Berita Nagekeo
Penenun di Nagekeo dapat Workshop Pelatihan Pewarnaan Benang
Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek memberikan pelatihan kepada penenun Nagekeo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Pelatihan-pewarnaan-benang.jpg)
Wabup Marianus mengatakan, dengan adanya pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan semangat bagi anak muda supaya semua potensi yang ada di Kabupaten Nagekeo mempunya nilai.
"Dalam spirit kita bela-beli Nagekeo, ada potensi pasar yang besar disana terutama pegawai negeri yang jumlahnya kurang lebih 4.000 orang. Dalam setahun wajib memiliki 2 lembar kain yang wajib memakai pakian adat di hari Selasa dan Kamis sehingga membutuhkan 8.000 lembar kain," jelasnya.
Baca juga: Positif Covid-19 di Nagekeo Menurun, Saran Dr.Asep Purnama Jangan Eforia
Menutup sambutannya, Wabup Marianus menambahkan bahwa, pemerintah akan mendukung dan berharap agar peserta pelatihan dapat menciptakan iklim usaha sendiri.
"Dengan melihat peluang pasar, saya minta adik adik ikuti dengan tekun. Saya tidak mau habis di tempat ini tidak memiliki dampak saya tidak suka itu. Gunakan waktu yang begitu mepet dan sedikit ini agar sekembali kerumah masing masing harus berani ciptakan iklim usaha di wilayah masing masing. Semua usaha kita itu ada pasar atau tidak. Kalau usaha tanpa pasar itu akan melempem," tegasnya.
Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut.
Menurutnya, pelatihan tersebut merupakan langkah awal perhatian pemerintah pusat kepada penenun di Kabupaten Nagekeo.
"Kenapa menjadi perhatian Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat
(Dit. KMA), Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek, karena benang merupakan bahan dasar dari tenun.
Pemanfaatan tenun memiliki nilai nilai adat yang cukup kuat. Melalui tenun semua tata kelola ekosistem adat dan ritua di wilayah Nagekeo dapat berjalan sesuai dengan harapan bersama," ujarnya.
Baca juga: 12 Desa Rawan Pangan di Nagekeo dapat 40,6 Ton Beras dari Pemda
Menurutnya kegiatan tersebut juga sebagai pemantik, yang mendorong keberlanjutan pengetahuan tradisional yang diawali dengan pengetahuan pewarna alami, bahan dasar alami, dan ramah lingkungan.
"Harapan kami Pemda Nagekeo melalui Dekranasda dan PKK bisa melanjutkan ini. Kepala Dinas P&K diharapakan bisa memperkenalkan kepada siswa anak didik, SD,SMP SMA/SMK. Dari pelatihan ini kader kader terbaik bisa diwujudkan dalam program penenun masuk sekolah," harapnya.
Dijelasnnya, kepada para peserta, nanti akan diperkenalkan teknologi teknologi sederhana tentang teknik pewarna alami sehingga mudah dipraktekkan di rumah. Jangan sungkan untuk bertanya di fasilitator.
Dia juga berharap, peran Dekranasda dan PKK dalam memajukan kebudayaan Nagekeo harus terus dimaksimalkan dengan melakukan pembinaan khusus kepada para kelompok tenun.
"Sehingga melalui Dekranasda ada pembinaan khusus untuk kelompok pewarna alami/penyiapan benang dan kelompok penenun. Dengan pembentukan kelompok ini akan memudahkan proses penyelesaian tenun khas Nagekeo.. Juga untuk mengangkat ekonomi kerakyatan perlu peran Dekranasda untuk hadir di para pelaku budaya termasuk pelaku ekonomi kreatif di desa desa. Dengan peran kerja bersama dan gotong royong memajukan kebudayaan Nagekeo akan menjadi Kabupaten unggul dan memiliki karakter budaya yang khas," ungkapnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya, Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi,SH.M.Hum, Narasumber dari Tim Warlami Suroso dan Tim, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK/Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Nagekeo F.C.A. Yanu Astuti, Kadis Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan, Dra. Djawaria K.M. Simporosa, Sekretaris Dinas P&K Yosefina H.Hutmin, SP, Plt.Kadis Pariwisata Rustien Triatmi SP serta para peserta pelatihan dan undangan lainnya.