Berita Nasional
Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Libatkan 120 Sejarawan-Arkeolog, Bakal Dirilis 17 Agustus 2025
Kurang lebih 120 sejarawan hingga arkeolog terlibat dalam penulisan ulang sejarah Republik Indonesia (RI) yang digagas Kementerian Kebudayaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/mapala-unipa.jpg)
TRIBUNFLORES.COM, JAKARTA- Kurang lebih ada 120 sejarawan-arkeolog terlibat dalam penulisan ulang sejarah Republik Indonesia (RI) yang digagas Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud).
Dilansir dari Kompas.Com, Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia Susanto Zuhdi menjadi Ketua Tim Penulisan Ulang Sejarah RI itu. Ia menyebut sekitar 113 hingga 120 terlibat dalam program ini, ungkapnya pada Rabu (14/5/2025).
Menurutnya program ini sudah dikerjakan sejak Januari 2025 lalu. Prosesnya tengah berjalan selama sekitar 5 bulan.
Ahli di bidang sejarah maritim dan sejarah nasional ini mengungkapkan dirinya turut didampingi dua sejarawan lain menjadi editor umum di program tersebut.
Dua sejarawan tersebut yakni Guru Besar dari Universitas Diponegoro (Undip) Singgih Tri Sulistiyono dan Guru Besar dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jajat Burhanuddin.
Baca juga: Liburan Lebaran 2025, Ini 5 Museum Destinasi Wisata Edukasi Anak Sekolah di NTT
Bukan hanya sejarawan, namun proses penulisan ulang sejarah RI juga melibatkan para arkeolog di Indonesia. Kemudian, ia mengungkap, banyak sejarawan muda yang dilibatkan dalam program ini.
"Bahkan itu tidak hanya sejarah ya, artinya arkeologi ya, karena kan periode-periode lama kan itu arkeolog yang berperan," ujarnya.
Susanto merincikan, dalam 10 jilid buku sejarah versi terbaru tersebut akan menjelaskan sejak periode prasejarah hingga era manusia kontemporer di Indonesia. Asal-usul nenek moyang serta percampuran budaya dengan dunia luar juga akan turut dimuat.
"Jadi kita mencari asal-usul memberikan penggambaran ya identitas kita sebagai bangsa, sejak awal tadi itu sampai masa kontemporer, begitu," tuturnya.
Baca juga: Wamen Kebudayaan Dialog dengan Seniman-Budayawan di Kupang
"Ya kan pengalaman bangsa ini kan jatuh bangun ya kan, nggak ada yang bagus, yang buruk, ya sejarah itu kan cermin sebetulnya gitu, ya kita harus jujur dengan sejarah kita kalau kita mau maju, kita mau maju harus mempelajari sejarah kan, apapun sejarah yang pernah kita miliki gitu ya, ini kan bangsa yang cerdas, bangsa yang pandai mengambil pelajaran dari sejarah, bukan begitu," jelas Susanto.