Berita Sikka
Menyimpul Cerita Perwakas di Kota Maumere
-Pada era 90-an, Pelabuhan Sadang Bui Maumere (nama lokal Pelabuhan Lorens Say) menjadi salah satu tempat nongkrong favorit anak muda. Aktivitasnya ta
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Susur-Selubung.jpg)
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Pada era 90-an, Pelabuhan Sadang Bui Maumere (nama lokal Pelabuhan Lorens Say) menjadi salah satu tempat nongkrong favorit anak muda. Aktivitasnya tak sebatas bongkar muat penumpang dan barang.
Selain pasar, pelabuhan jadi ruang bertemu warga dari pelbagai latar belakang. Di Sadang Bui, penampakan kapal yang sandar bertaut dengan interaksi antar warga yang terjadi secara organik.
Situasi ini kembali dikenang anggota Persatuan Waria Kabupaten Sikka (Perwakas): Haji Mona, Mak Wahidah, Yolanda Adam dan Silvia Chipy dalam acara Susur Selubung: Simpul Cerita Perwakas, Minggu, 18 Mei 2025 sore.
Susur Selubung merupakan salah satu program dalam Festival Maumerelogia 5 berbentuk susur kota/kampung sembari menguak cerita di baliknya: Bertolak dari pertanyaan inti, mengapa tempat tersebut penting untuk suatu komunitas warga.
Baca juga: Cru Father Said Rilis Album Terminal 7, Terinspirasi Dari Musisi Legendaris Papache
Haji Mona masih ingat, laki-laki, perempuan, tua dan muda setiap hari menjadikan Pelabuhan Sadang Bui tempat mangkal kala itu. Sadang Bui penting bagi komunitas waria di Maumere karena dari tempat ini mereka bisa mulai saling kenal satu sama lain dan mulai menumbuhkan kesetiakawanan.
"Waktu itu kami belum diterima masyarakat. Kami dipukul, disakiti. Tapi kami mau tunjuk bahwa inilah kami," kenang Haji Mona di hadapan para seniman peserta Susur Selubung.
Dari Sadang Bui, beberapa waria juga berkenalan dengan para pelaut yang membuka akses untuk mereka mencari pekerjaan di luar Flores. Ada yang pergi ke Surabaya dan bergabung dengan Persatuan Waria Kota Madya Surabaya (Perwakos).
Pertemuan dengan Perwakos kemudian menginspirasi para waria pulang ke Maumere dan membentuk suatu komunitas yang sekarang dikenal dengan nama Perwakas.
Yolanda juga punya kenangan tersendiri tentang Sadang Bui.
Sewaktu masih muda, dia dan teman-teman waria juga sering mencari ikan di laut untuk memenuhi kebutuhan harian. Mereka memakai perahu yang semua nelayan di dalamnya adalah waria.
Dari Sadang Bui, rombongan Susur Selubung kemudian berjalan kaki menuju ke Monumen Tsunami di area pertokoan Kota Maumere. Dulunya, sebelum ada Monumen Tsunami, tempat itu merupakan ruang publik yang juga menjadi tempat mangkal para waria di Kota Maumere.
“Di sini, tempat kami saling kenal antara yang senior dan junior,” kata Silvi Chipy.
Ada banyak cerita yang bergulir jika mengingat lagi masa-masa mereka masih sering berkumpul dan mencari uang di lokasi tersebut.
Baca juga: Miras Modern Dibiarkan, Moke Tradisional Disita, DPRD Ende Kritik Keras Operasi Pekat
Saat ada razia malam dari pihak kepolisian, para waria biasanya menyelamatkan diri melewati lorong-lorong sempit di pertokoan. Ada juga yang pernah tertangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk pembinaan.
“Sekarang sudah tidak ada (waria yang mangkal di monumen tsunami) karena semua sudah punya usaha masing masing,” Yolanda mengenang.
| Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu di Kecamatan Omesuri dan Buyasuri |
|
|---|
| Cru Father Said Rilis Album Terminal 7, Terinspirasi Dari Musisi Legendaris Papache |
|
|---|
| Miras Modern Dibiarkan, Moke Tradisional Disita, DPRD Ende Kritik Keras Operasi Pekat |
|
|---|
| Warga Minta Bangun Tembok Penahan Tebing di Titik Bekas Longsor Jalan Ruteng-Borong |
|
|---|