Desa Binaan Bank NTT
‘Hadakewa Night Paradise’ Ubah Hidup Mama Wilhelmina
Tempat kuliner itu merupakan bagian dari paket wisata yang bertajuk Hadakewa Night Paradise, pemerintah desa tidak saja menawarkan keindahan pantai.
Penulis: Ricko Wawo | Editor: Cristin Adal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/jemur-ikan-hadakewa.jpg)
Setiap hari dia dan ibu-ibu lainnya berbagi waktu bekerja di tempat kuliner tersebut.
“Selalu ramai kalau malam. Ramainya juga kalau akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu,” imbuhnya.
Selain ibu-ibu yang memasak, ada juga sepuluh gadis muda asli desa Hadakewa yang bertugas sebagai pelayan. Salah satunya Karlin Tukan (19) yang langsung bekerja di situ usai tamat di SMAN 1 Lebatukan.
Karlin ingin mendapat pengalaman bekerja terlebih dahulu. Upah yang diperoleh juga dia tabung sebagian untuk biaya kuliahnya nanti.
“Saya juga ingin berkontribusi membangun desa,” Karlin merekah senyum.
Orang tua Karlin bekerja sebagai petani ladang. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu kini bisa membantu mencukupi kebutuhan di dalam rumah, membantu meringankan tanggungan orangtua dan “tidak perlu merantau lagi kalau sudah bekerja di sini, di kampung sendiri.”
Desa Hadakewa yang berada di Kecamatan Lebatukan adalah salah satu desa binaan Bank NTT yang sukses di Lembata. Omset sebulan dari tempat wisata itu bahkan mencapai puluhan juta. Ini merupakan salah satu sektor yang menopang perekonomian desa yang berjarak 20 kilometer dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata itu.
Bank NTT dan pemerintah desa Hadakewa sudah cukup lama bekerjasama dalam pengembangan wisata dan bidang lainnya.
"Jadi ada pengolahan ikan sama unit pariwisata. Untuk pariwisata ini Bank NTT sudah cukup membantu kami dari segi promosi, pelatihan, dan beberapa hal lainnya," kata Kepala Desa Hadakewa, Klemens Kwaman.
Pemberdayaan Masyarakat Desa
Pemerintah desa sejak awal mengusung konsep pemberdayaan karena menurutnya masyarakat tidak boleh jadi penonton. Mereka adalah pelaku wisata itu sendiri. Makanya, warga harus ambil bagian, apakah sebagai pekerja ataupun mengemban tugas lainnya.
"Pekerja di sini adalah masyarakat desa saya. Jadi kita terus melatih, dari Bank NTT juga support kami dalam memberikan pelatihan terhadap masyarakat saya," kata kepala desa yang sekarang menjabat di periode kedua.
Terkait menu lokal yang ditawarkan, Klemens menuturkan pilihan tersebut merupakan bagian dari keputusan pihaknya dalam menentukan arah pasar.
"Jadi setelah ini jadi kita pilih marketnya ini kemana, apakah ke kota atau ke desa. Masyarakat sekarang-kan, orang-orang kota maunya kembali ke yang menu lokal. Jadi menu-menu di sini seperti ikan bakar, nasi bakar, yah semua itu olahan-olahan lokal semua," papar Klemens.
Obyek wisata yang dibangun bertujuan menopang potensi yang ada di desa.
"Jadi misalnya kalau nelayan tangkap ikan mereka tidak langsung jual saja tapi bisa jual ke kami lalu diolah sehingga harganya dua kali lipat. Sehingga membuat pendapatan masyarakat menjadi lebih naik," pungkasnya.
Berita TribunFlores.Com lainnya di Google News