Kamis, 7 Mei 2026

Gunung Lewotobi Erupsi

Warga Lereng Lewotobi Minta Maaf Lewat Ritual Tuba Ile, Jalan Kaki ke Radius 2 KM dari Gunung

Ritual berlangsung dalam radius bahaya yaitu sekira 2 kilometer dari pusat letusan. Gunung Lewotobi kini masih status level III Siaga.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Warga Lereng Lewotobi Minta Maaf Lewat Ritual Tuba Ile, Jalan Kaki ke Radius 2 KM dari Gunung
TRIBUNFLORES.COM/PAUL KABELEN
RITUL ADAT - Tetuah adat gelar ritual Tuba Ile. Mereka berjalan kaki menuju Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu, 22 Januari 2025. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen

TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Tetuah adat suku bersama warga simpatisan kompak menggelar ritual 'Tuba Ile' atau memberi makan Gunung Lewotobi Laki-laki sebagai ungkapan maaf. 

Ritual berlangsung dalam radius bahaya yaitu sekira 2 kilometer dari pusat letusan.

Memberi makan gunung berstatus Level III (Siaga) yang terus erupsi itu dilakukan masyarakat adat, terdiri atas suku-suku terkait yang mendiami Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu, 22 Januari 2025.

Mesbah tempat ritual sakral Tuba Ile berjarak sekira 2 kilometer dari pusat erupsi. Sebelum berjalan kaki ke sana, tetuah adat berkumpul di rumahnya Suli Puka, warga Dusun Bawalatang, Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang.

Baca juga: Alami Tiga Kali Erupsi Dalam 66 Menit, Kolom Abu Lewotobi Setinggi 1.300 Meter

 

Semua fasilitas dan perlengkapan Tuba Ile mendapat berkat oleh Pater Aloysius Making, SVD. Sang imam katolik di Paroki Maria Ratu Semesta Alam Hokeng ini juga memberkati tetuah adat dan para simpatisan.

Utusan masing-masing suku serta simpatisan berjumlah kurang lebih 40 orang berjalan kaki melewati tanah terjal sejauh 3 kilometer dari Dusun Bawalatang. Perjalanan memakan waktu sekira 2 jam lamanya.

Mengenakan busana adat, membawa sesajen, dan menggendong anak kambing untuk hewan kurban, ritus Tuba Ile berjalan dalam suasana mendung. Kemungkinan terjadi hujan di sekitar Gunung Lewotobi Laki-kaki dan Gunung Lewotobi Perempuan, dua puncak gunung bermetafora 'Suami-Istri'.

Tetuah adat suku pemilik Gunung Lewotobi, Tobias Lewotobi Puka, Mengatakan Tuba Ile digelar berdasarkan kesepakatan antar semua elemen khususnya tetuah adat sejak tanggal 8 Desember 2024.

Selama proses ritual, imbuhnya, wajib menjaga tutur kata dan sopan santun. Siapa saja tidak boleh mendokumentasikan proses inti Tuba Ile di kawasan mesbah.

"Hanya boleh di tempat ini (rumah tetuah suku, Suli Puka), di atas itu jangan," pinta pria yang membalut kepalanya dengan kain tenun itu.

Baca juga: Bantuan untuk Pengungsi Lewotobi Diduga Dijual, Polisi Amakan 3,5 Karung Beras

Tobias mengatakan, Gunung Lewotobi diyakini sebagai nenek moyang atau leluhur. Bencana selama satu tahun hingga letusan dahsyat 3 November 2024 tak terlepas dari respons alam atas perbuatan menyimpang manusia.

"Mohon ampun atas segala yang sudah kita lakukan terhadap alam semesta, terkhususnya gunung. Kita minta ampun sekaligus ucapan terima kasih. Bukti dari dua hal ini, kita berikan sesajian ke gunung," ungkapnya.

Sesuai rencana awal, ritual Tuba Ile di kawasan Gunung Lewotobi diikuti 20-an orang. Pihaknya tak melarang partisipasi simpatisan yang ingin menyaksikan secara langsung, namun wajib taat dengan segala rambu-rambu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved