Sabtu, 2 Mei 2026

Kardinal Gereja Katolik

Profil Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Kardinal Ketiga dalam Sejarah Gereja Indonesia

Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo menjadi kardinal ketiga dalam sejarah Gereja Indonesia. Ia diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Fransiskus.

Tayang:
Penulis: Cristin Adal | Editor: Cristin Adal
zoom-inlihat foto Profil Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Kardinal Ketiga dalam Sejarah Gereja Indonesia
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignasius Suharyo saat melakukan wawancara dengan Kompas.com di Jakarta, Selasa (18/6/2024).(Tangkapan layar via Youtube Kompas.com) 

TRIBUNFLORES.COM, JAKARTA- Uskup Agung Jakarta, Ordinaris Militer untuk Indonesi, Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Fransiskus dalam konsistori pada 5 Oktober 2019, dengan gelar Spirito Santo alla Ferratella.

Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo menjadi kardinal ketiga dalam sejarah Gereja Indonesia. Ia lahir pada 9 Juli 1950 di Sedayu, Keuskupan Agung Semarang, di jantung Pulau Jawa, salah satu dari empat kabupaten, yaitu Kabupaten Bantul, di Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 500 km dari ibukota. 

Ignatius anak ketujuh dari sepuluh bersaudara ini dibesarkan dalam sebuah keluarga besar yang berbuah dalam panggilan: seorang saudara laki-laki adalah seorang biarawan dan dua saudara perempuan adalah biarawati. 

Pada usia 11 tahun, ia masuk seminari kecil Mertoyudan, memperoleh ijazah pada tahun 1968. Ia kemudian pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya di bidang filsafat dan teologi, yang diselesaikannya di Universitas Kepausan, Roma, di mana ia memperoleh gelar sarjana muda dan doktor pada tahun 1979 dan 1981.

 

Baca juga: Rencana Kunjungan Paus Fransikus ke Indonesia, Kardinal Suharyo: Ini Sangat Historis

 

 

Pada 26 Januari 1976 ia ditahbiskan menjadi imam oleh Kardinal Darmojuwono di kapel seminari tinggi Yogyakarta, di mana ia segera kembali setelah menyelesaikan siklus studinya, dengan peran sebagai formator. 

Beliau menjalankan tugas ini sampai tahun 1997, dan pada periode yang sama juga menjabat sebagai profesor kateketik di fakultas filsafat setempat (1981-1991), ketua jurusan filsafat dan sosiologi di universitas Jesuit Sanata Dharma (1983-1993), dan dekan fakultas teologi (1993-1997). 

Pada periode ini, sebagai seorang imam, ia mengikuti dan menemani penderitaan masyarakat yang ditindas oleh kediktatoran.

Ia diangkat sebagai Uskup Agung Semarang oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 21 April 1997, dan menerima tahbisan uskup dari Kardinal Daarmatmadja pada tanggal 22 Agustus. 

Ia memilih motto Serviens Domino cum omni humilitate (“Melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati”), yang diambil dari Kisah Para Rasul (20:19).

 

Baca juga: Kardinal Ignatius Suharyo Lantik Pengurus OCI Lingkup TNI-POLRI Wilayah Keuskupan Atambua

 

Selama tiga tahun, hingga tahun 2000, ia memimpin Komisi Dialog Antaragama dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), di mana ia menjadi Sekretaris Jenderal dari tahun 2000 hingga 2006, tahun di mana ia ditunjuk oleh Paus Benediktus XVI sebagai uskup agung untuk Indonesia dan menjadi wakil ketua Konferensi Waligereja Indonesia, hingga tahun 2012.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved