Berita Lembata
Abrasi Pantai SGB Bungsu Lewoleba Makin Parah, Warga Mengeluh
Menurut warga, jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju rumah warga sehingga mau atau tidak, warga akan berupaya memperbaikinya.
Penulis: Ricko Wawo | Editor: Nofri Fuka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/LSM-Barakat.jpg)
Warga kemudian mengadukan kepada Pemerintah Kelurahan Lewoleba Utara untuk segera memperbaiki jalur yang terletak di pantai SGB Bungsu, Kelurahan Lewoleba Utara, Kabupaten Lembata.
Sayangnya, sejak disampaikan pada bulan Januari 2023, pemerintah Kelurahan Lewoleba Utara hanya datang untuk mengambil gambar. Abrasi terus berlangsung dan warga terus merasakan dampaknya.
Warga Kelurahan Lewoleba Utara lainnya, Yuvensius Hautimu mengatakan, putusnya jalan ini sudah berlangsung dari bulan Januari 2023.
"Sehingga akses ke rumah kami tidak bisa kalau bawa material kasi turun di jalan baru pikul," ungkap Yuvensius.
Lanjut Yuvensius, ia tidak dapat membuka jalan baru karena lokasinya berbatasan langsung dengan tanah orang yang sudah ditanami pilar.
Menurutnya, wilayah sempadan harusnya 100 meter dari pasang tertinggi air laut. Namun hanya disisakan 8 meter dan 8 meter itu sudah kena dampak abrasi.
Pada Selasa, 04 Juli 2023, Yuvensius bersama puluhan warga mulai menimbun di jalan yang putus akibat abrasi pantai.
"Kerja ini inisiatif dari masyarakat, kami minta bantuan orang urugan. Cari kayu yang orang bekas sensor itu baru kami timbun. Abrasinya sekitar belasan meter tapi dengan kekuatan kami sendiri jadi kami belum tau bisa (selesai) atau tidak," jelasnya.
Yuvensius pun berharap pemerintah tidak menutup mata atas persoalan ini. Saat ini ia masih memikirkan bagaimana caranya mendapatkan material untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai oleh warga ini.
"Kami harap pemerintah bantu kami semen sedikit dengan batu dua tiga reit untuk tahan. Kalau kita pake kayu ini tidak sampai beberapa bulan" tutupnya.
Abrasi di pantai SGB Bungsu bukan merupakan hal yang baru. Sejak awal tahun 2000an, pantai ini biasa digunakan untuk bermain bola kaki, bola volly dan berbagai permainan lainnya.
Namun hari ini, hal semacam itu tidak dapat dilakukan lagi. Pohon-pohon yang dulu jauh dari bibir pantai satu per satu masuk dalam wilayah laut dan mulai tumbang.
Peneliti Lingkungan, Piter Pulang mengatakan, penyebab abrasi pantai SGB Bungsu harus dilihat dalam konteks Oseanografi lokal yang mana pantai itu berada pada simpangan arus yang cukup dekat dengan arus Watuwoko.
Arus Watuwoko memiliki tekanan arus bawah dan arus permukaan sangat tinggi sehingga mempengaruhi tekanan gelombang.
"Gelombang itu sangat berpengaruh dengan perubahan bentang alamnya. Hanya karena prosesnya berjalan lambat jadi kita pikir tidak tidak ada apa-apa. Nanti sudah besar baru kita lihat sebagai masalah. Padahal setiap harinya masalah," urai Piter.