Sabtu, 16 Mei 2026

Berita NTT

Cerita Nurul Rofi'ah, Gadis Banyuwangi yang Ikut Dai MUI Berkhidmat di NTT 

Sebagai seorang Daiah, ia belajar tekun memahami lingkungannya di Sabu Raijua itu. Nurul Rofi'ah memang punya hobi berpergian. 

Tayang:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Cerita Nurul Rofi'ah, Gadis Banyuwangi yang Ikut Dai MUI Berkhidmat di NTT 
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI 
SERAHKAN CINDERAMATA - Nurul Wasi'atur Rofi'ah (29) saat memberikan cinderamata kepada perwakilan MUI NTT dalam acara silahturahmi dan perpisahan Dai MUI Berkhidmat di Provinsi NTT, Rabu 21 Agustus 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - Nurul Wasi'atur Rofi'ah (29) gadis asal Banyuwangi Jawa Timur tidak menyangka dia akan datang ke Provinsi NTT. Wilayah kepulauan yang juga berada di beranda terdepan Republik Indonesia. 

Februari 2024 menjadi perjalanan awal Nurul Rofi'ah. Dia dan 19 temannya tiba di Kupang. Beberapa waktu di Ibukota Provinsi NTT, Nurul Rofi'ah berlayar ke tempat tujuan Sabu Raijua. Tempat itu konon membuat Nurul Rofi'ah menghabiskan waktunya selama enam bulan. 

Rekannya, bergerak ke daerah lainnya di NTT. Alor hingga Timor Tengah Selatan adalah daerah penugasan. Seorang diri di Rai Hawu selama 180 hari. Wanita kelahiran 10 September 1990 silam itu berpisah untuk sementara waktu dari orang tua, juga temannya. 

"Saya begitu banyak mendapat pelajaran," kata Nurul Rofi'ah, Selasa 20 Agustus 2024 malam di Asrama Haji Kota Kupang. 

Baca juga: Tanpa Sekat, Umat Muslim di Ende Berikan Dukungan Jelang Penahbisan Uskup Agung Ende

 

Nurul mengikuti acara silahturahmi dan perpisahan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT. 

Ragam pelajaran yang diperoleh tentu tidak seperti didapat ketika bergelut di pendidikan formal. Sebagai seorang Daiah, ia belajar tekun memahami lingkungannya di Sabu Raijua itu. 

Lingkungan baru dengan aura tak biasa, menjadi keluarga sekaligus temannya selama bertugas. Itu tantangan. Bagaimanapun lingkungan bisa menempa dirinya untuk terus bertahan. 

"Dari awal saya, orang tua saya menanamkan prinsip ke anak-anak, ayah saya bilang 'dimanapun berada jadilah bermanfaat bagi orang sekitar'. Itulah yang menjadikan saya tidak takut ketika di daerah yang mungkin kita tidak kenal sama sekali. Karena niat untuk bermanfaat bagi orang lain," ujarnya. 

Nurul Rofi'ah memang punya hobi berpergian. 
Kala mengikuti program "Dai MUI Berkhidmat" yang digagas pimpinan pusat MUI, ia sempat ragu. Persoalan izin orang tua menjadi kekhawatiran utama. 

Anggota Dewan Pembina Organisasi Pesantren 2018-2022 itu berkata, ibunya merestui niatnya berpergian ke tempat jauh. Sejak itu, Nurul Rofi'ah senantiasa berharap ke Ibunya untuk mendoakan dirinya. 

Doa ibunya terus dirasakan selama di perantauan. Selama di Sabu Raijua, tidak ada kendala berarti. Justru sebaliknya. Kerap ia mendapat pertolongan tak terduga. 

"Alhamdulillah saya tidak merasa kekurangan dan kesulitan ketika masuk ke masyarakat. Alhamdulillah masyarakat menerima saya dengan baik. Ketika saya membatin sesuatu, keinginan, itu datang sendiri," kata dia. 

Suatu waktu, lulusan Universitas Jendral Soedirman Purwokerto itu ingin memakan gule juga sate. Sebagai orang baru memang cukup kebingungan mencari jenis kuliner itu. Tidak diduga, ada jemaah yang mengantar ke tempat tinggalnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved