Jumat, 10 April 2026

Berita Flores Timur

Hadiri Ritual Porik Kreya, Penjabat Bupati Flores Timur Ajak Warga Balaweling Resapi Nilai Ritual

Warga Desa Balaweling, Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, menggelar ritual Porik Kreya. Ritual Porik Kreya, sebuah ritual yang menandai akan dibangu

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Hadiri  Ritual Porik Kreya, Penjabat Bupati Flores Timur Ajak Warga Balaweling  Resapi Nilai Ritual
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
RITUAL- Penjabat Bupati Flores Timur, Doris Alexander Rihi bersama tua ada di Desa Balaweling saat peletakan batu pertama pembangunan Kapela Maria Reinha Balaweling, Desa Balaeling, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, Sabtu 21 Januari 2023. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Kristin Adal

TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Warga Desa Balaweling, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, menggelar ritual Porik Kreya, Sabtu 21 Januari 2023 pagi.  Ritual Porik Kreya, sebuah ritual yang menandai akan dibangunnya Kapela Maria Reinha Balaweling yang  baru.  Penjabat Bupati Flores Timur, Doris Alexander Rihi, mengajak masyarakat Balaweling untuk menjadikan ritual ini sebagai sebuah potensi kekuatan dan kebersamaan yang  dipegang teguh dan diresapi nilainya.

Penjabat Bupati Flores Timur, Doris Alexander Rihi, pun turut menghadiri ritual Porik Kreya ini. Doris Alexander Rihi, didampingi beberapa pimpinan OPD pun hadir dan mengambil bagian dalam ritual yang melibatkan warga Desa Balaweling I, Desa Balaweling II dan kelurahan Ritaebang.

Dalam ritual ini, Penjabat Bupati pun didaulat untuk meletakan batu pertama di salah satu tiang utama pembangunan kapela ini. Usai melakukan peletakan batu pertama, Doris mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini.

”Saya bersyukur dapat hadir di sini. Luar biasa penghormatan, kebersamaan, dan kekeluargaan yang ditunjukan pada hari ini, saya sangat bersukacita,” ungkap Doris Alexander Rihi.

Baca juga: Dinas PUPR NTT Beri Bantuan Mesin Desilnasi Air Laut pada Dua Desa di Flores Timur

 

Doris Rihi pun memaknai pelaksanaan kegiatan ini sebagai sebuah usaha untuk menghormati lingkungan, alam sekitar, menjunjung tinggi dan menghormati leluhur Lewotana dan menghormati Kakuasaan Tuhan yang Maha Esa. Nilai-nilai kekuatan dan kebersamaan harus tercermin dalam pribadi setiap warga dan yang memanfaatkan Kapela Reinha Balaweling ini sebagai tempat reflektif untuk menemukan solusinya.

“Ada banyak hal yang kita lakukan bersama, banyak kebutuhan di desa, kecamatan, kabupaten yang harus kita lakukan secara bersama-sama. Apabila ada permasalahan yang dihadapi di tingkat desa, kelurahan, mari kita jadikan Kapela Maria Reinha Balaweling ini sebagai tempat kita menenangkan diri, sebagai tempat untuk menyelesaikan setiap permasalahan, sebagai tempat untuk kita mengasihi,” ajaknya.

Doris Rihi pun berharap agar setiap warga dapat berjanji pada diri masing-masing, sebagai orang tua, tentang pentingnya mengajarkan kepada generasi muda bahwasanya tidak boleh konflik fisik dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Ia mengucapkan rasa terima kasih kepada keluarga besar Balaweling dan merasa  bangga bisa hadir dalam ritual ini.

Baca juga: Diduga Garap Paksa Anak di Bawah Umur hingga Hamil, Seorang Pemuda di NTT Dilaporkan ke Polisi

Tokoh Keturunan Raja Larantuka, Don Tinus DVG yang turut hadir dalam Porik Kreya ini mengungkapkan, bahwa masyarakat suku Balaweling harus bersatu dalam semangat kebersamaan. Balaweling menurutnya, dipandang sebagai api dapur, sumber terang dan kehidupan. Melalui kehadiran Bunda Maria yang diserahkan oleh Raja Larantuka dan diberkati oleh Uskup Larantuka Mgr. Gabriel Manek .

“Boleh merenovasi bangunan dengan memperluasnya namun tempat pentakhtaan Patung Bunda Maria Reinha Balaweling tidak boleh dirombak karena tempat itu memiliki nilai sejarah sejak tahun 1960. Di bawah kaki patung Bunda Maria di Kapela Reinha Balaweling, pada saat itu dikuburkan semua hal jahat,” pesannya.

Ritual Porik Kreya Balaweling ini pun diakhiri dengan lantunan Sason Nuren Nogo Oe yang mengalun begitu dinamis dalam irama yang membakar semangat untuk bergerak maju, berubah lebih baik dan bersemangat membangun kapela ini. Warga Balaweling bergandeng tangan satu dengan yang lain, membentuk formasi setengah lingkaran. Hentakan tangan dan kaki mengikuti irama Nogo Oe yang memperdengarkan nada kegembiraan dan sukacita dalam mengawali pembangunan ini.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Camat Solor Barat, Petrus K. Kewuan, Pastor Paroki Santa Maria Kunjungan Santa Perawan Maria Pamakayo, RD. Robertus Laga Manu, Pastor Paroki Santo Yosep Ritaebang, Daniel Nara Gere Muda,SVD, seluruh kepala OPD Flores Timur, tokoh masyarakat keturunan Raja Larantuka, Don Andreas Marthinus DVG, Don Erwyn DVG dan Maria Ri Lewar, Pou Suku Lema, Yoseph Pati Odjan dan Yosep Philipus Et Lamuri, Babinsa Kecamatan Solor Barat, Purnomo dan Gaza, Kepala Desa Balaweling I, Laurensius Otu Niron, Kepala Desa Balaweling II, Anton Jatiama Keban, Lurah Ritaebang, Hironimus Niron, pemangku adat suku Balaweling dan warga masyarakat Balaweling.

Tentang Ritual Porik Kreya

Ritual adat dan ibadat yang dilaksanakan dalam setiap tahapnya pada hari ini nampaknya menggambarkan kesatuan yang padu antara adat, gereja dan masyarakat itu sendiri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved