Berita NTT
Dari TikTok untuk Rumah Lansia, Kisah Bripka Fabianus Byando Mere di NTT
Ia selalu berada di tengah masayarakat, membantu serta memberikan sebuah harapan agar tak boleh menyerah menjalankan roda kehidupan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/POSE-BERSAMA-Brigadir-Polisi-Kepala-Bripka-Fabianus-Byando-Mere-39-pose.jpg)
Ringkasan Berita:
- Bripka Ando dari NTT membangun rumah layak huni untuk nenek Adolfina dan dua cucunya.
- Penggalangan dana dilakukan melalui media sosial TikTok, melibatkan netizen secara luas.
- Menunjukkan aparat polisi bisa berinovasi membantu masyarakat dengan cara kreatif dan berdampak sosial.
TRIBUNFLORES.COM, SOE - Seorang anggota Polisi di Pedalaman Nusa Tenggara Timur menebarkan kisah inspirasif.
Ia selalu berada di tengah masayarakat, membantu serta memberikan sebuah harapan agar tak boleh menyerah menjalankan roda kehidupan. Aksi yang ia lakukan rupanya sederhana, namun menjadi sebuah berkat bagi orang lain.
Kisah ini yang membuat banyak orang kagum dan memberikan apresiasi. Berikut ini adalah kisah inspiratif tentang sosok anggota Polisi yang rendah hati itu.
Baca juga: Polres Ende Gelar Rekonstruksi, 12 Adegan Diperagakan Oknum Polisi di Tiga TKP
Desa Pedalaman
Sebuah sepeda motor dinas jenis Honda Versa melaju pelan menembus jalan panjang dari Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), menuju sejumlah desa di pedalaman.
Di tangkinya tertera tulisan Bhabinkamtibmas. Pengendaranya, Brigadir Polisi Kepala (Bripka) Fabianus Byando Mere (39).
Laju sepeda motor terhenti di rumah sederhana milik Adolfina Nenosaet, seorang janda lansia di Desa Sini.
Bripka Ando, sapaan akrab Fabianus lantas turun dari sepeda motornya berjalan perlahan masuk ke dalam rumah yang letaknya sedikit menanjak.
Dia mengambil telepon selulernya lalu merekam kondisi rumah nenek Adolfina.
Rumah itu berdinding kayu tua, berlantai tanah, dan beratap seng yang menahan panas siang seadanya.
Di dalamnya, Adolfina hidup bersama dua cucunya yang telah yatim piatu, Midel (12) dan Titin (10).
Ruang tamu mereka merangkap tempat menyimpan jagung, tas-tas lusuh, dan lemari kayu yang lapuk dimakan usia.
Di dapur kecil beratap daun gewang yang letaknya berada di bagian belakang dan terpisah dari rumah, sebuah dipan kayu tanpa kasur menjadi tempat tidur bertiga.
Di sudut lain, tungku kayu bakar berdiri berdampingan dengan jeriken air lima liter dan peralatan masak yang tak pernah terganti.
Meski serba terbatas, Adolfina tak pernah membiarkan cucunya berhenti sekolah. Dari hasil menjual ayam dan bantuan langsung tunai dana desa, ia menutup kebutuhan pendidikan mereka.
Makan mereka sederhana, jagung rebus dengan sambal cabai. Namun harapan tetap menyala.