Unika Santu Paulus Ruteng
Maximus Tamur Dorong Pembelajaran Matematika yang Humanis dan Berbasis Budaya di Era AI
Maximus Tamur, menilai bahwa pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan perlu diimbangi dengan pendekatan yang kontekstual.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Maximus-Tamur-MPddalam-konferensi-internasional-ICHELAC-6.jpg)
Ringkasan Berita:
- Konferensi International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (ICHELAC) 6 yang diselenggarakan secara virtual oleh Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng pada 29–30 Mei 2026.
- Dosen jurusan Pendidikan Matematika Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Maximus Tamur, M.Pd., menilai bahwa pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan perlu diimbangi dengan pendekatan yang kontekstual dan dekat dengan realitas kehidupan siswa.
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan idealnya tidak mengikis dimensi kemanusiaan siswa. Sebaliknya, teknologi harus mampu diberdayakan sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai humanis dan kebudayaan lokal, termasuk dalam pembelajaran matematika.
Gagasan tersebut mengemuka dalam konferensi International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (ICHELAC) 6 yang diselenggarakan secara virtual oleh Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng pada 29–30 Mei 2026.
Dosen jurusan Pendidikan Matematika Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Maximus Tamur, M.Pd., menilai bahwa pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan perlu diimbangi dengan pendekatan yang kontekstual dan dekat dengan realitas kehidupan siswa.
“AI-supported mathematics learning should remain human-centered, culturally responsive, and pedagogically meaningful,” tegas pria yang akrab disapa Dr. Max itu saat memaparkan hasil penelitiannya, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Ramir Santos Austria di ICHELAC 6 Ingatkan Peran AI Harus Layani Manusia, Bukan Menggantikannya
Integrasi AR dan Budaya Lokal
Dalam presentasinya yang bertajuk “Humanizing Mathematics Learning in the Age of Artificial Intelligence: Integrating Culture and Augmented Reality for a Global Learning Ecosystem”, Dr. Max memperkenalkan model pembelajaran matematika baru.
Model tersebut mengintegrasikan teknologi Augmented Reality (AR) dengan konteks budaya lokal. Pendekatan ini memungkinkan siswa mempelajari konsep matematika melalui visualisasi interaktif tiga dimensi yang imersif dan dekat dengan kebudayaan mereka.
Berdasarkan data penelitiannya, penggunaan teknologi AR terbukti ampuh mendukung kreativitas matematis, kemampuan visualisasi, pemahaman konseptual, serta mendongkrak motivasi belajar peserta didik.
Baca juga: Saat AI Ubah Cara Belajar, Rektor Unika Ruteng Ingatkan Hal Ini di Konferensi ICHELAC 6
Meningkatkan Komunikasi dan Pemahaman Spasial
Dalam implementasinya di lapangan, model pembelajaran berbasis budaya dan AR ini dirancang melalui berbagai instrumen penelitian yang ketat, seperti tes matematika, lembar kerja siswa (LKS) berbasis budaya, hingga lembar observasi aktivitas. Seluruh perangkat tersebut juga telah divalidasi oleh para ahli media, ahli pedagogi, dan ahli materi matematika.
Hasil riset menunjukkan dampak positif yang signifikan. Siswa mengalami peningkatan kemampuan komunikasi matematis yang cukup drastis. Mereka menjadi lebih mampu menjelaskan ide-ide matematika secara verbal, mendeskripsikan konsep geometri dengan jelas, berdiskusi secara kolaboratif, serta menghubungkan bahasa matematika dengan objek budaya yang akrab dalam keseharian mereka.
Selain itu, penggunaan AR dalam pembelajaran geometri tiga dimensi terbukti membantu siswa mengeksplorasi objek secara interaktif. Siswa dapat mengamati struktur ruang secara dinamis sehingga kemampuan penalaran spasial mereka berkembang lebih baik. Visualisasi virtual ini sukses mengubah konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami.
Ekosistem Global yang Inklusif
Pada akhir paparannya, Dr. Max menegaskan bahwa integrasi antara kebudayaan lokal dan teknologi AR berhasil menciptakan pengalaman belajar matematika yang jauh lebih humanis.
Pendekatan ini tidak hanya menajamkan kemampuan pemecahan masalah siswa, tetapi juga memperkuat keterikatan emosional peserta didik terhadap materi pelajaran yang diberikan.
Melalui forum ICHELAC 6, gagasan yang dibawa oleh Dr. Max diharapkan dapat memperkaya diskusi internasional mengenai masa depan dunia pendidikan di era kecerdasan buatan. Inovasi teknologi mutakhir dan identitas budaya lokal terbukti dapat berjalan beriringan untuk membangun ekosistem pembelajaran global yang berkelanjutan, inklusif, dan tetap berpusat pada manusia.
Selvianus Hadun/Unika St Paulus Ruteng/Tribun Flores
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News