Berita Lembata
Abrasi Pantai SGB Bungsu Lewoleba Makin Parah, Warga Mengeluh
Menurut warga, jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju rumah warga sehingga mau atau tidak, warga akan berupaya memperbaikinya.
Penulis: Ricko Wawo | Editor: Nofri Fuka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/LSM-Barakat.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Ricko Wawo
TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA - Warga Kelurahan Lewoleba Utara mulai menimbun wilayah bibir pantai SBG Bungsu yang terkikis oleh air pasang.
Skop, cangkul, ember dan lainnya menjadi peralatan yang digunakan untuk menimbun bagian bibir pantai yang terkikis oleh air laut.
Bagian bibir pantai itu pula selama ini gunakan sebagai jalan untuk menuju belasan rumah warga yang ada diseberang.
Menurut warga, jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju rumah warga sehingga mau atau tidak, warga akan berupaya memperbaikinya.
Baca juga: Kapolres Lembata Ajak Masyarakat Kawal Pemilu Jujur dan Adil
Areal yang terdampak abrasi lumayan luas sehingga membutuhkan material yang banyak. Warga hanya mampu mendatangkan 5 truk pasir dan 1 truk batu.
Material tidak cukup, warga kemudian menambahkan limbah kayu untuk menggantikan batu.
Pada areal yang terdampak abrasi, warga menimbun batu sebagai penyangga lalu memasukan pasir. Pekerjaan ini dilakukan secara manual.
Salah satu warga Kelurahan Lewoleba Utara, Afilina Lasi Hibu mengatakan, sejak awalnya tinggal di lokasi ini, semuanya berjalan baik.
Namun pada Desember 2022, sedikit demi sedikit bibir pantai itu mulai terkikis sehingga jalan yang menjadi akses ke rumahnya terputus.
Jalan ini kemudian sulit untuk dilalui. Satu-satunya kendaraan bermotor yang bisa melewati jalan ini adalah sepeda motor. Tetapi berlumpur dan cukup berbahaya.
"Selama ini motor lewat juga jalannya sedikit saja. Sudah dua tahun truk tidak bisa lewat. Kalau pake motor salah sedikit maka masuk dalam laut," ungkap Afilina.
Kadang Afilina harus memutar melewati kebun miliki orang. Tetapi jalur alternatif itu sudah ditutup oleh pemilik kebun sehingga harus tetap melewati jalur bibir pantai yang terdampak abrasi.
"Paling susah itu kalau musim hujan lalu anak-anak harus pergi sekolah. Kita antar itu kadang sampai jatuh di dalam lumpur," jelas Afilina.