Berita Ende
37 Rumah Warga dan Masjid di Maubasa, Ende Terancam Roboh Dihantam Abrasi
Abrasi yang terjadi di wilayah pesisir selatan Pulau Flores termasuk di pesisir Selatan Kabupaten Ende beberapa pekan terakhir mengakibatkan fasilitas
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Ricko Wawo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Abrasi-yang-menghantam-wilayah-pesisir-Desa-Maubasa.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Abrasi yang terjadi di wilayah pesisir selatan Pulau Flores termasuk di pesisir Selatan Kabupaten Ende beberapa pekan terakhir mengakibatkan fasilitas umum terancam roboh dan puluhan rumah warga ambruk.
Beberapa wilayah di Kabupaten Ende yang terdampak abrasi paling parah tahun ini yakni Desa Maubasa, Desa Maubasa Barat dan Desa Maubasa Timur di Kecamatan Ndori.
Kepala Desa Maubasa, Azhar Banda yang berhasil dikonfirmasi TribunFlores.com, Rabu (4/6/2025) pagi melalui telepon selularnya menjelaskan, kondisi terkini di pesisir Selatan Desa Maubasa sudah sangat memprihatinkan.
Ia menyebut, akibat abrasi yang terjadi sepekan terakhir menyebabkan turap penahan abrasi sepanjang kurang lebih 770 meter yang dibangun sekitar 2004 lalu roboh akibat dihantam abrasi.
"Sudah sekitar 70-80 persen sudah roboh semua ini, yang dari ujung barat sampai ke ujung timur di dekat Masjid itu, di samping Masjid Jami Nurul Ikhsan, Maubasa itu sekitar ratusan meter juga sudah roboh semua," terang Azhar.
Baca juga: Perubahan Statuta PSSI: Daerah Akan Jadi Ujung Tombak Sepak Bola Nasional
Selain tembok penahan abrasi, Azhar juga menyebut kurang lebih 37 unit rumah warga roboh akibat dihantam abrasi dan saat ini dikategorikan mengalami rusak berat. Termasuk satu buah rumah ibadah juga terancam roboh dan infrastuktur jalan juga terancam putus.
Abrasi yang terjadi di wilayah itu juga menghantam tambatan perahu yang biasa digunakan para nelayan untuk mendaratkan perahu-perahunya.
Akibatnya, ratusan warga yang tinggal di pesisir pantai terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman atau ke rumah keluarga namun sebagiannya lagi tetap bertahan di rumahnya masing-masing ditengah ancaman abrasi.
Ia bahkan menyebut, abrasi yang terjadi di wilayahnya terjadi setiap tahun dan yang paling parah terjadi pada tahun 2021 lalu dan saat itu pihak BPBD Kabupaten Ende hanya menimbun bagian pesisir pantai menggunakan bebatuan besar sepanjang kurang lebih 55 meter hanya untuk pengamanan bangunan Masjid.
"Kalau tidak dibuat begitu, mungkin Masjid itu sudah ambruk semua sekarang, kalau yang sekarang ini dari pertama terjadinya abrasi itu, dapur warga, MCK, bahkan beberapa rumah warga terbawa arus laut, warganya sementara belum dievakuasi karena terkendala lahan dan kalaupun kami evakuasi kami Pemdes tidak bisa berbuat apa-apa karena kami tidak punya apa-apa, kita berharap dari Pemda yang turun langsung," tutur Azhar.
Ia juga menyebut, pihak BPBD Kabupaten Ende sudah beberapa melakukan survei untuk pembangunan tembok penahan abrasi namun hingga saat ini belum ada realisasi.
Baca juga: Ketua Bawaslu Manggarai Kembalikan Rp1,1 Miliar ke Kas Daerah
"Beberapa bulan lalu itu dari BPBD Ende dan pihak dari Bali sudah datang survei setelah kejadian terakhir," kata Azhar.
Ia menyebut, apabila terjadi abrasi pihaknya melaporkan ke BPBD Kabupaten Ende dan mendapat bantuan darurat permakanan dan bantuan darurat lainnya.
Ia berharap, pemerintah daerah hingga pusat segera merealisasikan rencana pembangunan tembok penahan abrasi di wilayah pesisir Desa Maubasa guna meminimalisir dampak yang lebih parah.
"Ini ke depannya menjelang bulan Desember dan Januari dan Februari, itu sudah mulai musimnya," kata Azhar.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Ende Marselus Ekleanus Meta melalui Sekretaris BPBD, Yulius Emanuel Riwu mengakui abrasi yang terjadi di pesisir selatan Kecamatan Ndori termasuk Desa Maubasa merupakan kejadian berulang setiap tahun.
"Beberapa waktu lalu itu kami sudah lakukan survei terkait pembangunan tembok penahan abrasi yang rencananya bersumber dari dana rehab rekon BNPB dengan orang dari Balai Teknik Pantai, Bali, kami minta advis teknis jadi sebenarnya desainnya sudah ada, sudah kami buat dari tahun kemarin hanya masih ada pertimbangan teknis dari Balai Teknik Pantai dan mereka sarankan untuk merubah design dan gunakan batu sebagai penghalang, jadi memang disitu sudah ada agenda pemerintah untuk penanganan lebih bagus," jelas Yulius.
Ia juga menghimbau warga pesisir selatan di Kecamatan Ndori agar selalu waspada terhadap abrasi mengingat ombak pantai selatan yang ganas yang kerap mengancam warga.
Di tahun 2025, selain Kecamatan Ndori, wilayah pesisir selatan Kabupaten Ende lainnya yang kerap mengalami abrasi diantaranya Nangapanda, Rate, Paupanda dan beberapa wilayah pesisir selatan lainnya.
Ia menyebut, hingga saat ini pihaknya belum menerima data kerusakan yang diakibatkan dari abrasi yang terjadi di wilayah pesisir selatan Kabupaten Ende. (bet)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Perubahan Statuta PSSI: Daerah Akan Jadi Ujung Tombak Sepak Bola Nasional |
|
|---|
| Patrick Kluivert Optimistis Jelang Duel Krusial Lawan Tiongkok |
|
|---|
| Terima Surat Resmi Kemenkes RI Tentang Covid-19, Dinkes Manggarai Timur Minta Puskesmas Ikuti |
|
|---|
| Datangi Kantor Bupati Ende, Puluhan Guru Tagih Tunjangan Triwulan IV 2024 |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.