Kabar Flores Hari Ini
Kisah Pasutri di Sikka Olah Batu Jadi Kerikil Demi Hidupi Keluarga
Pasangan suami-istri (Pasutri) yang berasal dari Pulau Lembata ini sudah menetap di Kota Maumere. Keduanya sudah puluhan tahun bekerja disana.
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Ewal Geli
TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE- Matahari baru beranjak keluar dari peraduannya di ufuk timur.
Namun pagi itu, Rabu, 3 Agustus 2022, Yohanes Baha dan Martina Boy sudah berada di lokasi pemecah batu di pinggir jalan lingkar luar Kota Maumere tepatnya Jalan Wairklau, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.
Pasangan suami-istri (Pasutri) yang berasal dari Pulau Lembata ini sudah menetap di Kota Maumere.
Keduanya memutuskan merantau guna memperbaikki ekonomi di Nian Tanah Sikka.
Baca juga: DPRD NTT Pertanyakan Dasar Hukum Tiket Taman Nasional Komodo Naik, Inche Sayuna Sebut Pungutan Liar
Yohanes Baha, kepada TRIBUNFLORES.COM di Jalan Wairklau, Maumere, Rabu, 3 Juli 2022 pagi menjelaskan, ia awalnya ber-profesi sebagai sopir. Akan tetapi penghasilnya sebagai sopir tidak membantu kebutuhan keluarga.
Ia lalu memutuskan mencari pekerjaan tambahan sebagai pemec-ah batu kerikil.
Dari pagi hingga sore hari ia setia Bersama sang istri menunggu pembeli di pinggir jalan yang mau beli batu kerikil.
Sesekali ia terus menyapa warga yang melintas. Ia terus bersabar dengan usaha ia ia geluti.
“”Saya masih sopir kalau tidak ada muatan saya jadi pemecah ba-tu. Batu yang saya pecahkan ini saya beli satu truk Rp 500 ribu. Setelah saya pecahkan saya jual per-karung Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Batu yang saya pecahkan sampai 60 karung. Kalau 60 karung saya dapat Rp 750 ribu kalau habis terjual,” papapar Yo-hanes.
Baca juga: BREAKING NEWS: Polisi Bekuk Pencuri Motor yang Beraksi di RSUD TC Hillers Maumere Sikka
Ia mengaku, walau penghasilannya belum cukup tapi ia masih bertahan mencari sopir dan pemecah batu.
“Anak saya lima orang saya bersyukur bisa sekolah anak sampai ada yang sudah kerja. Memang penghasilan tidak pasti tapi saya bersyukur bisa dapat membantu keluarga,” ujar Yohanes.
Pria yang mengenakan baju merah berpadu biru dan bercelana pendek ini mengisahkan, modal usahanya ia pinjam dari koperasi harian.
Di teman sang isri ia terus menjelaskan, betapa sulitnya mencari uang di masa pandemi. Bahkan satu anaknya harus tertahan tidak melanjutkan kuliakan.
Baca juga: Harga Tiket Taman Nasional Komodo Naik, Pemerhati Pariwisata Sebut Terancam Bagi Pelaku Parekraf