Senin, 27 April 2026

Berita Ngada

BPBD Ngada Petakan Titik Merah Longsor, Warga Diminta Siaga Cuaca Ekstrem

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada menetapkan sejumlah titik merah rawan longsor dan mengimbau masyarakat

Tayang:
Penulis: Charles Abar | Editor: Ricko Wawo
zoom-inlihat foto BPBD Ngada Petakan Titik Merah Longsor, Warga Diminta Siaga Cuaca Ekstrem
Tribunnews.com/Charles Abar
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ngada Hermenegild Ruba saat temu di ruang kerjanya, Jumat 12 Desember 2025. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada menetapkan sejumlah titik merah rawan longsor dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi perubahan cuaca ekstrem.

Kepala BPBD Ngada, Emanuel Kora, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Hermenegild Ruba, mengungkapkan pihaknya tengah menyusun Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat Hidrometeorologi sebagai langkah antisipasi menghadapi intensitas hujan yang terus meningkat.

“Kami selalu menghimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rawan longsor untuk waspada. Bila hujan turun dengan durasi panjang, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman,” tegas Egild saat temu di ruang kerjanya, Jumat (12/12/2025).

Baca juga: Melihat Pulau Babi Yang Ditinggalkan Pasca Gempa dan Tsunami 1992

 

BPBD juga telah melakukan koordinasi lintas sektoral untuk mempersiapkan logistik dan peralatan jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

“Langkah pertama adalah memberikan himbauan kepada masyarakat agar lebih siap,” tambahnya.

Menurut pemetaan BPBD, wilayah selatan Kabupaten Ngada masih menjadi daerah paling rawan longsor, meliputi Kecamatan Inerie, Aimere, Golewa Selatan, hingga Jerebu’u. Sementara banjir lebih sering terjadi di Kecamatan Soa, Riung, dan Lengkosambi Utara.

“Lengkosambi masih menghadapi banyak kendala, terutama dari sisi infrastruktur, dan itu merupakan kewenangan provinsi,” ujarnya.

Egild juga menyoroti potensi dampak lanjutan dari bencana hidrometeorologi, khususnya terhadap sektor pertanian. “Dampaknya bisa menyebabkan gagal panen, dan ini berkaitan dengan kerawanan pangan,” jelasnya.

Meski anggaran bencana sudah dialokasikan, BPBD mengakui ada tantangan dalam pelaksanaan siaga darurat.

“Tapi ketika bencana terjadi, penanganannya tetap menjadi prioritas. Ini amanah aturan. Dan urusan kebencanaan itu pentahelix, bukan hanya tanggung jawab pemerintah,” katanya.

BPBD Ngada meminta masyarakat tetap waspada, khususnya yang tinggal di daerah labil atau yang kerap dilalui aliran air saat hujan deras. (Cha)

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved