Berita NTT
Ekonomi NTT Tumbuh 2,37 Persen Tertinggal Secara Nasional
Penebalan PPPKM berkontribusi terhadap perekonomian NTT triwulan III tahun 2021 tumbuh 2,37 persen, lebih rendah dari pertumbuhan nasional 3,51 yoy
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/PTBI-Kupang.jpg)
Laporan Reporter TRIBUN FLORES.COM, Irfan Hoi
TRIBUN FLORES.COM,KUPANG- Secara tahunan perekonomian Provinsi NTT pada triwulan III tumbuh 2,37 persen. Angka ini lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3, 51 yoy.
Kepala Kpw Bank Indonesia (BI) NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan pertumbuhan ekonomi triwulan III di NTT tumbuh melambat dibanding triwulan sebelumnya disebabkan meningkatnya kasus Covid-19.
"Pemerintah menerapkan penebalan PPKM yang kita sebut PPKM darurat dan ada leveling maupun pembatasan masyarakat meminimalisir penyebaran," katanya dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Kupang, Rabu 23 November 2021.
Sumber pertumbuhan ekonomi di NTT pada triwulan III ditopang oleh lapangan usaha konstruksi, perdagangan dan pertanian. Sedangkan kontributir pemulihan ekonomi dari sisi pengeluaran bersumber dari investasi dan konsumsi rumah tangga.
Baca juga: Upah Minimum Provinsi NTT 2022 Naik Rp 25 Ribu
Dikatakannya, pertumbuhan ekonomi di triwulan III ini masih didominasi doleh pertanian dengan pangsa sebesar 29 persen, diikuti administrasi pemerintahan dan perdagangan. Kedua sektor pemerintahan dan pedagang menjadi pendorong utama.
I Nyoman menjelaskan, dari sisi perkembangan harga, inflasi di Provinsi NTT Ssepanjangan tahun 2021 tetap terjaga dan stabil. Sampai bulan Oktober 2021 inflasi tercatat 1,34 persen yoy.
Secara umum inflasi disebut meningkat sejalan dengan permintaan masyarakat pasca pemulihan ekonomi. BI mengapresiasi segala upaya yang dilakukan bersama tim pengendali yang berada di provinsi dan daerah.
Tim itu bekerja dalam empat kerangka yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.
Baca juga: Wakil Gubernur Terpilih Aklamasi Pimpin PMI NTT
"Seroja pada bulan April mendorong inflasi naik secara tajam mencapai 0,82 persen. Tapi berkat koordinasi dengan TPID yang kuat, inflasi berangsur melandai sampai dengan saat ini," ujarnya.
Kerja TPID itu dilakukan melalui meeting high level dari di Kota Kupang dan provinsi NTT. Selain itu, TPID juga memantau stok barang secara berkala dan sidak di pasar. I Nyoman berujar Tahun 2021 lalu TPID provinsi NTT menjadi nominasi TPID terbaik dalam TPID award tahun 2020.
Sementara itu, stabilitas keuangan menurutnya sejauh ini tetap terjaga meski dalam situasi Pandemi. Penghimpunan dana pihak ketiga di perbankan sampai dengan Oktober tumbuh sebesar 1,02 persen yoy.
Begitu juga dengan kinerja DPK yang diindikasi menguat dengan ditopang tabungan deposito yang juga mendominasi pangsa DPK secara keseluruhan. Sementara itu, giro masih mengalami kontraksi karena transaksi pemerintahan daerah.
Baca juga: DPW PAN NTT Gelar Muscab dan Konsolidasi Serentak
Untuk penyaluran kredit perbankan tumbuh 7,85 persen yoy. I Nyoman menyebut hal itu terus tumbuh hingga bulan Oktober 2021. Pertumbuhan itu seiring dengan pemulihan ekonomi. Meski demikian, resiko kredit tetap terjaga.
"Tercermin dari NPL gross 1,69 persen," ucapnya.