Kasus Rabies di NTT

Rabies dan Kebakaran Rumah

Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dinyatakan KLB Rabies oleh Bupati TTS tanggal 30 Mei 2023. Kini Rabies Melanda Timor Tengah Selatan NTT,

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM / GORDI DONOFAN
ILUSTRASI ANJING - Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dinyatakan KLB Rabies oleh Bupati TTS tanggal 30 Mei 2023. Hingga saat ini - bulan Nopember 2023-, memasuki bulan ke 6 pasca KLB, korban gigitan Hewan Penular Rabies masih terus bertambah, bahkan korban nyawa bertambah 1 lagi beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 2023. Total sudah 8 nyawa meninggal sia-sia karena virus rabies di Kabupaten TTS. 

Oleh: dr. Asep Purnama

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dinyatakan KLB Rabies oleh Bupati TTS tanggal 30 Mei 2023.

Hingga saat ini - bulan Nopember 2023-, memasuki bulan ke 6 pasca KLB, korban gigitan Hewan Penular Rabies masih terus bertambah, bahkan korban nyawa bertambah 1 lagi beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 2023. Total sudah 8 nyawa meninggal sia-sia karena virus rabies di Kabupaten TTS.

Rabies seperti layaknya penyakit menular lainnya, akan menyebar cepat jika tidak dilakukan upaya pencegahan.

Virus rabies bisa menyebar melalui Hewan Penular Rabies, khususnya anjing. Penyebaran bisa cukup jauh bahkan lintas kabupaten karena daya jelajah anjing bisa 2 hingga 10 km.

Baca juga: Anjing Tak Bertuan Diduga Rabies Serang Warga Dua Desa di Kabupaten TTU

 

Belajar dari kejadian rabies di pulau Flores, tahun 1997 rabies masuk melalui desa Sarotari, Kabupaten Flores Timur dan dalam waktu 3 tahun sudah menyebar ke seluruh pulau Flores.

Tahun 2000, virus rabies tidak terbendung, ‘menjajah’ 9 kabupaten yang ada di Flores Lembata.

Jika tidak dilakukan upaya pencegahan dengan strategi tepat dan didukung semua pihak terkait maka bukan tidak mungkin virus rabies akan menyebar dari Kabupaten TTS ke seluruh Kabupaten/Kota di pulau Timor Barat, bahkan ke negara Timor Leste.

Tentu kita tidak berharap Timor menjadi Flores kedua dalam hal penyebaran virus rabies.

Virus rabies masuk pada tahun 1997, kemudian menyebar ke seluruh Flores pada tahun 2000, dan akhirnya menetap hingga saat ini.

Virus rabies berada di pulau Flores sudah lebih dari 25 tahun dan kita tidak berdaya mengusir virus rabies dari pulau Flores, bahkan -patut diduga- virus rabies dari Flores-lah yang menyebar ke pulau Timor.

Baca juga: Pasien dengan Gejala Rabies di Timor Tengah Selatan Meninggal, Ini Kronologinya

Fokus Penanggulangan

Supaya virus rabies tidak menyebar ke Kabupaten/Kota tetangga se-pulau Timor, maka kita harus fokus melakukan penanggulangan rabies di Kab. TTS.

Segala daya harus dilakukan untuk mendukung upaya penanggulangan rabies di Kab. TTS dikala virus rabies masih terlokalisir di satu kabupaten.

Upaya penanggulangan akan sangat berat dan mahal jika virus rabies sudah menyebar ke seluruh pulau Timor. Jangan sampai kisah duka kegagalan penanggulangan rabies di pulau Flores terulang di pulau Timor.

Jika ada kebakaran rumah, bukan hanya pemilik rumah yang bekerja keras memadamkan api. Dinas Pemadam Kebakaran akan membantu memadamkan api, bahkan tetangga korban kebakaran, juga ikut membantu karena jika kebakaran tidak bisa dipadamkan maka api akan menyebar ke rumah tetangga sekitar.

Mirip seperti kebakaran rumah, Kab. TTS yang sedang mengalami KLB Rabies harus didukung penuh oleh Pemerintah Propinsi NTT dan Pemerintah Pusat, bahkan seluruh Kabupaten/Kota tetangga se-daratan Timor diharapakan ikut membantu karena jika Kab. TTS gagal “memadamkan” KLB Rabies maka besar kemungkinan “kebakaran rabies” akan menyebar ke Kabupaten/Kota se daratan Timor.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah duka penyebaran virus rabies di pulau Flores dengan fokus melakukan upaya penangggulangan rabies di Kab. TTS. Perlu diupayakan vaksinasi HPR -khususnya anjing- secara massif [dalam jumlah yang besar] dan serentak dengan cakupan minimal >70 persen dan menggunakan vaksin anti rabies yang berkualitas.

Pemberian vaksin secara sporadis -tidak massif dan tidak serentak- tidak akan efektif dalam upaya membebaskan rabies dari Kab. TTS karena tidak akan terbentuk kekebalan kelompok.

Ada baiknya jika para vaksinator seluruh Kabupaten/Kota se daratan Timor bersatu membantu Kab. TTS melakukan vaksinasi anjing secara serentak dan massif, sehingga cakupan vaksinasi >70 persen bisa tercapai dalam waktu singkat.

Dengan demikian Kab. TTS akan segera terbebas dari virus rabies dan dengan sendirinya ancaman penyebaran virus rabies ke Kab/Kota sekitarnya se-daratan Timor akan sirna.

Dengan bersatu dan bekerja sangat keras saat ini, diharapkan pulau Timor tidak harus mengikuti jejak pulau Flores yang harus bekerja jangka panjang tanpa batas waktu yang jelas. Amin.

Salam sehat, semoga bermanfaat. (gg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved