Cuaca Ekstrem di Sikka
4 Hari Tidak Melaut Akibat Cuaca Ekstrem, Nelayan di Mauloo, Sikka Sulit Nafkahi Keluarga
Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda wilayah pesisir selatan Pulau Flores berdampak serius bagi nelayan.
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/LIHAT-PERAHU-Seorang-nelayan-di-Desa-Mbengu-Kecamatan-Paga-Kabupaten-Sikka.jpg)
Ringkasan Berita:
- Nelayan di Desa Mbengu, Sikka tidak melaut 4 hari akibat cuaca ekstrem (angin kencang & gelombang tinggi).
- Penghasilan hilang, banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok dan harus memakai tabungan.
- Harapan nelayan: pemerintah memberikan bantuan, karena sebagian besar warga menggantungkan hidup dari melaut.
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda wilayah pesisir selatan Pulau Flores berdampak serius terhadap aktivitas nelayan di Kabupaten Sikka.
Akibat kondisi tersebut, ratusan nelayan di Desa Mbengu, Kecamatan Paga, terpaksa menghentikan aktivitas melaut selama empat hari terakhir.
Pantauan TribunFlores.com, Selasa (20/1/2026), puluhan kapal motor, baik berukuran besar maupun kecil (sampan), tampak terparkir di kolam labu tepat di depan Kampung Mauloo.
Para nelayan hanya bisa berkumpul di sekitar pantai sambil berharap cuaca segera membaik.
Baca juga: BMKG: Potensi Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Wilayah Selatan Indonesia hingga 26 Januari 2026
Sulit Memenuhi Kebutuhan
Cuaca buruk ini membuat para nelayan kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga.
Pasalnya, sebagian besar nelayan di wilayah tersebut sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil melaut.
Sejumlah nelayan mengaku selama empat hari tidak melaut, mereka tidak memiliki penghasilan sama sekali.
Kondisi itu membuat mereka kesulitan membeli beras dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Sudah empat hari tidak melaut, kami dapat uang dari mana. Jadi terpaksa kerja buruh di darat dulu untuk sementara sambil menunggu cuaca membaik,” ujar salah satu nelayan kepada TribunFlores.com, Selasa (20/1/2026).
Hal senada disampaikan Petrus Paru, nelayan asal Desa Mbengu, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka.
Ia mengatakan selama cuaca ekstrem berlangsung, tidak ada pemasukan bagi keluarganya sehingga harus mengandalkan tabungan.
“Selama empat hari tidak melaut ini kami tidak punya pendapatan sama sekali. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terpaksa kami bongkar uang simpanan bulan-bulan kemarin untuk dipakai dulu. Itu pun belum cukup untuk makan minum, anak sekolah, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” ujarnya.
Berdasarkan pengalaman para nelayan, cuaca ekstrem pada awal tahun seperti ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal Februari.
“Kalau kondisi seperti ini mulai di bulan Januari, bisa sampai bulan Februari. Kadang hanya satu minggu, kadang juga bisa sampai dua bulan,” terang Petrus.