Berita Ende
Program KIJAHAR di SMAN 1 Ende Batasi Penggunaan Handphone Bagi Siswa
Program KIHAJAR melibatkan seluruh komponen pendidikan, mulai dari pihak sekolah, orang tua, komite sekolah, hingga unsur pemerintah
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Hilarius Ninu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Peluncuran-di-SMAN-1-Ende-NTT.jpg)
Usai peluncuran, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara kesepakatan bersama oleh Kepala SMAN 1 Ende, pengurus komite sekolah, unsur pemerintah yang hadir, serta Ketua OSIS SMAN 1 Ende.
Kepala SMAN 1 Ende, Marselinus Sina, mengatakan program KIHAJAR merupakan inisiatif sekolah bersama komite sebagai bentuk gerakan bersama untuk mendorong budaya belajar siswa, baik di sekolah maupun di rumah.
Menurutnya, program ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi belajar anak yang dinilai semakin menurun, terutama akibat pengaruh penggunaan handphone atau gadget yang berlebihan.
“Ketika pulang sekolah, sebagian besar anak tidak lagi belajar dan justru berkeliaran di luar rumah. Ini menjadi kegelisahan kita bersama, sehingga semua pihak harus mengambil peran untuk mendorong anak-anak kembali belajar,” ujar Marselinus.
Melalui program KIHAJAR, sekolah dan orang tua sepakat untuk menertibkan penggunaan handphone serta menerapkan jam wajib belajar di rumah sebagai tanggung jawab bersama.
“Di sekolah, melalui wali kelas, handphone siswa kami kumpulkan sejak masuk sekolah dan hanya diberikan jika dibutuhkan untuk pembelajaran. Kami berharap orang tua di rumah juga membatasi penggunaan HP agar anak bijak menggunakannya,” katanya.
Terkait penerapan jam belajar di rumah, pihak sekolah akan menyiapkan jurnal refleksi siswa sebagai alat kontrol yang ditangani langsung oleh wali kelas.
Sementara itu, Ketua Komite SMAN 1 Ende, Yustinus Sani, mengatakan orang tua mendukung penuh pelaksanaan program KIHAJAR demi peningkatan kualitas pendidikan anak.
“Kami mendukung dan siap mengikuti proses ini. Kami juga sadar bahwa saat ini sangat sulit mengatur anak-anak terkait penggunaan HP,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, komite sekolah meminta agar pihak sekolah mewajibkan pemberian pekerjaan rumah (PR) setiap hari kepada siswa.
Menurut Sani, PR menjadi salah satu cara efektif untuk mendorong anak belajar secara rutin di rumah.
“Sekolah harus memberikan PR setiap hari dan guru wajib memeriksanya di sekolah agar anak tidak malas dan tidak kecewa,” tegasnya.
Selain itu, ia juga meminta agar sekolah menciptakan iklim belajar yang kondusif dan nyaman bagi siswa.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Wilayah V, Abdurahman Rasyd, mengatakan Pemerintah Provinsi NTT dalam waktu dekat juga akan meluncurkan kebijakan jam belajar siswa untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan.
Ia mengapresiasi langkah SMAN 1 Ende yang dinilai sebagai sekolah pertama di NTT yang menginisiasi program jam belajar siswa berbasis kolaborasi dengan orang tua.