Kesehatan Mental
Perkuat Kesehatan Mental, Berdaya bagi Diri Sendiri dan Sekitar Kita
Apakah kamu baik-baik saja? Aku peduli padamu." Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi jangkar yang mencegah seseorang hanyut lebih jauh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/mahasiwa-psikologi-soegpranoto.jpg)
Oleh: Agnesta Silviana B. Radja, Mahasiswa Magister Psikologi Unika Soegijapranata
TRIBUNFLORES.COM - Setiap angka dalam data akhiri hidup merepresentasikan kehilangan nyata satu penerus bangsa, mimpi yang terhenti, dan meninggalkan wajah pilu keluarga yang menanggung duka berkepanjangan.
Keprihatinan beranjak dari fakta yang dilansir dari laman website Layanan Pemerintah Kabupaten Sikka, dalam tiga tahun terakhir tercatat 25 kasus tindakan mengakhiri hidup dan percobaan mengakhiri hidup (Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, 13 Mei 2026). Mengawali tahun 2026 Kabupaten Sikka sudah digemparkan dengan kasus akhiri hidup yang bukan hanya sekali dua kali terjadi.
Fenomena yang tertuang dalam laporan WHO (2023) bahwa setiap 40 detik satu orang meninggal akibat tindakan akhiri hidup di dunia. Tindakan akhiri hidup dipengaruhi oleh interaksi kompleks faktor biologis, psikologis, dan sosial (Turecki et al., 2019, Lancet Psychiatry).
Mengkhawatirkan lagi, data menunjukkan tren peningkatan jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang konsisten: dari 1.179 orang pada tahun 2023, meningkat menjadi 1.220 pada tahun 2024, dan mencapai 1.241 pada tahun 2025, dengan 1.236 orang tercatat pada Triwulan I tahun 2026 (Dinkes Kabupaten Sikka, 2026). Trajektori yang adalah peringatan dan tidak boleh kita abaikan.
Baca juga: Analisis Psikolog FKM Undana Kupang atas Meningkatnya Kasus Bunuh Diri di NTT
Data ini menjadi cermin kondisi kesehatan mental kolektif yang membutuhkan perhatian mendesak dari seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga masyarakat telah beberapa kali melakukan upaya preventif pencegahan dan sosialisasi terkait pencegahan tindakan akhiri hidup. Oleh karena itu, strategi pencegahan harus bersifat multidimensional dan sistematis pada setiap lapisan masyarakat. Tujuan penulisan ini bukan untuk mendiskreditkan siapa pun, melainkan mengajak kita semua, tanpa terkecuali, memiliki peran dalam upaya pencegahan.
Pentingnya memahami tindakan mengakhiri hidup merupakan sebuah proses, bukan peristiwa tunggal. Salah satu kesalahpahaman paling berbahaya di masyarakat adalah menganggap tindakan mengakhiri hidup sebagai keputusan impulsif yang datang tiba-tiba. Temuan ilmiah menunjukkan sebaliknya. Tindakan mengakhiri hidup bukan merupakan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan titik akhir dari suatu proses yang disebut suicidal process, sebuah kontinum yang berkembang dari pikiran ke tindakan (Van Heeringen, 2000, dalam Park et al., 2020).
Dalam proses ini, keputusasaan muncul pertama kali sebagai respons terhadap tekanan lingkungan. Ia kemudian melahirkan ide sesaat tentang mengakhiri hidup, yang perlahan berkembang menjadi rencana yang lebih terstruktur, dan akhirnya upaya nyata yang semakin berulang dengan intensitas yang meningkat (Park et al., 2020). Memahami proses ini adalah kunci bahwa setiap tahapan adalah jendela intervensi yang masih terbuka bagi kita semua.
Baca juga: BEM Unipa Maumere Gelar Seminar Kesehatan Mental, Edukasi Kalangan Muda, Cegah Bunuh Diri
Untuk diketahui bahwa hingga saat ini, belum ada biomarker, tes laboratorium, maupun pencitraan medis yang tersedia secara klinis untuk mengidentifikasi individu yang berada dalam risiko (Ryan & Oquendo, 2020). Artinya deteksi dini sangat bergantung pada kepekaan manusia di sekitar individu, yakni keluarga, tetangga, guru, teman, atau siapa pun relasi sosialnya, bukan semata pada sebuah alat diagnostik. Jangan biarkan tanda-tanda peringatan yang tampak yang kerap terlewatkan.
Literatur ilmiah mengidentifikasi sejumlah tanda peringatan yang dapat muncul sebelum tindakan mengakhiri hidup terjadi. Rudd et al. (2006) mengusulkan tanda-tanda peringatan yang perlu diwaspadai, antara lain keputusasaan yang mendalam, amarah yang tak tersalurkan, perasaan terjebak tanpa jalan keluar, penarikan diri secara sosial secara tiba-tiba, agitasi, serta kecemasan yang intens.
Menggambarkan bahwa pada hari-hari sebelum kejadian, sering kali muncul kecemasan dan agitasi yang meningkat (Busch et al., 2003), ide yang semakin eksplisit tentang mengakhiri hidup (Ribeiro et al., 2019), gejala psikotik (Britton et al., 2012), serta suasana hati yang sangat tertekan (Fredriksen et al., 2022).
Dalam konteks keseharian, tanda-tanda tersebut dapat tampak sebagai ucapan bernada perpisahan seperti "tidak ada gunanya lagi" atau "semua akan lebih baik tanpa aku", penarikan diri mendadak dan berkepanjangan dari lingkaran sosial, perubahan mood ekstrem dari kesedihan mendalam menjadi ketenangan tiba-tiba yang tidak wajar, memberikan barang-barang berharga kepada orang lain tanpa alasan yang jelas, kehilangan minat secara persisten terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai, ekspresi keyakinan kuat bahwa "tidak ada jalan keluar" dari situasi yang dihadapi.
Jika Anda mengenali tanda-tanda ini pada seseorang di sekitar Anda, jangan ragu untuk menyapa dan bertanya langsung dengan penuh empati: "Apakah kamu baik-baik saja? Aku peduli padamu." Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi jangkar yang mencegah seseorang hanyut lebih jauh.
Secara eksplisit menekankan bahwa respons terhadap krisis kesehatan mental ini tidak dapat bertumpu hanya pada sektor kesehatan saja. Pencegahan adalah tanggung jawab kita bersama mulai dari keterlibatan aktif pada sistem makro (kebijakan pemerintah dan institusi), meso (komunitas, sekolah, tempat ibadah), hingga mikro, titik yang paling melekat keseharian pada setiap individu seperti keluarga, teman, sahabat, dan orang-orang terdekat.
Windfuhr (2008) menegaskan bahwa strategi pencegahan yang efektif harus beroperasi pada tiga tingkatan: universal (mencakup seluruh populasi), selektif (menargetkan kelompok berisiko tinggi), dan indikatif (berfokus pada individu yang menunjukkan tanda-tanda). Ketiganya harus berjalan secara sinergis, bukan terpisah-pisah.