Tradisi Suku Bajo di Nangahale
Melihat Atraksi Tari Manca dalam Tradisi Pernikahan Suku Bajo di Nangahale Sikka
Tarian ini memadukan ketangkasan fisik dan nilai spiritual ini merupakan bentuk perlindungan sekaligus simbol marwah pengantin.
Penulis: Cristin Adal | Editor: Hilarius Ninu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Tari-Manca-Suku-Bajo-di-Nangahale-Sikka.jpg)
Ringkasan Berita:
- Tradisi bela diri Manca menjadi pusat perhatian dalam prosesi jelang pernikahan warga Suku Bajo, Andar dan Fitriani, di Dusun Namandoi, Desa Nangahale, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (6/6/2026).
- Tarian yang memadukan ketangkasan fisik dan nilai spiritual ini merupakan bentuk perlindungan sekaligus simbol marwah bagi pasangan pengantin.
- Manca bukan sekadar atraksi seni. Dalam tradisi masyarakat Bajo, tarian ini berfungsi sebagai fondasi etika dan disiplin diri.
TRIBUNFLORES.COM, MAUMEE – Tradisi bela diri Manca menjadi pusat perhatian dalam prosesi jelang pernikahan warga Suku Bajo, Andar dan Fitriani, di Dusun Namandoi, Desa Nangahale, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (6/6/2026).
Tarian yang memadukan ketangkasan fisik dan nilai spiritual ini merupakan bentuk perlindungan sekaligus simbol marwah bagi pasangan pengantin.
Bukan Sekadar Tradisi
Haji Najamudin, tokoh pelestari Manca di Dusun Namandoi, menjelaskan bahwa Manca bukan sekadar atraksi seni. Dalam tradisi masyarakat Bajo, tarian ini berfungsi sebagai fondasi etika dan disiplin diri.
”Manca hadir untuk menjaga martabat anak muda agar mereka merasa nyaman dan terlindungi. Dalam prosesi pernikahan, tarian ini berfungsi sebagai pengawal agar pesta berjalan khidmat,” ujar Najamudin di sela-sela kegiatan.
Baca juga: Jaga Tradisi, Pernikahan Suku Bajo di Nangahale Sikka Hidupkan Lagi Tari Manca hingga Kurintigi
Menurut Najamudin, terdapat aturan ketat dalam pementasan Manca yang terbagi dalam empat jurus utama. Prosesi belajar yang membutuhkan waktu berbulan-bulan ini mencapai puncaknya pada ritual ”guru kasih mandi”, yang diyakini membantu murid dalam memahami langkah-langkah sakral serta melatih kesabaran batin.
Di sisi lain, Salman Al Farisi, seorang pamanca muda, menyoroti filosofi pedang (pedah) dalam tarian tersebut sebagai cerminan manajemen konflik dalam rumah tangga.
Ia mengibaratkan dua pesilat yang beradu ketangkasan namun berakhir dengan jabat tangan sebagai wujud kedewasaan.
”Filosofi pedang dalam Manca sangat personal bagi pengantin. Masalah dalam berumah tangga bisa jadi lebih tajam dari pedang ini. Namun, Manca mengajarkan pasangan untuk menghadapi masalah bersama-sama dan menyelesaikannya dengan bijaksana,” ungkap pemuda yang karib dipanggi Faris ini.
Baca juga: Warga Pulau Parumaan Sikka Andalkan Perahu untuk Berbelanja Kebutuhan Lebaran di Kota
Tantangan Regenerasi
Meski menjadi identitas penting masyarakat maritim Bajo, pementasan Manca kini cenderung terbatas pada acara-acara besar.
Minimnya fasilitas menjadi tantangan nyata bagi regenerasi tradisi ini. Saat ini, kegiatan latihan bagi generasi muda di Dusun Namandoi masih dilakukan berpindah-pindah.
Najamudin dan Faris berharap pemerintah daerah dapat memfasilitasi pembangunan sanggar seni yang representatif di Dusun Namandoi.
Kehadiran sanggar dinilai penting agar anak-anak usia dini di wilayah tersebut dapat terus mendalami warisan leluhur mereka secara konsisten.
Melalui bimbingan sesepuh dan semangat regenerasi, tradisi Manca terus bertahan sebagai fondasi kehidupan yang harmonis bagi masyarakat Bajo.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News