Selasa, 5 Mei 2026

Berita Ngada

Tragedi Gubuk Bambu: Bocah SD di Ngada Akhiri Hidup, Ayahnya Merantau, Keluarga Terhimpit Ekonomi

Yohanes adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya

Tayang:
Penulis: Charles Abar | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Tragedi Gubuk Bambu: Bocah SD di Ngada Akhiri Hidup, Ayahnya Merantau, Keluarga Terhimpit Ekonomi
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/CHARLES ABAR 
KELUARGA - Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan sipil Kabupaten Ngada Gerardus Reo saat mendatangi langsung keluarga korban di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Selasa 3 Februari 2026. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar 

TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA - Sebuah gubuk bambu berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan yang memilukan. Di tempat sederhana itulah YBR (10), seorang pelajar SD, ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 12.30 WITA.

Y ditemukan dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh depan pondok tempat ia tinggal bersama sang nenek. Saat kejadian, nenek korban tengah mandi di kali yang jaraknya tak jauh dari pondok. 

Tak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya. Tak ada pertengkaran. Tak ada riwayat perilaku menyimpang.

Yohanes adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu. 

 

Baca juga: Santunan Duka Pemdes Naruwolo Ngada, Tragedi Bocah SD Jadi Refleksi Bersama

 

 

Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.

Sehari-hari, selain bersekolah, Yohanes kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi dan kayu bakar. Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.

Menurut keterangan nenek, Yohanes dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia tak pernah menunjukkan perilaku aneh. Keluhannya hanya sederhana, buku tulis dan pulpen untuk sekolah.

“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” tutur sang nenek lirih, saat temu di Sa’o, Selasa (3/02/2026).

Ibu kandung Yohanes, Maria Goreti Te’a (47), menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi itu. Yohanes mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap mendorongnya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek.

Siang harinya, kabar duka itu datang, menghantam keluarga tanpa peringatan.

“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir anak saya ada pergi sekolah,” ungkap Maria.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved