Berita Ngada
BPBD Ngada Petakan Titik Merah Longsor, Warga Diminta Siaga Cuaca Ekstrem
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada menetapkan sejumlah titik merah rawan longsor dan mengimbau masyarakat
Penulis: Charles Abar | Editor: Ricko Wawo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Kepala-Bidang-Kedaruratan-dan-Logistik-BPBD-Kabupaten-Ngada.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada menetapkan sejumlah titik merah rawan longsor dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi perubahan cuaca ekstrem.
Kepala BPBD Ngada, Emanuel Kora, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Hermenegild Ruba, mengungkapkan pihaknya tengah menyusun Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat Hidrometeorologi sebagai langkah antisipasi menghadapi intensitas hujan yang terus meningkat.
“Kami selalu menghimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rawan longsor untuk waspada. Bila hujan turun dengan durasi panjang, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman,” tegas Egild saat temu di ruang kerjanya, Jumat (12/12/2025).
Baca juga: Melihat Pulau Babi Yang Ditinggalkan Pasca Gempa dan Tsunami 1992
BPBD juga telah melakukan koordinasi lintas sektoral untuk mempersiapkan logistik dan peralatan jika sewaktu-waktu terjadi bencana.
“Langkah pertama adalah memberikan himbauan kepada masyarakat agar lebih siap,” tambahnya.
Menurut pemetaan BPBD, wilayah selatan Kabupaten Ngada masih menjadi daerah paling rawan longsor, meliputi Kecamatan Inerie, Aimere, Golewa Selatan, hingga Jerebu’u. Sementara banjir lebih sering terjadi di Kecamatan Soa, Riung, dan Lengkosambi Utara.
“Lengkosambi masih menghadapi banyak kendala, terutama dari sisi infrastruktur, dan itu merupakan kewenangan provinsi,” ujarnya.
Egild juga menyoroti potensi dampak lanjutan dari bencana hidrometeorologi, khususnya terhadap sektor pertanian. “Dampaknya bisa menyebabkan gagal panen, dan ini berkaitan dengan kerawanan pangan,” jelasnya.
Meski anggaran bencana sudah dialokasikan, BPBD mengakui ada tantangan dalam pelaksanaan siaga darurat.
“Tapi ketika bencana terjadi, penanganannya tetap menjadi prioritas. Ini amanah aturan. Dan urusan kebencanaan itu pentahelix, bukan hanya tanggung jawab pemerintah,” katanya.
BPBD Ngada meminta masyarakat tetap waspada, khususnya yang tinggal di daerah labil atau yang kerap dilalui aliran air saat hujan deras. (Cha)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Melihat Pulau Babi Yang Ditinggalkan Pasca Gempa dan Tsunami 1992 |
|
|---|
| Cerita Kepanikan Warga Sikka Saat Gempa dan Tsunami di Flores, Buat Pondok dari Daun Kelapa |
|
|---|
| Merawat Kampung di Zona Merah Erupsi Lewotobi Laki-laki Jelang Natal 2025 |
|
|---|
| Banyak Utang, Karyawan Alfamart di Sumba Timur Curi dan Tikam Rekan Kerja |
|
|---|