Berita Sikka
Menyimpul Cerita Perwakas di Kota Maumere
-Pada era 90-an, Pelabuhan Sadang Bui Maumere (nama lokal Pelabuhan Lorens Say) menjadi salah satu tempat nongkrong favorit anak muda. Aktivitasnya ta
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Susur-Selubung.jpg)
Rombongan kemudian menyusuri lorong-lorong pertokoan dan pemukiman rumah warga.
Sembari berjalan kaki, para peserta Susur Selubung juga bertanya tentang pengalaman personal para waria di tengah masyarakat dan bagaimana gerakan waria di Maumere tumbuh.
Tur ini dipandu langsung oleh Carlin Carmadina dan Silvi Chipy dari Komunitas KAHE.
Lokasi yang dituju berikutnya adalah Gedung L3KI Paroki St. Thomas Morus, Maumere. Tempat ini bersejarah untuk gerakan waria di Maumere.
Pada 23-24 Desember 1998, mereka berkumpul untuk membahas pendirian organisasi. Pertemuan ini difasilitasi oleh Lambertus Purek, seorang aktivis dan pendiri Yayasan Cinta Kehidupan (YCK).
Nama organisasi yang dipilih adalah Perwakas. Sebuah organisasi waria pertama pun terbentuk di Flores.
Beberapa waria kemudian membuka usaha salon, ikut dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan gereja, terlibat dalam pertandingan voli, mengikuti lomba kecantikan di dalam dan luar kota.
Sekarang bahkan ada yang ditunjuk sebagai ketua RT, aparat desa dan rupa-rupa peran mereka lakoni di tengah masyarakat.
Berkat aktivisme ini, beberapa pentolan senior Perwakas diundang ke Ende, Lembata, Larantuka, Kupang dan Manggarai. Gerakan waria pun tumbuh di kota-kota lain di Flores dan membentuk organisasi mereka sendiri.
Titik terakhir Susur Selubung adalah Rumah Jabatan Wakil Bupati Sikka (dulu Rumah Jabatan Bupati). Setelah terbentuk di gedung LK3I, Lambertus Purek dan Perwakas kemudian bertemu Gerardiana Moa, istri dari Bupati Paulus Moa, untuk mendeklarasikan organisasi Perwakas dan membicarakan kemungkinan kerjasama yang bisa dilangsungkan antara PKK (Perempuan Kepala Keluarga) dengan Perwakas.
Dalam Susur Selubung hari itu, rombongan berkesempatan bertemu dengan Wakil Bupati Sikka Simon Subandi dan istrinya.
Simon menyambut rombongan Susur Selubung yang juga terdiri dari para seniman dari Jogjakarta, Madura, Jayapura, Surabaya dan Jakarta.
Fikril Akbar, seniman dari Madura, mengatakan penerimaan warga terhadap gerakan waria, dan begitu cairnya warga berbaur dengan waria di Maumere merupakan ‘kemewahan’ yang tidak ada di kota lainnya. Waria di Maumere punya akses yang terbuka dan setara dalam masyarakat.
Mereka bahkan punya kesempatan untuk terlibat dalam politik praktis dan menjadi calon legislatif (caleg), seperti Mami Vera yang juga hadir dalam diskusi di Rujab Wakil Bupati Sikka hari itu.
Wakil Bupati Sikka Simon Subandi menyebutkan pemerintah daerah juga membuka ruang kerja sama dengan Perwakas untuk kerja-kerja sosial kemasyarakatan, aktif dalam kegiatan-kegiatan pemerintah dan juga perlombaan bersama warga.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu di Kecamatan Omesuri dan Buyasuri |
|
|---|
| Cru Father Said Rilis Album Terminal 7, Terinspirasi Dari Musisi Legendaris Papache |
|
|---|
| Miras Modern Dibiarkan, Moke Tradisional Disita, DPRD Ende Kritik Keras Operasi Pekat |
|
|---|
| Warga Minta Bangun Tembok Penahan Tebing di Titik Bekas Longsor Jalan Ruteng-Borong |
|
|---|