Krisis Air Bersih di Ende
Dampak Kemarau Panjang di Kobaleba Ende, Pisang dan Jambu Mete Terancam Gagal Panen
Desa Kobaleba, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, Flores, menghadapi situasi yang memprihatinkan.
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Anton-Tani-petani-sekaligus-Kepala-Dusun-Ratewegu-Desa-Kobaleba.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Desa Kobaleba, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, Flores, menghadapi situasi yang memprihatinkan.
Dua komoditi andalan masyarakat setempat, pisang dan jambu mete, kini terancam gagal panen akibat kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut.
Kondisi ini tidak hanya memukul perekonomian warga, tetapi juga memunculkan keprihatinan mendalam bagi masa depan pertanian di daerah tersebut.
Pisang, yang menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat Kobaleba, kini hampir tidak bisa lagi diandalkan.
Baca juga: Dampak Kekeringan, 2 Sumur di Desa Kobaleba Ende Kering, Warga Susah Dapatkan Air Bersih
Tanaman pisang di wilayah ini terserang penyakit darah pisang, sebuah penyakit yang mematikan bagi tumbuhan pisang dan telah menyerang sebagian besar tanaman di Pulau Flores, termasuk di Desa Kobaleba.
Ratusan rumpun pisang di desa ini bahkan sudah dibakar demi mengendalikan penyebaran penyakit tersebut.
Antonius Tani, seorang petani mete sekaligus Kepala Dusun Ratewegu, mengungkapkan kesulitannya menghadapi situasi ini.
Menurut Anton, biasanya dalam satu minggu ia bisa memanen hingga 100 tandan pisang. Namun kini, harapan itu pupus setelah banyak tanaman pisangnya mati akibat penyakit.
"Mereka bilang satu-satunya cara menghilangkan penyakit ini dengan membakar semua tanaman yang terinfeksi. Tapi setelah dibakar, kami belum mendapat bibit baru untuk ditanam lagi," keluh Anton.
Tak hanya pisang, komoditi jambu mete yang menjadi sumber pendapatan tambahan masyarakat juga mengalami nasib serupa.
Akibat cuaca ekstrem, bunga jambu mete banyak yang gugur sebelum berbuah, menyebabkan penurunan drastis pada jumlah buah yang dihasilkan.
"Biasanya di bulan Agustus hingga Oktober, kami sudah mulai memanen. Hasilnya bisa mencapai puluhan kilogram, tapi tahun ini kami hampir tidak mendapatkan apa-apa," ujar Anton.
Di sisi lain, harga jambu mete memang naik, dari Rp 15.000 menjadi Rp 24.000 per kilogram.