Berita Lembata

Ratusan Guru Lembata Ikuti Workshop

Ratusan orang guru di Kabupaten Lembata menjalani workshop sehari di Aula Kopdit Ankara Lewoleba, Kamis 12 Mei 2022.

Editor: Egy Moa
TRIBUN FLORES.COM/RICKO WAWO
Workshop para guru di Aula Ankara Lewoleba, Lembata, Kamis, 12 Mei 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, RICKO WAWO

TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA-"Apabila guru diharapkan pada pilihan seperti yang ditawarkan oleh Kemendikbud, maka hal itu kelihatan sangat menarik. Artinya sekolah diberi kesempatan untuk memilih. Tetapi yang tidak disadari para pengambil keputusan, justru opsi itu membuat guru bingung di lapangan”, demikian Robert Bala dalam pengantar workshop yang dihadiri 226 guru di Aula Ankara Lewoleba,Lembata, Kamis, 12 Mei 2022.

Kegiatan yang dilaksanakan sehari penuh pukul 08.00 – 16.00 dan dibuka oleh Kadis Pendidikan Lembata, Anselmus Ola Bahy. Bagi  sekolah yang masih memilih K-13 atau Kurikulum Darurat diarahkan untuk menangkap benang merah dari Kurikulum Merdeka dan selanjutnya mengembangkan Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai inti yang bisa menyatukan. 

“Bila sekolah bisa menerapkan PBL (Problem Based Learning), maka itu berarti sekolah juga telah melewati proses menemukan materi esensial yang tentunya lebih sempat daripada kurikulum lengkap K-13. Selain itu hal itu hanya bisa berjalan kalau adanya fleksibilitas yang memungkinkan aneka penyesuaian hanya demi meyakinkan bahwa pembelajaran itu telah berjalan secara efektif dan efisien”, demikian Robert yang sekaligus menjadi penulis buku Creative Teaching Mengajar Mengikuti Kemauan Otak dan buku Menjadi Guru Hebat Zaman Now (Penerbit Grasindo).

Kolaborasi

Workshop yang diselenggarakan oleh SMA SKO SMARD dan MGMP IPS SMP sekabupaten Lembata dilaksanakan dalam semangat kolaborasi. Pemateri utama adalah Robert Bala dan Maria Fatima Kewa Namang. Keduanya telah bersama-sama mendampingi para guru di SMA SKO SMARD setelah setahun terakhir agar bisa berani menerapkan PBL.

Baca juga: Bendahara Pimpinan Setda Lembata Ditemukan di Pohon Asam

Pada awalnya sangat terasa berat oleh para guru. Namun konselor di sekolahan Buddhis, Atisa Dipamkara, Maria FK Namang meyakinkan para guru untuk terus mencoba karena manfaatnya akan sangat besar dan akan dirasakan oleh para siswa. Para siswa menurut Maria tidak akan dibebankan dengan terlalu banyak proyek. Mereka akan fokus pada satu proyek yang disokong oleh berbagai mata pelajaran. Inilah yang menjadi hal menarik.

Setelah praktik selama setahun maka pada Workshop yang diawali dengan sambutan pembuka dari yang mewakili Yayasan Koker Niko Beeker, Paulus Doni Ruing, para guru di SMARD dianggap mumpuni untuk bisa berbagi dengan para guru lainnya tentang pengalaman PBL. Karena itu, pada kesempatan itu, ada 4 guru yang juga menjadi co-narasumber yaitu: Rosalia Lepang Wator, Paulus Igo, Elisabet Kerong, dan Marlin Baok.

Sesungguhnya para guru yang belum berpengalaman tampil dalam fórum yang besar merasa kikuk untuk tampil. Namun Robert Bala yang sekaligus Ketua Yayasan Koker Niko Beeker, penyelenggara SMA SKO SAN BERMARDINO meyakinkan dan melatih para guru agar tampil meyakinkan. Karena itu setelah tiba di Lewoleba pada tanggal 23 April, Robert dan Maria langsung melatih para guru.

Dari empat pembicara, Marlin Baok, M.Pd yang sekaligus Kepsek SMARD, mengawali presentasinya dengan mengatakan bahwa kunci PBL ada pada kepsek. Hal itu mendorong Kepsek untuk perlu tahu tentang PBL. Dalam banyak hal, kepsek tidak terlibat sehingga kerap penerapan PBL terkendala di lapangan. Dengan memahami PBL maka kepsek akan mudah meyakinkan para guru untuk terus mencoba seperti yang dilakukannya dengan para guru di SMARD.

Baca juga: Waktu Tujuh Menit Melki Laka Lena Bermakna Bagi SMA SKO SAN Bernardino Lembata

Rosalia Lepang Wator, yang juga wakasek SMARD mengisahkan tentang kekhasan proyek yang perlu memenuhi aspek: Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Dynamic. Sebuah proyek harus sangat khusus dan terencana dengan baik. Selain itu perlu diukur ketercapaiannya serta realistis dan dinamis.

Paul Igo dan Elisabet Kerong pada sisinya mengisahkan tentang proyek yang menjadi kombinasi tiga mata pelajaran yaitu: ekonomi, kewirausahaan, dan matematika. Mereka mengisahkan upaya menyatukan Kompetensi Dasar dari berbagai mata pelajaran yang akhirnya berujung pada penetapan proyek membuat masakan dari ikan paus. Melalui proyek itu, mereka bisa memantau partisipasi siswa baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi. Tidak lupa Igo dan Kerong berbagi tentang model penilaian yang diambil selama proses tersebut.

Kegiatan Berlanjut

Dalam rangkaian workshop yang terdiri dari 4 bagian: Presentasi tentang Pembelajaran Kreatif (1), PBL sebagai roh Kurikulum Merdeka (2). Selanjutnya para guru dibagi menurut levelnya: Kelas Kecil SD, Kelas Besar SD, SMP dan SMA untuk membedah dan menemukan materi esensial serta memilih Proyek. Pada proses pemilihan proyek, agar pembelajaran menjadi kontekstual dan menjawabi masalah nyata, maka kepada para peserta disadarkan tentang 7 tema Proyek dari Kemendikbud dan juga 17 tema proyek dari PBB.

Selanjutnya pada bagian akhir, beberapa kelompok terpilih untuk sharing tentang proses penemuan PBL yang telah didiskusikan dalam team. Selama proses itu, team didampingi oleh instruktur utama maupun instruktur dari SMARD. Melalui acara presentasi terlihat bahwa pelatihan dalam group dapat memberikan pemahaman yang lengkap tentang PBL.

Baca juga: Komunitas Audio Lembata Sukses Goyang Pantai Lewolein

Mengakhiri kegiatan pelatihan tersebut, Robert mengungkapkan bahwa pelatihan itu ditargetkan mencapai 36 jam dengan rincian bahwa setelah kegiatan workshop yang berlangsung selama 9 jam akan dilanjutkan dengan bimbingan lanjut (9 jam), Pendampingan Proyek (9 Jam) dan Penilaian / Evaluasi (9 jam). Untuk pendampingan lanjutan itu, karena SMARD telah melaksanakan maka team guru akan turun ke lapangan untuk berbagi dengan para guru lain sehingga meyakinkan bahwa PBL itu bisa berlangsung dengan baik.

Kegiatan ini didukung oleh beberapa perguruan tinggi di jakarta serta penerbit Erlangga dan Grasindo. Para kesempatan itu beberapa produk dari Grasindo ditampilkan dalam rupa E-Book. Kepada para guru disampaikan bahwa era digital menghendaki agar para guru bisa menggunakan fasilitas digital dengan harga yang lebih ekonomis. Buku-buku dalam bentuk soft copy menurut Robert akan lebih variatif dan sangat berwarna sehingga menambah semangat belajar peserta didik.

Beberapa peserta mengharapkan agar kegiatan serupa bisa diselenggarakan sehingga guru-guru lebih ‘pede’ dalam mengajar. Para guru merasa bahwa meski kegiatan ini berbayar tetapi karena manfaatnya, maka mereka ikuti dengan senang hati dan sampai akhir.

Berita Lembata lainnya
 
 
 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved