Kamis, 28 Mei 2026

Opini Dosen Unika Ruteng

Natal Berlalu, Quo Vadis Kehidupan Kita ?

Beberapa pekan lalu, umat Kristiani telah merayakan Natal 2025. Mereka mengenang kelahiran Yesus Krtistus sebagai Juru Selamat manusia.

Tayang:
Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Natal Berlalu, Quo Vadis Kehidupan Kita ?
TRIBUNFLORES.COM/HO-UNIKA SANTU PAULUS RUTENG
Bernardus Tube Beding Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng Manggarai NTT 

Ringkasan Berita:Perayaan Natal mendapat tempat di akhir tahun sebagai kesempatan menyadari perjalanan kehidupan yang tidak luput dari sikap dan tingkah laku

 

 

Bernardus Tube Beding. Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng

Beberapa pekan lalu, umat Kristiani merayakan Natal 2025. Mereka mengenang kelahiran Yesus Krtistus sebagai Juru Selamat manusia. Yesus lahir membawa harapan di tengah keputusasaan. Yesus lahir membawa terang di tengah kegelapan hidup. Yesus Sang Pembaru Kehidupan membawa kelahiran baru bagi manusia.

Natal sesungguhnya merayakan kehidupan. Latarnya dari istilah Latin natalis yang berarti hari lahir, awal kehidupan baru. Perayaan natal mengajak kita mensyukuri hidup sebagai anugerah Tuhan. Natal juga mengajak kita merespek, memelihara, merawat, dan meruwat kehidupan.  Pekan-pekan natal ditutup dengan perayaan Epifani, Penampakan Tuhan kepada tiga raja dari timur. 

Perayaan Natal mendapat tempat di akhir tahun sebagai kesempatan menyadari perjalanan kehidupan yang tidak luput dari sikap dan tingkah laku ‘tidak manusiawi’ sepanjang satu tahun berlalu. Tanpa dimungkri bahwa hidup kemanusiaan kita mengalami degradasi. Momen Natal menyadarkan kita untuk tidak hanya merawat kehidupan, tetapi lebih pada meruwatnya. Kehidupan kita harus dipulihkan dari keadaan yang ‘tidak baik-baik saja’ kepada keadaan lebih baik di tahun baru. 

Sesungguhnya kita merayakan kelahiran baru atas hidup kita, merayakan kehidupan baru masih dalam ruang waktu yang dibingkai sikap dan tindakan individu maupun kelompok yang penuh “kematian-kematian baru”. Keputusan-keputusan politik yang digagas para pemimpin negara memperpanjang daftar penderitaan dan kematian warga sipil yang tidak berdosa, seperti di Venesuela, Iran, Myanmar, Israel, Palestina, dan negara-negara konflik lainnya. Konflik dan peperangan tanpa perikemanusiaan menabur maut. Aroma dendam dan pembalasan menjerumuskan para pemimpin ke dalam politik kekerasan, sehingga di sana-sini serangan jerilya dan ledakan bom tanpa terkendali. Akibatnya, penduduk sipil tidak berdaya menghadapi terjangan bom dan peluru senapan. Penduduk sipil pasrah menerima kematian yang bisa datang kapan dan di mana saja. Sepertinya kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan, bahkan tidak untuk dihindari oleh mereka. 

 

 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 6 Januari 2026, Belajar Belas Kasihan dari Yesus

 

 

 

 

 

 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved