Kasus TBC di Sabu Raijua
92 Warga Sabu Raijua NTT Idap Penyakit TBC, Dinkes Gencar Screening
Dinas Kesehatan gencar melakukan screening kesehatan sebagai antisipasi untuk mendeteksi adanya penyakit TBC pada masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/BERI-KETERANGAN-Kepala-Dinas-Kesehatan-Pengendalian-Penduduk.jpg)
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei
TRIBUNFLORES.COM, SEBA - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sabu Raijua mencatat sebanyak 92 kasus tuberkulosis (TBC) dari bulan Januari hingga Agustus 2025.
Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sabu Raijua, Thobias Jusuf Messakh, S.KM saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, Rabu (13/8/2025).
Thobias menyebut, kasus TBC yang ada di Kabupaten Sabu Raijua didominasi oleh usia produktif yaitu 20 hingga 49 tahun.
“Jadi untuk kasus TB yang diobati dari bulan Januari sampai Agustus ada 92 kasus dan 3 kasus sembuh,” kata Thobias.
Baca juga: 229 Warga Manggarai NTT Idap TBC, 9 Orang Meninggal Dunia
Saat ini, kata Thobias, Dinas Kesehatan gencar melakukan screening kesehatan sebagai antisipasi untuk mendeteksi adanya penyakit TBC pada masyarakat.
“Saat kami gencar lakukan screening dan kalau ada yang sudah terkena (TBC), kami akan lakukan screening di rumahnya untuk seluruh anggota keluarga juga,” kata Thobias.
Dikatakan Thobias, untuk penderita TBC diberikan bantuan dari dana DAU, dalam hal untuk meningkatkan asupan gizi.
“Jadi kita berikan mereka (penderita tbc) susu selama 6 bulan selain daripada obat yang ada. Selain itu ada juga organisasi di Sabu Raijua ini yang terdiri dari dokter, bidan tenaga medis dan lainnya, yang mana semuanya kita kumpul uang untuk membeli telur lalu memberikan telur itu kepada penderita ini selama dua bulan,” tuturnya.
Terkait dengan ketersediaan ruangan isolasi, kata Thobias sudah tersedia di Rumah Sakit dan Puskesmas yang ada di Sabu Raijua.
“Saat ini juga dalam pemberian terapi tb ini kita lakukan secara selektif dan kita gencar memberikan edukasi lalu berikan obat. Kita pernah juga kunjung ke rumah warga memberikan edukasi. Jadi yang kami utamakan adalah preventif yaitu kita temukan mereka sejak dini, kalau dalam rumah sudah ada penderitanya, kita juga perlu antisipasi bagaimana caranya agar tidak tertular kepada yang lain,” tuturnya.
Menurut Thobias, dukungan dari keluarga penderita sakit sangat penting juga dalam proses penyembuhan.
“Jadi support keluarga untuk yang menderita sakit itu sangat penting dalam proses penyembuhan juga karena ini juga terkait psikologis penderita,” ujarnya. (Mey)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News