Senin, 8 Juni 2026

Kasus Akhiri Hidup Sendiri di Ngada

Tinjauan Psikologis atas Kasus Anak SD Akhiri Hidup Sendiri di Ngada, NTT

Peristiwa ini bukan kesalahan individu, melainkan tanda kegagalan sistem perlindungan emosional di rumah, sekolah, masyarakat.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Tinjauan Psikologis atas Kasus Anak SD Akhiri Hidup Sendiri di Ngada, NTT
TRIBUNFLORES. COM/GG
Dosen Prodi Psikologi FKM Undana Kupang, Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi. Menurut Psikolog itu, Peristiwa ini bukan kesalahan individu, melainkan tanda kegagalan sistem perlindungan emosional di rumah, sekolah, dan masyarakat. 

Ringkasan Berita:
  • Peristiwa ini bukan kesalahan individu, melainkan tanda kegagalan sistem perlindungan emosional di rumah, sekolah, dan masyarakat.
  • Pesan yang ditinggalkan menunjukkan kesedihan, kebingungan, dan rasa bersalah bukan kemarahan serta ketiadaan ruang aman untuk didengar.
  • Pencegahan dimulai dari kehadiran emosional orang dewasa, Literasi emosi, ruang aman, disiplin empatik, deteksi dini, dan kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar tragedi serupa tidak terulang.

Oleh: Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi, Psikolog, Dosen Prodi Psikologi FKM Undana Kupang

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Sungguh awal tahun yang menyedihkan. Kita mengawali tahun 2026 dengan peristiwa yang menyayat hati. 

Peristiwa duka yang terjadi di Kecamatan Jerebuu Kabupaten Ngada, Flores Nusa Tenggara Timur. 

Seorang anak sekolah dasar, diduga mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini, tentu tidak saja menyisakan luka mendalam bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat luas, tapi bagi kita semua, para orang tua, orang dewasa, dunia pendidikan, lembaga agama, pemerintah, dan semua kita yang barangkali belum tersentuh dengan hal-hal yang "kasat mata" tapi seakan "tak terlihat", yang kerap menimpah anak-anak kita dalam proses tumbuh kembang mereka. 

Kejadian ini, tentunya perlu menjadi perhatian kita semua. Namun yang harus diingat, bahwa peristiwa ini bukan semata karena usia korban yang masih sangat belia, tetapi karena adanya "pesan singkat yang ditinggalkan sang anak", yang secara psikologis, sangat jelas mau menggambarkan perasaan sedih, kebingungan, dan rasa bersalah yang dipendam. Pesan ini, tidak menunjukkan "kemarahan" sang anak. 

Baca juga: Isi Surat untuk Mama dari Bocah yang Tewas di Pohon Cengkeh di Ngada NTT

Tidak Mampu

Tidak juga menggambarkan adanya "kebencian" mendalam yang terpendam, melainkan suatu ungkapan emosi anak yang merasa tidak mampu menghadapi situasi yang sedang dialaminya. 

Dari sudut pandang psikologi, pesan seperti ini bukanlah tanda "keinginan mati" semata, melainkan "isyarat kuat tentang beban emosional yang tidak tertampung."

Anak sekecil ini, seakan ingin meminta untuk dimengerti, namun ia tidak menemukan saluran yang aman untuk menyampaikan perasaannya secara langsung.

Dari kejadian ini, tentunya mengguncang rasa kemanusiaan kita bersama. Duka ini bukan hanya milik keluarga atau kerabat terdekat saja, melainkan menjadi cermin bagi seluruh masyarakat: bahwa ada "luka-luka batin yang tak terlihat", bahkan pada jiwa yang masih sangat belia. 

Karena itu, peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai sebagai “kesalahan individu”, melainkan sebagai akumulasi beban psikologis yang tak tertangani.

Anak dan Dunia Emosinya yang Rapuh

Secara psikologis, anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan emosi yang belum matang. 

Mereka belum memiliki kemampuan bahasa emosi yang cukup untuk mengatakan, “Saya tertekan”, “Saya takut”, atau “Saya tidak sanggup lagi”. 

Ketika anak menghadapi tekanan, baik dari rumah, sekolah, pergaulan, maupun lingkungan sosial, emosi tersebut sering kali mengendap dalam diam.

Pada usia ini, ada beberapa ciri perkembangan anak yang mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, dimana anak cenderung menyalahkan diri sendiri atas konflik yang terjadi, merasa gagal ketika tidak memenuhi harapan orang dewasa, mengalami ketakutan berlebihan terhadap hukuman, rasa malu, atau penolakan. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved