Berita Flores Timur

Siprianus Ungkap Penyebab Flores Timur Belum Terapkan Satu Harga Minyak Goreng

Meski demikian untuk di Kabupaten Flores Timur, penerapan satu harga minyak goreng belum dilakukan baik di pihak distributor maupun di pasar.

Editor: Gordy Donovan
TRIBUN FLORES.COM/AMAR OLA KEDA
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Flores Timur, Siprianus Ritan. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Amar Ola Keda

TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) baru minyak goreng Rp11.500 per liter mulai 1 Februari 2021 lalu.

HET untuk minyak goreng curah ditetapkan dengan harga Rp11.500 per liter, kemasan sederhana Rp13.500 ribu per liter, dan kemasan premium Rp14 ribu per liter.

Meski demikian untuk di Kabupaten Flores Timur, penerapan satu harga minyak goreng belum dilakukan baik di pihak distributor maupun di pasar tradisional.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Flores Timur, Siprianus Ritan mengatakan sejak penetapan satu harga oleh pemerintah pusat, pihaknya bekerjasama dengan Bulog terus bergerak menggelar pasar murah.

Baca juga: Ruas Jalan Waikewak-Waiwerang di Adonara Segera Dikerjakan, Ini Kata Wabup Flores Timur

"Pemerintah tidak apatis, kami terus bergerak mengatasi kelangkaan minyak goreng di seluruh wilayah Flotim sejak penetapan satu harga. Termasuk Bulog yang mendapat kuota minyak goreng untuk dijual dengan satu harga," ujarnya kepada wartawan, Senin 14 Februari 2022.

Menurut dia, belum diterapkannya satu harga minyak goreng di Flores Timur diakibatkan stok minyak goreng harga lama di tangan distributor masih banyak.

"Saat pemerintah menetapkan satu harga, stok lama masih banyak di tangan distributor. Pasca ada rilis menteri perdagangan, sudah mulai ada pendropingan. Tapi khusus Flotim sendiri masih terkendala pendropingan karena subsidi pemerintah pusat sebesar Rp 1,7 Triliun itu ke pabrik atau produsen penyedia minyak goreng, bukan ke distributor," katanya.

"Upaya persuasif tetap dilakukan dengan memperhitungkan kesulitan yang dihadapi produsen," sambungnya.

Faktor lain yang menjadi penyebab belum maksimal penerapan satu harga minyak goreng di Flotim, juga karena distributor atau pelaku usaha di wilayah ini belum tergabung dalam Aspindo.

"Pasar-pasar tradisional itu belum dapat kuota subsidi termasuk distributor yang belum tergabung dalam Aspindo. Kita sedang fasilitasi mereka agar segera bergabung. Lewat Aspindo, kebijakan pusat terkait harga sembako langsung dieksekusi. Keuntungannya ada disitu. Untuk sementara, operasi pasar terus dilakukan," tutupnya. (*)

Berita Flores Timur Lainnya

 

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved