Selasa, 28 April 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Mahasiswa Unika Ruteng Ungkap Dilema Sopir Angkot, Terjepit Harga BBM dan Transportasi Online

Jika sebelumnya ia mampu membawa pulang penghasilan bersih hingga Rp 300.000 per hari, kini untuk mendapatkan

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Mahasiswa Unika Ruteng Ungkap Dilema Sopir Angkot, Terjepit Harga BBM dan Transportasi Online
Tribunnews.com/POSKUPANG.COM/HO-UNIKA RUTENG
FOTO - Mahasiswa Unika Ruteng saat melaksanakan liputan terkait persoalan yang dihadapi sopir angkot di Ruteng. 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga BBM membuat penghasilan sopir turun, dari sekitar Rp300 ribu menjadi sulit mencapai Rp100 ribu per hari.
  • Masyarakat lebih memilih layanan berbasis aplikasi yang lebih praktis, sehingga penumpang angkot berkurang.
  • Sopir berharap ada regulasi adil, subsidi, atau pembatasan agar angkot tetap bisa bertahan di tengah perubahan.

Oleh: Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Kristina Fantesa, Plasida Marisa Paduk, Angelina Suryanti Jemimun, Paskalis Febri Supardi

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Sektor transportasi konvensional di Ruteng, Kabupaten Manggarai, tengah menghadapi tekanan berat.

Para sopir angkutan kota (angkot) mengeluhkan penurunan pendapatan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan semakin berkembangnya layanan transportasi berbasis aplikasi.

Emil (25), sopir angkot yang telah bekerja selama lebih dari sembilan tahun, mengaku kondisi saat ini merupakan yang terberat sepanjang kariernya.

Jika sebelumnya ia mampu membawa pulang penghasilan bersih hingga Rp 300.000 per hari, kini untuk mendapatkan Rp 100.000 saja menjadi sulit.

 

Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng Soroti Tes Kompetensi Akademik: Solusi Evaluasi atau Beban Baru Siswa?

 

 

“Sekarang cari Rp 100.000 saja susah. Harga BBM naik terus, tapi tarif angkot tidak bisa dinaikkan sembarangan karena takut penumpang beralih,” ujarnya saat ditemui di pangkalan Pitak, Sabtu (11/4/2026).

Selain tekanan biaya operasional, kehadiran transportasi online menjadi tantangan utama. Menurut Emil, masyarakat kini lebih memilih layanan berbasis aplikasi karena dinilai lebih praktis dan nyaman.

“Penumpang sekarang ingin dijemput langsung di rumah. Angkot harus menunggu penuh dulu baru jalan, itu yang membuat kami kehilangan pelanggan,” katanya.

Tidak Semua Paham Aplikasi 

Meski demikian, beralih ke transportasi online bukan solusi mudah bagi semua sopir. Keterbatasan usia dan kemampuan dalam mengoperasikan ponsel pintar menjadi kendala tersendiri.

“Tidak semua dari kami paham aplikasi,” tambahnya.

Untuk bertahan, banyak sopir terpaksa memperpanjang jam kerja. Jika sebelumnya beroperasi hingga pukul 17.00 WITA, kini mereka harus bekerja hingga malam hari demi menutupi biaya operasional dan setoran.

“Kadang bensin yang terbakar tidak sebanding dengan pendapatan. Kami hanya bisa bertahan,” ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved