Rabu, 13 Mei 2026

Musik Liturgi Katolik

Mengapa Lagu Pop Rohani Bukan Lagu Liturgi

Pada PUMR 352 menjelaskan Jika ditinjau secara pastoral perayaan liturgi akan lebih mengena, bila nyanyian yang dipilih

Tayang:
Penulis: Nofri Fuka | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Mengapa Lagu Pop Rohani Bukan Lagu Liturgi
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
Mengapa Lagu Pop Rohani Bukan Lagu Liturgi. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Akhir-akhir ini banyak sekali lagu pop rohani yang menjamur dan menghiasi panggung musik Gereja baik kriten maupun katolik.

Terkadang lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh umat katolik, misalnya pada momen ret-ret atau pun rekoleksi.

Namun kadang menimbulkan polemik jika dinyanyikan pada perayaan liturgi. Lalu muncul pertanyaan mengapa demikian?

Jika melihat sepintas lagu-lagu tersebut mengekspresikan jiwa rohani orang yang menyanyikannya.

Baca juga: Fungsi Musik Liturgi dalam Gereja Katolik

 

Oleh karena itu, berikut ini alasan mengapa Lagu Pop Rohani Bukan Lagu Liturgi dan tak boleh dinyanyikan saat perayaan liturgi terutam dijadikan lagu ordinarium.

Pada PUMR 352 menjelaskan Jika ditinjau secara pastoral perayaan liturgi akan lebih mengena, bila nyanyian yang dipilih sesuai dengan keperluan, taraf pendidikan, dan kemampuan rohani umat yang hadir.

Pernyataan PUMR ini sungguh memahami perbedaan tingkat perkembangan iman.

Lalu jika terkait dengan penggunaan musik pop rohani dikalangan mudika ini penjelasannya;

Lagu pop rohani memang benar mengungkapkan perasaan rohani, tetapi bukan selalu dimaksudkan untuk dipakai dalam liturgi.

Joseph Gelineau berpendapat bahwa nyanyian liturgis, baik teks dan melodinya berasal dari dan diperuntukkan bagi perayaan liturgi dan diterima oleh Gereja.

Pendapat ini menekankan bahwa bukan setiap lagu rohani, walaupun dengan penyesuaian tema, selalu cocok untuk kebutuhan liturgi.

Ini tidak berarti gaya pop yang disukai kaum muda sama sekali tidak punya tempat dalam perayaan liturgi.

Komponis gerejani memang ditantang untuk menyerasikan teks liturgi seperti kyrie dengan melodi anak muda. Kadang dipakai pula melodi sebuah lagu pop tetapi kata-kata diganti dengan teks rohani.

Ini tentu sebuah penyerasian yang amat keliru.

Walaupun perayaan Ekaristi untuk anak-anak atau mudika, tidak dengan sendirinya bisa dipakai lagu pop.

Bila ingin diselaraskan dengan gaya kaum muda, lagu itu harus tetap mengindahkan hakekat dan fungsi setiap nyanyian.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di  Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved