Berita Sikka
Berburu Pakaian Bekas di Pasar Nita, Sikka
Pakaian bekas pakai atau rombengan adalah sebutan bagi sebagian perempuan di Sikka yang hobi mengincar pakaian bekas impor tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Sejumlah-pengunjung-sedang-mengecek-pakaian-bekas-RB-atau-rombengan-di-Pasar-Nita.jpg)
Kapten Inf Ida Bagus Wiriyawan pada kesempatan itu memberikan wawasan kebangsaan kepada murid dalam rangka latihan kepimpinan bagi siswa-siswi kelas VIII SMP Bina Wirawan Maumere, Jalan Nong Meak No 36, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.
Kapten Inf Ida Bagus Wiriyawan menjelaskan, wawasan kebangsaan harus dipahami sejak dini, karena untuk menanamkan ideologi kebangsaan yang kuat dan rasa cinta tanah air serta mengetahui dasar negara Indonesia yaitu Pancasila.
"Kita memotivasi generasi muda dimulai dari para pelajar untuk belajar pengetahuan tentang Pancasila, bagaimana hidup berbhineka tunggal ika dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila,”ujarnya.
Kata dia, kegiatan ini dilakukan untuk membentengi para generasi muda dari pengaruh negatif informasi yang tidak benar yang bertujuan untuk memecah belah persatuan.
Ia menegaskan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, ada 4 pilar yang perlu kita ketahui bersama yakni Pancasila, UUD Negara RI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.
Ia mengatakan pola kehidupan seperti ini perlu terus disosialisasikan kepada generasi muda, karena sampai saat ini mereka dalam bersikap dan bertindak banyak yang masih belum mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai Dasar Negara.
"Generasi muda sekarang ini jauh berbeda dengan generasi seperti dulu,"ujarnya.
Ia berharap dengan pemberian materi wawasan kebangsaan kepada siswa-siswi SMP Bina Wirawan sebagai calon generasi penerus bangsa ini, mampu menciptakan generasi muda yang tangguh dan setia untuk mempertahankan NKRI yang kita cintai bersama ini.
Pantauan media ini, kegiatan berjalan dengan aman dan lancar. Siswa-siswi tampak antusias mengikut materi hingga usai dan mereka juga memberikan pertanyaan terkait wawasan kebangsaan.
Siswa-siswi menyampaikan limpah terima kasih kepada prajurit Kodim Sikka yang sudah berbagi ilmu dan wawasan tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ilmu dan pengetahuan yang diberikan kepada siswa-siswi menjadi bekal menuju generasi masa depan Indonesia yang lebih baik lagi dan mewujudkan Indonesia yang aman serta damai.
Perasaan Tagih Utang
Sementara itu, ada sebuah kios di Desa Timu Tawa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.
Pemilik kios itu adalah Anjelina Anje (49) yang sudah malang melintang dalam dunia usaha tersebut selama 20 an tahun lebih.
Mama Anjelina Anje yang ditinggal suaminya pergi merantau tinggal bersama dua buah hatinya, Mensiana Nogo (27) dan Jefri (12).
Saat ditemui TribunFlores.com, Rabu 29 Juni 2022, mama Anjelina Anje diwakili Mensi mengungkapkan suka duka perjalanan usaha kios yang tak bernama itu.
"Yang paling tersulit itu soal bagaimana kita bisa menagih utang atau bon dari keluarga sendiri. Kadang-kadang kita serba perasaan jadi tunggu mereka sadar sendiri untuk kasih lunas utang," ungkapnya.
Demikian Kata Mensi menguraikan hambatan-hambatan selama ia dan ibunya mulai membuka usaha kios ini.
Mensi yang saat ini berprofesi sebagai guru di Antonius Boganatar, mengungkapkan kios itu dibuka tahun 1995.
Waktu itu ibunya berbekal 1 Ekor ayam, menjualnya dengan harga Rp.20.000 untuk memulai kios ini.
"Tidak mudah buka usaha kios di Pedesaan. Banyak rintangan yang ada,"ujarnya,
Kondisi jalan waktu itu terbilang sangat buruk. Hanya bebatuan menggumpal di badan jalan. Padatnya kerikil dan lika-liku jalan menyebabkan kesulitan tersendiri bagi pengendara.
Jarak Boganatar ke Maumere sekitar 79 kilo. Pada Tahun 1995, penerangan berupa listrik belum dipasang. Kendaraan waktu itu bisa dihitung dengan jari. Mensi baru berumur setahun lebih saat kios tersebut dibuka.
Waktu berlalu, beberapa tahun hidup bersama ayah dan ibunya perlahan Mensi mulai paham dan membantu mamanya menjaga kios. Namun tak berselang, ayah Mensi pergi merantau di Pulau Kalimantan.
"Sekitar belasan tahun yang lalu, bapak merantau ke Kalimantan," ungkapnya.
Akses jalan yang buruk dan penerangan bermodalkan pelita atau obor cukup mengganggu kelancaran usaha kios mereka.
"Pernah hampir tutup dikarenakan banyaknya bon dan juga modal yang menipis," ujar Mensi.
Terkadang, modal ditambah dengan uang dari saku pribadi. Kadang juga, hasil bumi yang dijual dialihkan menjadi modal usaha kios.
"Jadi untuk untungnya ini memang terbilang sangat sedikit. Kalau mau dibilang kita berjualan hanya untuk tidak mengeluarkan uang ke kios lain. Saat kita butuh, tinggal ambil lalu uang kembali ke kios kita. Tidak untung besar dari kios ini," ungkapnya.
Kata Mensi, agak berbeda usaha kios di perkotaan dan pedesaan.
"Kalau di kota mungkin persaingannya bisa terlihat. Di sini, tidak ada persaingan karena jumlah kios hanya sedikit. Justru yang sulit itu bon yang menumpuk dan konsumennya sangat sedikit. Tidak banyak," pungkasnya.
Oleh karena itu, siasati hal itu dan ingin mencegah kerugian, ia dan ibunya hanya membeli barang-barang yang diminati oleh warga pada umumnya.
Seperti, gula, kopi, rokok, bensin, beras, sabun untuk cuci dan mandi, super mie dan beberapa barang-barang lainnya.
"Kalau untuk barang lain seperti pakaian atau barang dapur jarang kami jual karena hanya satu dua orang yang berminat dan jarang laku," kata Mensi.
Beruntungnya, disamping keuntungan yang sebanding dengan kerugian, kebutuhan makan minum dalam keluarganya selalu terpenuhi.
"Meskipun kadang rugi hanya kios ini bantu kami saat kebutuhan mendesak," tegasnya lagi.
Kios Bantu Mensi Raih Sarjana
Pelan namun pasti, kios tersebut menjadi tulang punggung kedua bagi keluarganya Mensi.
"Kalau saya mau bilang, kios ini yang sekolahkan saya hingga sampai saya selesaikan kuliah saya di Undana Kupang," ungkapnya.
Lanjutnya, dari SD hingga SMP segala kebutuhannya, umumnya dipenuhi dari usaha kios tersebut.
Perempuan yang saat ini menjadi seorang guru di SMP St. Antonius Boganatar mengungkapkan tak ada keringat yang dibuang begitu saja.
"Meskipun untungnya kadang sedikit, namun kadang uang kuliah saya, uang kos saya dan makan minum di Kupang, dipenuhi mama berkat kios ini," tandasnya.
Melirik perkembangan bangunan kios tersebut, ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Saat Mensi masih mengenyam pendidikan di SMP, kios tersebut masih seatap dengan rumah keluarganya. Namun kini, kios itu sudah dibangun terpisah.
Sehingga, ia berharap kedepannya usaha kios tersebut tetap berkembang dan maju.
"Harapan saya, jika pilih antara kios dan kebun, saya lebih suka mama pilih jaga kios ketimbang ke kebun karena di kios tiap hari pasti ada pemasukan meskipun sedikit," pungkasnya.
Terkait kisaran harga barang, biasanya jika mereka membeli dengan harga Rp.4000, saat menjualnya di kios harganya ditingkatkan jadi Rp.4.500.
"Contoh gula, jika kita belis dengan harga Rp.4000 maka di kios, kita naikkan jadi Rp.4.500. Hanya tidak untung amat karena ongkos mobil dan ojek juga mahal sekitar Rp. 30.000 sekali jalan," katanya.
Sumbangsih Pemerintah
Pemerintah Desa Timu Tawa juga tak tinggal diam.
Kepala Desa Timu Tawa, Bernadinus Bulan Terang mengungkapkan pihaknya selalu berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Dua tahun lalu kita dilanda covid. Namun sekarang, covid sudah mereda dan kita siap bantu masyarakat," ungkapnya.
Kata Bernandinus, pemerintah sudah banyak membantu masyarakat.
"Selama ini kita sudah mulai melakukan pemberdayaan dan kedepannya pasti kita usahakan," ungkapnya.