Minggu, 3 Mei 2026

HUT ke 80 RI

Teni, Siswi SD Charis Bacakan Ratapan Anak Hamba saat Karnaval di Sumba Timur

Anak hamba adalah golongan paling bawah dan memiliki kewajiban untuk melayani keluarga bangsawan.

Tayang:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Teni, Siswi SD Charis Bacakan Ratapan Anak Hamba saat Karnaval di Sumba Timur
POS-KUPANG.COM/IRFAN BUDIMAN
BACA SURAT - Shalom Dominique Teni Hawu siswi kelas 6 SD Charis Sumba saat membaca surat "Anak Hamba" saat Karnaval Kemerdekaan di Sumba Timur NTT, Rabu 13 Agustus 2025. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman

TRIBUNFLORES.COM, WAINGAPU - Shalom Dominique Teni Hawu, siswi kelas 6 di SD Charis National Academy Sumba membacakan ratapan "anak hamba" saat mengikuti karnaval kemerdekaan HUT ke 80 Republik Indonesia, Selasa (12/8/2025).

Dengan lirih, Teni Hawu (11) menyoalkan strata sosial yang ada di wilayah ini.

Ia mengatakan, kedatangannya membawa suara anak hamba yang tidak mendapatkan bangku pendidikan karena dianggap rendah oleh silsilah dan status keluarga.

Anak hamba adalah golongan paling bawah dan memiliki kewajiban untuk melayani keluarga bangsawan. Status ini diwariskan secara turun-temurun.

Baca juga: Pesona Pantai Puru Kambera di Sumba Timur NTT, Pesisirnya Ada Pohon Cemara 

 

Berikan ratapan yang dibacakan Teni Hawu.

Kami datang tidak hanya membawa suara, tetapi membawa luka luka yang diwariskan turun-temurun tentang anak-anak hamba, yang terbelenggu oleh tembok tak kasat mata bernama strata sosial.

Kami resah karena tanah yang kaya akan budaya ini, masih ada anak-anak cerdas yang tak pernah duduk di bangku sekolah, terhalang menggapai mimpi, hanya karena lahir dari garis yang dianggap paling rendah.

Kami datang untuk menyuarakan, bahwa mimpi tidak boleh ditentukan oleh silsilah dan masa depan tidak boleh dibatasi oleh status.

Selain ratapan anak hamba yang dibacaan Teni Hawu, siswa/i SD Charis juga memperagakan praktik perbudakan hamba di Sumba Timur.

Dalam aksi itu, seorang anak hamba diperlihatkan kesehariannya hanya menuruti perintah tuannya. Padahal, menurut mereka, ia harus berada dibangku sekolah. Sebagaimana anak seusianya.

Jesinta Natar, staf di sekolah itu saat ditemui POS-KUPANG.COM mengatakan, aksi tersebut adalah realitas sosial di Sumba Timur.

"Di sini masih ada strata sosial. Anak-anak yang dari garis keturunan hamba susah untuk menempuh pendidikan. Bahkan, mereka hanya bekerja di rumah tanpa dibayar," katanya.

"Kita sudah merdeka tetapi masih ada penjajahan seperti itu," lanjutnya.

Anak hamba, kata Jesinta, memiliki hak seperti anak-anak lain dalam pendidikan demi masa depan yang lebih baik.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved