Senin, 27 April 2026

Opini Dosen Unika Ruteng

Implikatur Suara Agape Keuskupan Denpasar

Kehadiran media digital membawa kesadaran dan harapan baru bagi umat beriman. Media digital sebagai sarana pewartaan iman umat.

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Implikatur Suara Agape Keuskupan Denpasar
TRIBUNFLORES.COM/HO-UNIKA RUTENG
Bernardus Tube Beding, Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng 

Bernardus T. Beding

Dosen Unika Santu Paulus Ruteng

 

 

Ringkasan Berita:
  • Kehadiran media digital membawa kesadaran dan harapan baru bagi umat beriman. Media digital sebagai sarana pewartaan iman

 

Kamis, 27 November 2025, Keuskupan Denpasar meresmikan Suara Agape: Radio dan TV Streaming Keuskupan Denpasar. Menurur Bapa Uskup Silvester San, “ini mimpi yang menjadi kenyataan”. Saya apresiasi trobosan ini. Tentu, saya juga mengapresiasi trobosan-trobosan keuskupan lain yang bernaung di bawah Konverensi Wali Gerejani (KWI) Indonesia. Ini menjadi bukti Gereja terus bertekad melayani umat pada zamannya. 

Kehadiran media digital membawa kesadaran dan harapan baru bagi umat beriman. Media digital sebagai sarana pewartaan iman. Kerajaan Allah semakin dikenal dan dihayati seutuhnya oleh umat beriman. Lebih dari itu, ajaran-ajaran Kristus tidak hanya membawa keselamatan bagi umat beriman kristiani saja, tetapi juga bagi seluruh manusia di dunia (bdk. Inter Mirifica art. 2).  Paus Benediktus XVI dalam Church and Internet menegaskan media komunikasi digital merupakan suatu bidang pastoral yang peka dan penting dalam menunaikan tugas penggembalaan demi dan untuk Sabda.”

Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 mencatat kenaikan 44,53 percepatan tranformasi digital Indonesia dan semakin cakapnya masyarakat dalam mengadopsi teknologi digital. Artinya, tidak sedikit masyarakat Indonesia (termasuk umat Kristiani) menggunakan media digital. Memang tanpa dimungkiri bahwa ketika berbicara tentang penggunaan media digital, ada plus-minusnya. Apalagi yang diminati masyarakat lebih pada hal-hal “hiburan” walaupun isinya tidak bernilai baik dan bermakna. 

Perkembangan teknologi dan informasi dapat membuat manusia mengalami amnesia, lupa akan identitasnya. Amnesia identitas diri membuat manusia memberikan diri dikuasai oleh jaringan teknologi digital. Tantangan utama bagi Gereja adalah memulihkan kembali ingatan manusia bahwa ia bukan makhluk yang hanya terdiri dari daging atau tubuh dan mesin (cyborg), melainkan pribadi yang memiliki daya spiritual. 

 

 

 

 

Baca juga: Unika Santu Paulus Ruteng Adakan Pembekalan KKN

 

 

 

 

 

 

Realitas yang memberi kesaksian bahwa tidak sedikit juga kaum klerus yang masih memagang semangat Konsili Trente: menekankan pada pelayanan sakramental dan menomorduakan semangat Konsili Vatikan II. Padahal semangat Konsili Vaikan II mengajak Gereja dan kaum klerus untuk pertama-tama mewartakan, baru diikuti menguduskan dan menggembalakan. Tugas mewartakan menjadi yang pertama, seperti semangat Santu Paulus, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan (mewartakan) Injil” (1 Kor. 9:16). 

Pewartaan sebagai yang pertama dalam spiritualitas umat kristiani menjadi implikatur bahwa  hadirnya laman dan media-media sosial digital dalam ruang parokial maupun keuskupan menjadi keniscayaan. 

Namun, pertanyaannya apakah media, entah itu radio, TV, website, YouTube, Facebook, Instragram, TikTok sudah dimiliki oleh keuskupan dan paroki-paroki di seluruh Indonesia? Sangat disayangkan jika paroki maupun keuskupan belum memiliki laman website dan media-media sosial sebagai sarana pewartaan. Keuskupan dan paroki yang memiliki laman dan akum media sosial tetapi belum ditangani secara serius, tidak di-update, kadaluarsa, atau tak ada isnya sama sekali sangat disesalkan. 

Tuturan Bapa Uskup Silvester San, “ini mimpi yang menjadi kenyataan” dapat dipahami sebagai wujud implikatur bagi para pemimpin gereja, baik tingkat keuskupan dan paroki dalam lingkup KWI. Keuskupan Denpasar menanggapi perkembangan teknologi dan informasi ini dengan menghadirkan dan menggunakan media digital sebagai sarana pewartaan. Keuskupan Denpasar menyadari pentingnya media digital dalam mendukung karya pastoral dan sarana pemertahanan iman Gereja. 

Kenyataan hadirnya Suara Agape: Radio dan TV Streaming Keuskupan Denpasar memiliki implikasi mengajak keuskupan lain dan paroki-paroki untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pewartaan.  Media Suara Agape  membantu umat Kristiani dan seluruh masyarakat untuk medengar tentang agama, ekspresi spiritualitas, pembinaan dan pengajaran iman; dan lain sebagainya. Karena itu, keuskupan dan paroki-paroki yang masih dibayangi mimpi memiliki sarana pewartaan digital, sudah saatnya menghadirkan kenyataannya. 

Kandala yang dapat dialami oleh keuskupan maupun paroki mungkin kurangnya sumber daya manusia dan materi. Bagus kalau keuskupan maupun paroki menyediakan tenaga-tenaga khusus yang mengelola laman dan media sosial milik keuskupan dan paroki. Penyerahan tugas tersebut bukan hanya kepada seksi atau komisi komunikasi sosial saja. Kalau ada orang yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan laman dan media sosial, bagus kalau dipekerjakan, sekaligus diberi upah secara profesional. 

Jika Gereja ingin serius menanggapi perkembangan dan kemajuan teknologi zaman ini sebagai salah satu media pewartaan, bagus kalau atur dan dikelola secara serius. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa karya pewartaan memang butuh biaya. Dan langkah ini bisa menjadi kesempatan bagi Gereja Katolik membuka lapangan pekerjaan bagi umatnya. 

Gereja Katolik tidak akan jatuh miskin, jika mengalokasikan sebagain kecil dana untuk membiayai pewartaan berbasis teknologi ini. Persoalannya, kadang terletak pada kemauan pimpinan dan pengurtus dewan paroki. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Gereja Katolik akan selalu terlambat memanfaatkan laman dan media sosial digital sebagai sarana pewartaan. Yah, “Suara Agape” sudah, “suara kita” kapan?.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved