Rabu, 22 April 2026

Waspada Cuaca Ekstrem

BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem saat Musim Kemarau

Badan Meteorolgi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan potensi cuaca ekstrem dapat terjadi saat musim kemarau.

Tayang:
Editor: Cristin Adal
zoom-inlihat foto BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem saat Musim Kemarau
TRIBUNFLORES.COM/KRISTIN ADAL
HUJAN LEBAT- Hujan lebat mengguyur Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (31/3/2024). 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Badan Meteorolgi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan potensi cuaca ekstrem dapat terjadi saat musim kemarau.

Dalam prosepek cuaca sepekan 5-11 Agustus 2025, BMKG memantau adanya potensi peningkatan curah hujan terutama di wilayah Indonesia Tengah hingga Timur, meskipun sudah hampir separuh dari wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. 

Fenomena ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang memberikan peran dalam pertumbuhan awan hujan. Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia barat daya Bengkulu secara tidak langsung membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di sepanjang pulau Jawa dan Pesisir Barat Sumatra bagian selatan. 

Selain itu, kombinasi gelombang Low–Frequency dan Mixed Rossby-Gravity, didukung dengan suhu muka laut (SST) yang hangat di sejumlah perairan Indonesia juga berkontribusi terhadap peningkatan kandungan uap air di atmosfer yang memperkuat pembentukan awan hujan.

Menghadapi kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi meskipun musim kemarau telah tiba. Potensi terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang tetap ada.

 

Baca juga: Prakiraan Cuaca Flores Hari Ini: Manggarai, Ngada dan Ende Potensi Hujan Sedang-Lebat

 

 


 

Dinamika atmosfer sepekean ke depan

Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini, potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan meningkat dalam sepekan ke depan. 

Kondisi ini didukung oleh berbagai faktor, mulai dari skala global, regional, hingga lokal, yang secara kolektif menciptakan kondisi atmosfer yang labil dan kondusif untuk pembentukan awan-awan hujan dengan intensitas bervariasi.

Analisis kondisi iklim global menunjukkan ENSO berada pada kategori netral. Sementara itu, nilai Dipole Mode negatif (-0.6) turut memberikan kontribusi pada peningkatan suplai uap air di Samudra Hindia barat Sumatra. 

Dari faktor global lainnya, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi akan tetap aktif di Samudra Hindia Barat Sumatra hingga pertengahan Agustus 2025 mendatang. 

Aktifnya MJO ini akan berkombinasi dengan gelombang atmosfer lain seperti Kelvin, Rossby Ekuator, dan gelombang Low Frequency yang persisten, terutama di Samudra Hindia barat daya Sumatra, perairan selatan Jawa hingga NTT, Selat Makassar, dan sebagian besar wilayah Indonesia bagian timur, yang secara signifikan meningkatkan potensi aktivitas konvektif di wilayah tersebut.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved