Selasa, 7 April 2026

Berita Nagekeo

Hadir di Nagekeo, Politician Akademy Gelar Diskusi Publik

Politician Academy menandai kehadirannya di Kabupaten Nagekeo dengan menggelar diskusi publik bertema Trend dan Tantangan Pemilu Serentak Tahun 2024.

Tayang:
Editor: Egy Moa
zoom-inlihat foto Hadir di Nagekeo, Politician Akademy Gelar Diskusi Publik
TRIBUN FLORES.COM/TOMMY MBENU NULANGI
Direktur Politician Akademy, Bonggas Adhi Chandra menyampaikan materi dalam diskusi publik di Aula Gereja Santa Maria Dolorosa Penginanga, Jumat 26 November 2021. 

Laporan Reporter TRIBUN FLORES.COM, Tommy Mbenu Nulangi

TRIBUN FLORES.COM,MBAY-Politician Academy menandai kehadirannya Kabupaten Nagekeo dengan menggelar diskusi publik bertema "Trend dan Tantangan Pemilu Serentak Tahun 2024," Jumat 26 November 2021.

Diskusi berlangsung di Aula Gereja Santa Maria Dolorosa, Penginanga-Mbay menampilkan pembicara Direktur Politician Akademy, Bonggas Adhi Chandra, Pater Hubert Muda dipandu Elias Cima.

Bonggas Adhi Chandra mengatakan banyak petahana kepala daerah maupun anggota DPRD banyak yang kalah ketika maju kembali dalam Pemilu.

Berdasarkan data pemilihan kepala daerah 2020, dari 10 calon petahana hanya satu calon yang terpilih kembali, sedangkan sembilan calon petahana lainnya tumbang.

Baca juga: Bupati Nagekeo Tawarkan Dua Opsi Selesaikan Lahan Pasar Boawae

"Itu pun satu calon petahana menang setelah dilakukan PSU di Kabupaten Sabu Raijua. Kalau tidak PSU, semua calon petahana di NTT kalah," kata Bonggas.

Sebenarnya kemungkinan kalah dari calon petahana sangat kecil karena calon petahana sudah memiliki program, basis masa, anggaran dan menjadi spot light media.

Menurut Bonggas, ada lima alasan kekalahan calon petahana. Pertama karena para calon petahana tidak mampu memenuhi janji kampanyenya.

Kedua karena petahana tidak memiliki program yang menonjol ketika ia memimpin sehingga tidak ada prestasi yang dibanggakan.

Baca juga: Bupati Nagekeo Terima Plakat WTP dari Kementerian Keuangan

Ketiga, petahana tidak memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik kepada masyarakat. Mungkin saja ada prestasi yang diraih namun tidak tersampaikan dengan baik ke masyarakat.

"Keempat, kompetitornya lebih cemerlang. Artinya ada tokoh baru yang muncul, personal brendingnya bagus, charming, ketokohan dan mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat sehingga petahana tidak dipilih lagi," jelasnya.

Kelima, alasan kuat dibalik tumbangnya petanahana dalam pemilu ketika masyarakat sudah cerdas dalam memilih, sehingga ketika ada petahana yang tidak mampu membawa perubahan, maka masyarakat menghukum dengan tidak memilih kembali calon petahana.

"Itu bentuk hukuman dari masyarakat. Sudah tepat sekali. Dari pada demo turunkan bupati, lebih baik hukum mereka dengan tidak memilih kembali," tegasnya.

Baca juga: Korban Badai Seroja di Nagekeo Terima 36.690 Kg Beras

Bonggas menjelaskan, sudah saatnya politik diisi oleh politisi yang memiliki kecerdasan literasi, sehingga mereka bisa menerapkan cara dan metode politik yang mencerdaskan.

Politician Akademi yang telah memiliki 13 cabang di Indonesia, hadir mendampingi putra-putri daerah terbaik untuk berkompetisi di Pemilu dengan strategi dan metode pemenangan yang elegan dan cerdas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved