Minggu, 3 Mei 2026

Opini Paskah 2025

Kamis Putih Buat Pemimpin Pemerintahan

Para pemimpin pemerintahan, baik daerah maupun nasional sedang dihadapkan berbagai perubahan kehidupan di dunia.

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Kamis Putih Buat Pemimpin Pemerintahan
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
MISA KAMIS PUTIH-Misa Kamis Putih di Rutan Maumere dipimpin Uskup Maumere. 

Berbagai perubahan yang tengah berlangsung bersifat mendua, memberi harapan, tetapi satu sisi mencemaskan. Boleh dikatakan, masyarakat Indonesia memiliki harapan, karena kemampuan mengatasi permasalahan hidupnya dengan nalar dan bakat pribadi yang cukup. Pengembangan nalar dan potensi lain memampukan masyarakat Indonesia menciptakan sarana dan pra sarana untuk menanggulangi masalah kehidupan dan penghidupan untuk meningkatkan taraf dan kesejahteraan hidupnya. 

Timbul juga kesadaran bahwa masyarakat Indonesia, apa pun ras dan latar belakangnya di mana pun wilayah asal dan tempat kediamannya, pemerintah maupun rakyat sama-sama memiliki rumah bangsa Indonesia, memiliki ideologi yang sama, yakni pancasila. Karena itu, perlu keja sama untuk menemukan jalan membangun kehidupan berbangsa dan bernegara demi kepentingan dan kelayakan hidup seluruh rakyat Indonesia. Solidaritas antarkelompok, dialog dan kerja sama dalam iklim saling menghargai dicanangkan dan diyakini sebagai keharusan. 

Namun, tanpa disadari bahwa perkembangan SDM tidak selalu dapat dikuasai dan diarahkan untuk kepentingan  bersama. Ada saja pihak yang ingin memanfaatkan semua itu demi kepentingan diri dan keluarganya. Tanpa terkecuali para pemimpin pemerintahan maupun pemimpin lembaga-lembaga kehormatan terbius oleh tawaran rupaih dalam jumlah fantastik. Demikian pula, situasi ketidaksamaan, penindasan, perampasan, korupsi, kolusi, nepotisme, perbedaan ideologi, kelompok yang satu tidak selalu dapat hidup serasi dengan kelompok yang lain dalam satu wilayah tertentu. 

Situasi dan kondisi kehidupan masyarakat kecil, keluarga-keluarga di pedasaan Indonesia belum mencapai taraf kemajuan dan kesejahteraan hidup, lantaran kelimpahan potensi alam yang mereka miliki diuasai oleh para cukong, orang-orang asing, dan para penguasa. Akibatnya, masih banyak yang disiksa kelaparan, dan kekurangan akibar kekuasaan dan kebijakan yang belum tepat sasar. Banyak kaum muda dan anak-anak yang memiliki kemampuan dan keterampilan, tetapi tidak diberi kebebasan berpendidikan secara gratis. Berbagai kebijakan pemerintah dipandang belum menjawab dan memenuhi harapan masyarakat yang sesungguhnya. Dunia Indonesia sepertinya sedang ditarik ke kutub-kutub yang bertentangan politik, sosial, ekonomi, ras, ideologi, dan adanya bahaya penindasan struktural pemerintahan dengan kekuatan-kekuatan kemanusiaan. 

 

 

Baca juga: BREAKING NEWS : Ribuan Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng Asistensi Paskah 2025

 

 

Situasi mendua yang dirasakan masyarakat Indonesia menimbulkan “ketidakserasian” besar antarlapisan masyarakat, terlebih antara “omon-omon”, kebijakan, dan tindakan nyata. Ketidakserasian antara masyarakat yang kaya dan miskin, yang berpendidikan dan tidak berpendidikan, membawa dampak saling curiga dan permusuhan, konflik dan malapetaka, yang korbannya adalah “yang lemah dan tidak memiliki banyak”. Berbagai wujud patologi tercermin dalam sikap dan tindakan para pemimpin pemerintahan yang belum pro pada rakyatnya.

 

Semangat Perjamuan dan Pembasuhan Kaki

Dalam situasi yang serentak memberi harapan dan membawa kecemasan ini, pemerintah perlu menggalang satu semangat yang sama dengan harapan masyarakat. Tidak slaah juga kalau para pemimpin pemerintah bercermin dari makna dan pesan perayaan Kamis Putih umat Kristiani. Pertama, perjamuan malam terakhir menunjukkan pernyerahan diri Yesus secara total sebagai ungkapan kasih sehabis-habisnya untuk keselamatan umat manusia (Yoh. 13:2). Dengan mengidentifikasi roti dengan tubuh-Nya, Yesus menyerahkan seluruh diri-Nya. Dengan mengidentifikasikan anggur, Yesus menyerahkan seluruh hidup-Nya. 

Model sikap penyerahan diri ini, baik tercermin juga dalam diri para pemimpin pemerintahan.  Para pemimpin pemerintahan, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan kota, provinsi, dan pemerintah pusat besrta jajaran masing-masing; para pemimpin lembaga-lembaga negara dan jajaran masing-masing perlu menyadari bahwa masyarakat adalah diri mereka sendiri. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat Indonesia adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan mereka juga. Artinya, suka-duka rakyat harus menjadi suka-duka pemimpinnya. Karena itu, penyerahan dan pemberian diri merupakan sikap tepat pemimpin pemerintah yang tercermin dalam program pembangunan yang merata, yang lebih memerioritaskan masyarakat kecil, miskin, dan tertindas. Sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab dalam tatanan pemerintahan, pemimpin perlu berusaha untuk selalu membangun kemajuan dan kesejahteraan, tanpa mnyampingkan aspek keadilan dan kemanusiaan. 

Pemimpin yang memberi diri adalah pribadi yang berusaha supaya paham-paham dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, bukan saja dipelajari dan dipahami, tetapi terutama dilaksanakan dalam keteladanan hidup dan diamalkan dalam kehidupan setiap masyarakat dan kelompok masyarakat yang dipimpinnya. 

Kedua, pembasuhan kaki sebagi wujud pelayanan dalam kerendahan hati. Pembasuhan kaki sebagai pelayanan adalah teladan yang diberikan oleh Yesus agar para murid-Nya melakukan hal yang sama, yaitu saling melayani. “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, sebab aku telah memberikan suatu teladan  kepada kamu, supaya kamu berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:14—15). 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved