Minggu, 31 Mei 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Ramir Santos Austria di ICHELAC 6 Ingatkan Peran AI Harus Layani Manusia, Bukan Menggantikannya

Pendidikan berpusat pada manusia, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu proses belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir.

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Ramir Santos Austria di ICHELAC 6 Ingatkan Peran AI Harus Layani Manusia, Bukan Menggantikannya
TRIBUNFLORES.COM/HO-UNIKA ST PAULUS RUTENG
PAKAR - Dr. Ramir Santos Austria dari University of the Cordilleras, Filipina, saat menyampaikan pemaparannya dalam konferensi internasional ICHELAC 6 yang digelar oleh Unika Santu Paulus Ruteng, Manggarai, NTT, Jumat (29/5/2026). Dalam materinya, ia menekankan pentingnya menjaga martabat manusia dan etika di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan. 

Ringkasan Berita:
  • Dr. Ramir Santos Austria dari University of the Cordilleras, Baguio City, Filipina, saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam The Sixth International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (ICHELAC 6)
  • Pendidikan wajib berpusat pada manusia (human-centered education). AI harus ditempatkan sebagai alat bantu proses belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, atau ruang interaksi sosial.
 

 

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terbukti mengubah wajah pendidikan global lewat akses informasi yang cepat dan personalisasi pembelajaran. Namun, teknologi ini tidak boleh menggeser peran dan martabat manusia dalam ekosistem akademik.

Pesan kuat tersebut disampaikan oleh Dr. Ramir Santos Austria dari University of the Cordilleras, Baguio City, Filipina, saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam The Sixth International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (ICHELAC 6).

Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam pemaparannya yang bertajuk “Re-centering Human Dignity and Ethical Framework for AI Use in Learning Environments”, Austria mengajak dunia pendidikan merefleksikan kembali batasan penggunaan teknologi.

“Artificial Intelligence membantu kita mengakses informasi dengan lebih cepat, mempersonalisasi pengalaman belajar, meningkatkan efisiensi, dan mendukung inovasi pendidikan. Namun, kita harus mengingat bahwa teknologi tidak menentukan siapa diri kita. Karakter kitalah yang menentukan identitas kita yang sesungguhnya,” tegas Austria di Ruteng, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: Saat AI Ubah Cara Belajar, Rektor Unika Ruteng Ingatkan Hal Ini di Konferensi ICHELAC 6

AI Bukan Penentu Kualitas Manusia

Austria mengingatkan bahwa kehadiran AI bersifat netral. Penggunaannya tidak secara otomatis membuat kualitas seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk, melainkan bergantung pada bagaimana manusia menjaga nilai-nilai kemanusiaannya.

Ia menekankan bahwa pendidikan wajib berpusat pada manusia (human-centered education). AI harus ditempatkan sebagai alat bantu proses belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, atau ruang interaksi sosial.

“Teknologi harus tetap menjadi alat. Manusia harus tetap menjadi pusat pendidikan,” ujarnya.

Ketergantungan yang berlebihan pada AI, lanjutnya, berpotensi menumpulkan kemampuan berpikir mandiri. Padahal, secara historis, manusia terbukti mampu menghasilkan pengetahuan dan memecahkan masalah rumit selama ribuan tahun tanpa bantuan AI.

Ia pun melempar pertanyaan reflektif mengenai kesiapan para peserta didik di masa depan jika akses teknologi terputus.

“Apa yang terjadi jika AI tidak dapat diakses? Apa yang terjadi jika internet tidak tersedia? Apakah peserta didik masih mampu menganalisis, memecahkan masalah, dan membuat keputusan etis secara mandiri?” tanyanya.

Menjaga Identitas Budaya di Era Digital

Selain aspek kognitif, Austria menyoroti tantangan menjaga etika dan identitas budaya di tengah masifnya arus digitalisasi. Menurutnya, esensi pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.

Oleh karena itu, teknologi modern seperti AI semestinya tidak menyeragamkan atau menghapus karakteristik kebudayaan tiap bangsa.

“Baik kita berasal dari Indonesia, Filipina, maupun negara lainnya, warisan budaya membentuk siapa diri kita. AI seharusnya membantu melestarikan dan memperkuat keberagaman budaya, bukan menghilangkannya,” jelas Austria.

Ia menambahkan, kompetensi teknologis yang diadopsi institusi pendidikan harus berjalan beriringan dengan nilai empati, integritas, dan tanggung jawab moral.

Selvianus Hadun/Unika St Paulus Ruteng/Tribun Flores

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved