk berperan, bagi diri sendiri dan orang lain sekitar kita. Satu langkah konkret yang dapat kita ambil hari ini adalah tingkatkan literasi kesehatan mental, edukasi diri melalui sumber-sumber terpercaya adalah langkah pertama yang paling fundamental untuk bisa berdaya bagi diri sendiri dan menolong sekitar kita. 

Di peradaban modern ini, gunakan media digital untuk mengakses beragam informasi dan pengetahuan yang bermanfaat. Sehingga dengan banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki kita cukup paham untuk bertindak. Saat ini dibutuhkan kemauan kolektif untuk mengubah pemahaman tersebut menjadi tindakan nyata di keluarga, di lingkungan RT/RW, di sekolah, di tempat kerja, dan di gereja maupun masjid dan tempat ibadah lainnya.

Kurangi akses sarana yang berbahaya dan tontonan media yang menampilkan konten berbahaya. Bukti menunjukkan bahwa pembatasan akses terhadap alat-alat yang berpotensi mematikan berkorelas langsung dengan penurunan angka kejadian (Ryan & Oquendo, 2020). Di level keluarga, ini berarti menyimpan benda-benda berbahaya dengan aman, terutama jika ada anggota keluarga yang sedang dalam kondisi rentan. 

Bangun jaringan dukungan sosial yang autentik. Intervensi dukungan sosial terbukti efektif sebagai strategi pencegahan (Hou et al., 2021). Jangan biarkan orang-orang di sekitar Anda merasa sendirian dalam perjuangan mereka. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan, dorong untuk mencari bantuan dari tenaga profesional psikolog klinis atau psikiater. Jadilah pendengar aktif ketika seseorang berbagi kesulitannya, hadirlah sepenuhnya. Tidak perlu memberikan komentar apalagi kata-kata menghakimi. Perasaan didengar dan dipahami sudah cukup untuk memberi seseorang kekuatan untuk bertahan.

Fakta yang tertuang dalam data Kabupaten Sikka menjadi sinyal keras, jangan lengah hingga angka itu terus bergerak bebas. Merawat kesehatan mental bukanlah kemewahan, ini kebutuhan mendasar yang sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Marilah kita tidak lagi mengabaikan seseorang yang sedang berjuang dalam sunyi di sekitar kita.

Baca Artikel TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved