Sabtu, 6 Juni 2026

Demo di Nagekeo

Ratusan Warga Nagekeo Tolak Pembangunan Yonif, Brigif dan Korem

Di halaman Kantor DPRD, massa melakukan orasi dan menyampaikan aspirasi mereka kepada para wakil rakyat. 

Tayang:
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Ratusan Warga Nagekeo Tolak Pembangunan Yonif, Brigif dan Korem
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/HO.IGNAS KUNDA
AKSI DEMONTRASI - Forum Keadilan, Perdamaian dan Hak Asasi Manusia (Forkasi) Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar aksi demonstrasi damai pada Jumat (5/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Ratusan warga Forkasi Nagekeo menggelar aksi damai menolak rencana pembangunan Yonif, Brigif, dan Korem di Mbay, serta proyek geothermal di Flores.
  • Massa menyoroti ketidakjelasan data lahan pembangunan, termasuk perbedaan luas 23,6 hektare dan 236 hektare yang dinilai memicu konflik.
  • DPRD Nagekeo menyatakan menerima aspirasi warga dan berjanji akan memperjuangkan persoalan tersebut hingga ke pemerintah pusat.
 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, MBAY – Ratusan warga yang tergabung dalam Forum Keadilan, Perdamaian dan Hak Asasi Manusia (Forkasi) Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar aksi demonstrasi damai pada Jumat (5/6/2026). 

Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana pembangunan Batalyon Infanteri (Yonif), Brigade Infanteri (Brigif), dan Komando Resor Militer (Korem) di wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Dengan pengawalan ketat aparat Kepolisian Resor Nagekeo, para demonstran memulai aksi dengan konvoi kendaraan bermotor dari Gereja Centrum Danga menuju Kantor DPRD Nagekeo dan selanjutnya ke Kantor Bupati Nagekeo.

Di halaman Kantor DPRD, massa melakukan orasi dan menyampaikan aspirasi mereka kepada para wakil rakyat.

 

Baca juga: Pembobol Kios di Ruteng Ternyata Terlibat Kasus Pencurian Keyboard di Nagekeo

 

 

Mereka menilai pemerintah daerah selama ini mengabaikan tuntutan masyarakat terkait kejelasan status tanah yang kini menjadi ruang hidup warga.

Salah satu persoalan yang dipersoalkan adalah perbedaan data luas lahan yang disebut-sebut akan digunakan untuk pembangunan fasilitas militer tersebut. 

Warga mempertanyakan adanya perbedaan antara luas lahan 23,6 hektare dan 236 hektare yang tercantum dalam berbagai dokumen.

Menurut para demonstran, ketidakjelasan data tersebut telah memicu konflik berkepanjangan antara masyarakat dan aparat. 

Mereka juga menilai kehadiran satuan militer baru di Pulau Flores berpotensi lebih mengamankan kepentingan investasi dibanding melindungi hak-hak masyarakat yang terdampak pembangunan.

Selain menolak pembangunan Yonif, Brigif dan Korem, massa juga mendesak penghentian proyek geothermal di Flores yang mereka nilai berpotensi mengancam lingkungan hidup dan ruang hidup masyarakat lokal.

Salah satu organisator aksi, Pater Felix Baghi, menegaskan, masyarakat adat Nagekeo selama ini merupakan penjaga ekosistem dan kearifan lokal yang harus dihormati keberadaannya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved