Mantan Bupati Sikka Meninggal Dunia

Meninggal Dunia, Ini Profil Mantan Bupati Sikka ke-7, Paulus Moa

Bupati Sikka ke-7 itu lahir di Ian, Wolokoli, Kecamatan Bola, pada tanggal 10 September 1940.

Editor: Nofri Fuka
TRIBUNFLORES.COM/ALBERT AQUINALDO
DIBAWA KE RUMAH DUKA - Jenazah mantan Bupati Sikka, Drs. Paulus Moa saat berada di kamar jenazah RSUD Tc Hillers Maumere, Sabtu, 6 Mei 2023. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mantan Bupati Sikka, Drs. Paulus Moa periode 1998-2003 tutup usia pada Sabtu, 6 Mei 2023 sekitar pukul 14.14 WITA dalam perjalanan menuju RSUD Tc Hillers Maumere.

Beliau yang selama ini memiliki riwayat sakit jantung, dikabarkan terjatuh di kamar mandi di kediamannya di Wairhubin, Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Bupati Sikka ke-7 itu lahir di Ian, Wolokoli, Kecamatan Bola, pada tanggal 10 September 1940.

Almarhum merupakan lulusan Sarjana ilmu pemerintahan IIP Jakarta pada tahun 1978 dan pernah menjabat sebagai camat Bola pada tahun 1964-1966. Almarhum juga pernah menjabat sebagai Camat Nimboran, Jayapura, Irian Jaya pada tahun 1973.

Baca juga: BREAKING NEWS: Mantan Bupati Sikka, Paulus Moa Tutup Usia

 

Drs. Paulus Moa pernah tercatat menempati jabatan strategis dalam jajaran pemerintah daerah Timur-Timur sekitar tahun 1979-1998 sebagai pendamping Bupati Viqueque, Sekwilda Bobonaro, Kota Administratif Dili, Manufahi dan Liquisa.

Pada periode 1998 hingga 2003, almarhum terpilih menjadi Bupati Sikka yang dipilih oleh anggota DPRD Kabupaten Sikka pada masa itu.

Sapta Program beliau saat menjabat sebagai Bupati Sikka saat itu adalah meliputi kualitas SDM, pengentasan kemiskinan, kualitas lingkungan hidup dan tata ruang, pemanfaatan lahan pertanian, pengembangan agrobisnis dan agroindustri, peningkatan program koperasi dan pembangunan pariwisata.

Dia juga berhasil menaikkan PAD APBD Kabupaten Sikka dari 2,2 miliar pada masa kepemimpinan Bupati Alex Idong pada tahun 1997 menjadi 7 miliar pada tahun anggaran 2002.

Meneruskan program rehabilitasi pasca gempa tsunami 1992 dan membangun taman-taman kota yang menelan biaya sekitar Rp 1 miliar. Membangun kembali istana Lepo Gete di Kampung Sikka sebagai lambang kebanggaan sejarah dan budaya untuk menjadibsatu lokasi tujuan wisata budaya.

Pada masa kepemimpinannya, beliau berhasil menjalin kerjasama dengan Ausaid untuk program pelestarian taman laut, terumbu karang dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Selain itu, beliau juga berhasil membangun kerjasama dengan UNICEF untuk program ASI dalam hal kesejahteraan ibu dan anak dalam sektor kesehatan, serta kerjasama dengan GTZ untuk program kebersihan lingkungan.

Usai jabatan bupati, almarhum menjadi anggota DPRD Propinsi NTT dari partai Golkar hasil Pemilu 2004 dengan jumlah perolehan suara melampaui Bilangan Pembagi Pemilu (BPP).

Karir politik almarhum terakhir adalah sebagai dewan pembina DPC Partai Hanura Kabupaten Sikka.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved